Pigai, Hatimu Terbuat dari Apa?

detik.com
10 jam lalu
Cover Berita
Jakarta -

Di negeri yang begitu sering berbicara tentang persatuan, ada satu ironi yang diam-diam tumbuh seperti lumut di dinding kebangsaan kita, sebagian orang masih merasa berhak menghina manusia lain hanya karena warna kulitnya, rambutnya, atau asal-usulnya.

Dan setiap kali saya melihat Natalius Pigai dihantam hinaan rasis, saya selalu sampai pada pertanyaan yang sama: "Pigai, hatimu terbuat dari apa?"

Sebab tidak mudah menjadi manusia yang terus-menerus dihujani kebencian, lalu tetap berdiri tanpa kehilangan akal sehat dan kemanusiaannya. Tidak mudah hidup di ruang publik ketika orang tidak lagi menyerang pikiranmu, melainkan eksistensimu sebagai manusia.

Rasisme adalah bentuk penghinaan paling purba. Ia tidak peduli siapa dirimu, apa pencapaianmu, seberapa keras perjuanganmu. Ia hanya ingin mengatakan satu hal yang kejam, "Kau tidak layak dihormati karena kau terlahir berbeda."

Dan betapa menyedihkan, kalimat semacam itu masih hidup di republik yang katanya berdiri di atas kemanusiaan.

Tetapi ada sesuatu yang menarik dari Pigai. Semakin ia dihina, semakin terlihat bahwa yang rapuh bukan dirinya, melainkan mereka yang membencinya.

Karena manusia yang kuat secara moral tidak membutuhkan penghinaan untuk merasa besar. Hanya mereka yang memiliki jiwa kecil, yang sibuk merendahkan orang lain demi menutupi kekosongan dalam dirinya sendiri.

Orang-orang mungkin berpikir bahwa kata-kata kasar di media sosial dapat menjatuhkan Pigai. Salah besar. Mereka lupa: seseorang yang sudah lama hidup bersama luka biasanya belajar menjadi lebih tahan terhadap badai.

Orang Papua telah terlalu lama akrab dengan stereotip, curiga, dan penghinaan. Dan mungkin karena itulah Pigai tampak seperti batu karang, dihantam ombak berkali-kali tetapi tetap berdiri.

"Pigai tidak akan tumbang karena rasisme."

Sebab rasisme hanya mampu melukai permukaan, tetapi tidak pernah cukup kuat untuk menghancurkan manusia yang sudah berdamai dengan dirinya sendiri. Yang hancur justru para pembenci itu. Sedikit demi sedikit.

Karena setiap kebencian yang dilemparkan kepada orang lain sesungguhnya sedang memperlihatkan kerusakan batin si pelempar. Setiap hinaan rasial bukan cermin bagi korban, tetapi cermin bagi pelaku.

Dari sana kita melihat betapa miskinnya empati, betapa rapuhnya moral, dan betapa dangkalnya cara sebagian orang memahami kemanusiaan.

Pigai mungkin dicaci. Tetapi cacian tidak pernah otomatis membuat seseorang hina.

Ada satu pepatah sederhana yang terasa begitu tepat, dicaci tak akan masuk kotak sampah, dipuji tak akan jadi rembulan.

Manusia tidak menjadi kotor hanya karena dihina. Dan manusia tidak otomatis mulia hanya karena dipuji. Nilai seseorang tidak ditentukan oleh riuh komentar publik, melainkan oleh kualitas moral yang ia pegang ketika menghadapi hidup.

Dan sejauh ini, "justru Pigai yang memperlihatkan ketahanan moral itu." Ia tetap bicara. Tetap hadir. Tetap melawan gagasan dengan gagasan.

Sementara sebagian orang memilih bersembunyi di balik anonimitas media sosial untuk melempar penghinaan rasial yang bahkan tidak membutuhkan keberanian intelektual sedikit pun.

Kadang saya berpikir, mungkin kekuatan terbesar bukanlah kemampuan membalas kebencian, tetapi kemampuan untuk tidak berubah menjadi pembenci meski terus disakiti. Dan di situlah Pigai tampak lebih kuat daripada banyak orang.

Karena kebencian selalu ingin menular. Ia berharap orang yang dihina akan ikut menjadi pahit, marah, dan kehilangan kemanusiaannya.

Tetapi ketika seseorang tetap bertahan dengan martabatnya, tetap memilih tenang, tetap memilih melanjutkan hidup tanpa tenggelam dalam dendam, di situlah kebencian sebenarnya kalah.

Kindness always wins. Kebaikan mungkin tidak selalu menang cepat. Kadang ia tampak sunyi, kalah ramai dibanding kebencian, tetapi pada waktunya AKAN MENANG.

Tetapi sejarah selalu membuktikan, manusia dikenang bukan karena seberapa keras ia membenci, melainkan seberapa besar ia menjaga kemanusiaannya ketika dunia berlaku tidak adil padanya. Dan mungkin itulah yang sedang terjadi pada Pigai.

Orang-orang boleh terus menghina warna kulitnya, tetapi mereka tidak pernah berhasil menggelapkan pikirannya. "Mereka boleh menyerang wajahnya, tetapi tidak mampu meruntuhkan keberaniannya."

Sebab yang membuat seseorang tegak bukan warna kulit, melainkan kekuatan moralnya.

Sementara mereka yang sibuk menyebar rasisme sebenarnya sedang memperlihatkan satu hal yang menyedihkan: betapa rapuh isi hati mereka sendiri. Karena manusia yang berdamai dengan dirinya tidak punya kebutuhan untuk merendahkan manusia lain.

Maka pada akhirnya, pertanyaan "Pigai, hatimu terbuat dari apa?" mungkin tidak lagi terdengar sebagai rasa iba. Ia berubah menjadi kekaguman.

Kagum karena di tengah begitu banyak penghinaan, ia tetap kokoh berdiri sebagai manusia. Dan lebih dari itu, ia tetap memilih tidak kehilangan kemanusiaannya.

Dony Karno, Pegiat Kemanusiaan Masyarakat Desa




(akn/ega)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pemerintah Pangkas Pajak Penulis Buku Jadi 1,5 Persen, Gen Z Makin Semangat Nulis?
• 16 jam lalumedcom.id
thumb
Pria Tewas Usai Loncat dari Jembatan ke Jalan Tol Cawang Jaktim
• 3 jam laludetik.com
thumb
Dugaan Tipu Calon Jemaah Umrah, Bos Hanania Diperiksa di Polda Metro
• 5 jam laludetik.com
thumb
Aturan Baru Masuk SD, Kemendikdasmen: Tidak Harus 7 Tahun dan Punya Ijazah TK
• 4 jam lalunarasi.tv
thumb
Menwa Jayakarta dan Sahabat Rizky Irmansyah Salurkan Sapi Kurban 1 Ton
• 23 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.