Rupiah Kembali Tersungkur Sentuh Rp17.879 per Dolar AS, Sentimen Fiskal Bayangi Pasar

bisnis.com
12 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari Jumat (22/5/2026) di tengah kekhawatiran pasar terhadap tekanan fiskal dan arus keluar modal yang berkelanjutan.

Berdasarkan data tradingview, rupiah ditutup melemah sebesar 0,53% ke level Rp17.879.

Pelemahan mata uang Garuda terhadap dolar AS sejalan dengan depresiasi mayoritas mata uang Asia lainnya. Hal ini ditunjukkan dari dolar Singapura terhadap dolar AS yang melemah 0,20%, won Korea melemah 1%, dolar Hong Kong ikut melemah 0,01%. 

Ringgit Malaysia juga terdepresiasi terhadap dolar AS sebesar 0,38%, baht Thailand melemah 0,01%, dan peso Filipina turut terdepresiasi 0,24%.

Sementara itu, yuan China terhadap dolar AS mengalami penguatan 0,17%, dolar Taiwan menguat 0,10%, dan rupee India menguat 0,37%. Sementara yen Jepang terhadap dolar AS terpantau stagnan. 

Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan dan ditutup melemah ke level Rp17.882 per dolar Amerika Serikat (AS) di tengah kombinasi sentimen domestik dan global yang masih membayangi pasar keuangan.

Baca Juga

  • Rupiah Melemah ke Rp17.860 di tengah Meredanya Tensi Iran-AS
  • Pemerintah Tahan Harga BBM Bersubsidi, Rupiah yang Tanggung Beban?
  • Sektor Riil Hadapi Tekanan Ganda dari Rupiah dan BI Rate, Ini Strategi Dunia Usaha

Pelemahan rupiah terjadi meskipun dolar AS sebenarnya mulai kehilangan tenaga setelah muncul harapan baru terkait potensi gencatan senjata di kawasan Timur Tengah. Namun, tekanan dari dalam negeri dinilai masih lebih dominan membebani pergerakan mata uang Garuda.

Dia menilai kekhawatiran terhadap kondisi fiskal domestik serta arus keluar modal asing yang masih berlangsung menjadi faktor utama yang menekan rupiah dalam beberapa hari terakhir.

Memasuki perdagangan awal pekan depan, perhatian investor akan tertuju pada sejumlah data ekonomi penting Indonesia. Mulai dari inflasi hingga neraca perdagangan. Data tersebut akan menjadi indikator penting untuk membaca daya tahan ekonomi domestik di tengah tekanan eksternal yang masih tinggi.

Selain faktor domestik, pasar juga menunggu serangkaian data ekonomi utama AS, seperti indeks manufaktur ISM dan data tenaga kerja nonfarm payrolls (NFP), yang dapat memberikan petunjuk arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Fed.

"Untuk perdagangan pekan depan, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp17.800 hingga Rp17.950 per dolar AS," tulisnya Jumat (29/5/2026).

INDONESIAN RUPIAH / U.S. DOLLAR - TradingView

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Isu Bengkel Hercules Kertajati Jadi Pangkalan AS, Mahfuz Sidik dan DPR Beda Pandangan | BOLA LIAR
• 21 menit lalukompas.tv
thumb
Lampu Kuning Pasar Kerja RI, Lowongan Sektor Formal Makin Langka
• 20 jam lalubisnis.com
thumb
Pecah Rekor! Dhea Natasya Cetak Sejarah untuk Indonesia, Tembus Elite Dunia WSL Longboard Tour
• 7 jam laluviva.co.id
thumb
Download Tema dan Logo Hari Lansia Nasional 2026 Kementerian Sosial
• 16 jam lalukumparan.com
thumb
Kemnaker Buka Program Vokasi Nasional Batch 2 di Berbagai Daerah
• 16 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.