VIVA –Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu memerintahkan militer negaranya untuk memperluas penguasaan wilayah hingga mencakup 70 persen wilayah jalur Gaza. Langkah tersebut dinilai bertentangan dengan kesepakatan gencatan senjata yang mulai berlaku pada Oktober lalu dan sebelumnya bertujuan mengurangi operasi militer di wilayah tersebut.
"Sekarang kami terus menekan Hamas. Saat ini kami sudah menguasai 60 persen wilayah di Jalur Gaza," ujar Netanyahu dalam sebuah konferensi di permukiman Israel di Tepi Barat yang diduduki, berdasarkan video yang disiarkan Channel 12 Israel dikutip dari laman NDTV, Jumat 29 Mei 2026.
Ia menyebut, berdasarkan ketentuan gencatan senjata, militer Israel sebelumnya menguasai 50 persen wilayah Gaza. Namun kini, menurutnya, ia telah menginstruksikan pasukan untuk meningkatkan penguasaan hingga 70 persen wilayah.
"Kami menekan mereka dari segala arah. Sisanya akan kami selesaikan nanti," katanya.
Fase pertama gencatan senjata mencakup pembebasan sandera terakhir yang ditahan Hamas sejak serangan 7 Oktober 2023 ke Israel, yang menjadi pemicu perang di Gaza. Sebagai gantinya, Israel membebaskan warga Palestina yang ditahannya.
Namun, proses menuju fase kedua yang seharusnya mencakup pelucutan senjata Hamas dan penarikan bertahap tentara Israel hingga kini masih mandek selama berbulan-bulan.
Dalam kesepakatan gencatan senjata, pasukan Israel seharusnya mundur ke belakang garis yang disebut 'garis kuning', yakni batas pemisah antara wilayah yang dikuasai Hamas dan area yang dikendalikan militer Israel.
Pada 15 Mei lalu, Netanyahu juga mengumumkan bahwa militer Israel telah memperluas cengkeramannya di Jalur Gaza.
"Saat itu ada yang mengatakan keluar, keluar. Tapi kami tidak keluar. Hari ini kami menguasai berapa? 60 persen. Besok nanti kita lihat," ucapnya kala itu.
Hingga kini, Gaza masih dilanda kekerasan setiap hari. Militer Israel dan Hamas saling menuding telah melanggar gencatan senjata yang berlaku sejak 10 Oktober.
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza yang berada di bawah otoritas Hamas, lebih dari 900 orang tewas sejak gencatan senjata diberlakukan. Data kementerian tersebut dinilai kredibel oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Israel pada Rabu mengklaim telah membunuh pemimpin baru sayap bersenjata Hamas di Gaza, Mohammed Odeh, setelah sebelumnya menewaskan pendahulunya awal bulan ini.





