Partai Gerindra menyebut kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke sejumlah negara di Eropa merupakan bagian dari strategi menjaga keseimbangan geopolitik sekaligus mengamankan kepentingan ekonomi Indonesia.
Juru bicara Partai Gerindra Sugiat Santoso menilai anggapan lawatan luar negeri Presiden Prabowo sebagai pemborosan anggaran merupakan pandangan yang tidak utuh.
“Indonesia tidak sekadar berkunjung. Pak Prabowo sedang mengonversi keunggulan komoditas nikel dan posisi geopolitik kita menjadi investasi nyata dan benteng keamanan sebelum jendela peluang global ini tertutup,” ujar Sugiat dalam keterangannya, Jumat (29/5).
Sugiat menjelaskan, dalam kerangka politik luar negeri bebas-aktif, Presiden Prabowo menerapkan apa yang ia sebut sebagai diplomasi ofensif, yakni strategi proaktif dalam membangun aliansi dan menetapkan agenda global.
Ia menambahkan, langkah Prabowo di panggung internasional menunjukkan posisi Indonesia yang lebih percaya diri dalam menentukan arah kebijakan luar negeri.
“Prabowo melangkah lebih awal sebelum didikte oleh negara lain. Dia mengambil posisi tegas dalam menyatakan kedaulatan, posisi politik, dan membela warga negaranya dengan terukur,” ujarnya.
Lanjut ke Austria dan HungariaSugiat mengungkapkan, dalam rangkaian kunjungan akhir Mei 2026 ini, Presiden Prabowo dijadwalkan mengunjungi tiga negara Eropa. Setelah dari Prancis, Prabowo akan ke Austria dan Hungaria.
Ia menjelaskan Prancis memiliki peran penting dalam kerja sama pertahanan dan teknologi.
“Kedekatan politik yang dibangun bertahap melalui kunjungan berulang adalah syarat mutlak dalam bekerja sama dengan Macron,” katanya.
Sementara Austria disebut sebagai pusat industri manufaktur presisi Eropa, sedangkan Hungaria menjadi salah satu hub penting pengembangan industri baterai kendaraan listrik di Uni Eropa.
Sedangkan Hungaria adalah pusat agresif pembangunan gigafactory baterai EV di Uni Eropa (tempat berkumpulnya raksasa seperti Samsung SDI dan CATL). Ia menyebut, masuk ke Hungaria berarti mengunci posisi Indonesia dalam rantai pasok baterai masa depan Eropa dari pintu yang paling terbuka.
Sugiat menekankan Indonesia memiliki posisi strategis sebagai penguasa cadangan nikel dunia, yang sangat dibutuhkan dalam industri transisi energi Eropa.
“Pak Prabowo datang ke sana bukan sebagai peminta-minta bantuan, tetapi sebagai pemilik komoditas strategis yang menentukan masa depan industri otomotif dunia,” katanya.
Ia menilai momentum transisi global menuju kendaraan listrik harus dimanfaatkan Indonesia secara cepat sebelum teknologi baterai bergeser ke material lain.
Sugiat juga menyebut rangkaian kunjungan ke Paris, Wina, dan Budapest merupakan upaya mempercepat kesepakatan investasi dan hilirisasi.
Di sisi lain, ia menegaskan kunjungan ke Prancis juga berkaitan dengan penguatan kerja sama pertahanan dan akses teknologi militer.
Menurutnya, kebijakan luar negeri Indonesia saat ini mencerminkan prinsip bebas-aktif yang dijalankan secara seimbang di berbagai poros kekuatan dunia.
“Kunjungan ke Prancis ini bukti nyata politik Bebas-Aktif yang berwibawa. Indonesia tidak mengekor ke Amerika, tidak tunduk ke China, dan tidak takut pada tekanan NATO saat berhubungan dengan Rusia demi mengamankan pasokan minyak dan LPG murah untuk rakyat,” kata Sugiat.
“Pak Prabowo sedang mempraktikkan hedging (keseimbangan geopolitik) tingkat tinggi agar Indonesia tidak bisa diabaikan oleh kekuatan dunia mana pun,” timpalnya.
Ia menyatakan, Prabowo saat ini bukan hanya melakukan diplomasi seremonial, melainkan memperkuat Indonesia.
“Indonesia sedang dipimpin oleh seorang Patriot yang tahu persis bagaimana cara memenangkan kepentingan nasional di luar negeri. Menilai keberhasilan diplomasi internasional dari hasil beberapa minggu atau bulan adalah cara berpikir yang tidak logis,” katanya.
“Pak Prabowo adalah seorang negarawan. Negarawan memberikan apa yang dapat diberikan kepada negara, sedangkan politisi mencari apa yang bisa diperoleh dari negara,” pungkas dia.





