Penjelasan Polisi soal Waktu Kematian Satu Keluarga saat Glamping di Temanggung

kumparan.com
8 jam lalu
Cover Berita

Satu keluarga yang tewas saat glamping di Posong, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, diduga meninggal dunia pada malam atau pagi hari.

Kasat Reskrim Polres Temanggung, AKP Komang Mahendra Deputra mengatakan, meski belum diketahui waktu yang pasti namun sudah ada perkiraan waktu kematiannya.

"Waktu belum bisa dipastikan. Kemungkinan saat malam sampai pagi hari," ujar Mahendra, Jumat (29/5).

Namun, ia mengungkap, ada jangka waktu yang cukup lama antara waktu kematian dengan waktu ditemukannya keempat jenazah korban.

"Nggih betul (ada jeda 12 jam sebelum ditemukan)," jelas dia.

Mereka sampai di glamping pada Selasa, 26 Mei 2026 sekitar pukul 21.05 WIB. Jasad keempatnya ditemukan petugas pada Rabu (27/5) pukul 15.30 WIB karena tidak ada respons dari para korban ketika waktu sewa habis.

Petugas lalu terpaksa membuka dan menemukan keempat korban sudah terbujur kaku.

Polisi juga sudah meminta keterangan dari pengelola tempat glamping yang disewa para korban.

"Saksi yang diperiksa dari pihak pengelola, ada 4 orang," sebut dia.

Terkait apakah ada unsur kelalaian dari pihak pengelola glamping, kepolisian masih menunggu hasil dari pemeriksaan forensik.

"Terkait hal tersebut kami masih melaksanakan pemeriksaan dan menunggu hasl dari laboratorium ya," kata Mahendra.

Sebelumnya, satu keluarga yang terdiri dari ayah Muhamad Ali Munawar (52), ibu Maghfirah (43), anak sulung Bagas Amar Hakiki (21), serta anak bungsu mereka Alvino Evan Hakim (16) ditemukan meninggal pada Rabu (27/5) sore.

Mereka awalnya menginap di tenda glamping di objek wisata Posong, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, sejak Selasa, 26 Mei 2026 sekitar pukul 21.05 WIB.

Namun, keesokan harinya atau pada Rabu (27/5) tidak ada respons dari para korban ketika waktu sewa habis. Petugas lalu terpaksa membuka pintu pada pukul 15.30 WIB dan menemukan keempat korban sudah terbujur kaku.

Polisi menduga kematian mereka disebabkan karena paparan gas karbon monoksida (CO) yang berasal dari gas portabel atau gas dari tabung portabel saat mereka sedang barbeque-an atau membakar daging.

Gas CO (Karbon Monoksida) adalah gas beracun yang tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak berasa. Gas ini terbentuk dari pembakaran tidak sempurna bahan bakar yang mengandung karbon, seperti bensin, kayu, atau gas.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Peringatan Hari Lahir Pancasila 2026 Digelar di Gedung Pancasila, Ini Alasannya
• 8 jam lalurctiplus.com
thumb
Iduladha 1447 H, Pertamina Patra Niaga Bagikan Ribuan Paket Daging Kurban
• 1 jam lalutvonenews.com
thumb
S&P 500 hingga Nasdaq Pecah Rekor, Pasar Sambut Positif Negosiasi AS-Iran
• 14 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Kemenkum dorong Pancasila jadi "living ideology" di ruang digital
• 17 menit laluantaranews.com
thumb
Korban Tewas Akibat Serangan Israel di Gaza Tembus 72 Ribu Orang
• 23 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.