Lulusan Astronomi hingga Meteorologi Paling Banyak Bekerja Tak Sesuai Jurusan

kumparan.com
7 jam lalu
Cover Berita

Ketidaksesuaian pekerjaan dengan latar belakang pendidikan (horizontal mismatch) menjadi sebuah fenomena di Indonesia yang tidak bisa dipungkiri. Sebab, kesempatan kerja bagi lulusan pendidikan tertentu kerap kali jumlahnya tak sebanding.

kumparan menemukan deretan prodi di Indonesia yang lulusannya paling selaras dan tidak selaras dengan pekerjaan saat ini. Kami melakukan scraping data dari statistik tracer study di website Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti) terhadap 127 PTN se-Indonesia. PTN di sini meliputi universitas, institut, sekolah tinggi, maupun politeknik.

Tracer study adalah survei pelacakan rekam jejak lulusan perguruan tinggi yang dikelola Kemendikti. Survei ini wajib diisi alumni dua tahun setelah kelulusan untuk mengevaluasi kesesuaian kurikulum dengan dunia kerja, sekaligus menjadi salah satu syarat akreditasi.

Data yang kami gunakan merupakan akumulasi hasil survei dari 2022 hingga 2025. Karena setiap program studi memiliki jumlah responden yang berbeda-beda, kami menormalisasi data berdasarkan nama program studi. Tujuannya sekaligus untuk mencermati prospek tiap prodi secara nasional.

Pendidikan dokter UI dan ilmu kedokteran UGM, misalnya, dihitung sebagai satu kelompok prodi "kedokteran". Untuk menjaga keandalan analisis, hanya program studi dengan minimal 50 responden yang kami sertakan.

Astronomi Paling Tidak Selaras dengan Pekerjaan, PAUD Islam Paling Selaras

Pada jenjang sarjana di Perguruan Tinggi Negeri (PTN), Astronomi menjadi prodi yang lulusannya paling tidak selaras dengan pekerjaan. Persentasenya mencapai 75,64 persen. Lalu, disusul dengan prodi Sains Atmosfer & Keplanetan yang mengalami ketidakselarasan pekerjaan mencapai 74,03 persen.

Prodi Astronomi hanya tersedia di Institut Teknologi Bandung (ITB). Sementara Sains Atmosfer dan Keplanetan hanya ada di Institut Teknologi Sumatera (ITERA).

Prodi Teknologi & Manajemen Perikanan Tangkap juga mengalami ketidakselarasan dengan pekerjaan yang mencapai angka 62,84 persen. Metereologi berada di urutan ke-4 dengan ketidakselarasan yang cukup tinggi sebesar 62,22 persen.

Sementara itu, pada prodi jenjang sarjana di PTN, Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PAUD Islam) jadi jurusan dengan lulusan paling sesuai atau 100 persen matched dengan pekerjaan yang diambil. Prodi ini hanya ditawarkan di Universitas Singaperbangsa Karawang.

Artinya, jika kamu mengambil prodi Pendidikan Islam Anak Usia Dini, kamu tak perlu khawatir, sebab pekerjaan yang kamu ambil nantinya akan sangat sesuai dengan latar belakang pendidikanmu.

Kedokteran maupun kedokteran hewan juga tercatat sebagai prodi dengan keselarasan tertinggi. Prodi kedokteran memiliki angka keselarasan mencapai 96,09 persen. Ada 22 kampus PTN yang menyediakan prodi tersebut. Di antaranya adalah UI, UGM, Unpad, hingga Unhas.

Sementara itu, prodi kedokteran hewan memiliki angka keselarasan mencapai 95,39 persen. Ada 11 PTN yang menyediakan prodi tersebut. Di antaranya adalah IPB, UGM, Unair, hingga Unsyiah.

Melihat Keselarasan di Vokasi

Berbeda dengan jenjang sarjana di PTN, prodi vokasi PTN dengan ketidakselarasan pekerjaan paling tinggi adalah teknik kemasan, mencapai 67,86 persen. Kemudian, terdapat prodi demografi dan pencatatan sipil dengan tingkat ketidakselarasan mencapai 66,23 persen.

Sementara itu, pada jenjang vokasi PTN, administrasi jadi jurusan dengan lulusan yang paling sesuai atau 100 persen matched dengan pekerjaan yang diambil saat ini.

Tak hanya administrasi, prodi manajemen pelabuhan dan logistik maritim juga menjadi jurusan yang paling matched dengan pekerjaan yang diambil. Keselarasannya mencapai 100 persen.

Kemudian, terdapat prodi teknologi rekayasa konstruksi bangunan gedung yang keselarasannya dengan pekerjaan mencapai 98,33 persen. Perancangan Manufaktur memiliki keselarasan pekerjaan hingga 98,18 persen.

Ketidakselarasan Prodi-prodi Saintek di Jenjang Sarjana Lebih Tinggi

Data tracer study Kemendiktisaintek 2022–2025 menunjukkan mayoritas lulusan sarjana PTN bekerja di bidang yang masih selaras dengan rumpun studi mereka. Hal ini dapat dilihat dari pengelompokan soshum dan saintek yang kami lakukan terhadap prodi-prodi yang disediakan di website Kemendiktisaintek.

Dalam grafik perbandingan mismatch horizontal tersebut, rumpun soshum unggul dalam hal keselarasan kerja. Sebanyak 83,36% lulusan Soshum berhasil bekerja di bidang yang sesuai dengan jurusannya, dengan angka ketidakselarasan yang relatif kecil, yaitu hanya 16,64%.

Sebaliknya, rumpun saintek mencatatkan angka keselarasan yang lebih rendah, yakni di angka 78,26%. Hal ini berbanding lurus dengan tingkat ketidakselarasan (mismatch) lulusan Saintek yang menyentuh angka 21,74%, signifikan lebih tinggi dibanding kelompok Soshum.

Selain mengelompokkan prodi-prodi itu ke dalam rumpun soshum dan saintek, kami juga mengklasifikasikannya ke dalam bidang-bidang keilmuan. Mulai dari bidang ekonomi, kesehatan, pendidikan, hingga pertanian. Bidang pertanian di sini meliputi ilmu-ilmu peternakan maupun ilmu-ilmu perikanan.

Berdasarkan analisis yang kami lakukan, bidang pertanian menjadi bidang dengan tingkat ketidakselarasan tertinggi sebesar 33,53 persen, diikuti MIPA (30,06 persen) dan humaniora (29,53 persen).

Cerita Lulusan Astronomi ITB yang Bidang Kerjanya Selaras

Kami bertanya kepada Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika BRIN, Thomas Djamaludin, soal lulusan astronomi yang bidang pekerjannya tidak selaras. Kata Thomas, sejak awal lulusan astronomi memang tidak sepenuhnya melanjutkan profesi sesuai ilmunya itu. Namun, menurutnya, bekal komputasi hingga logika sains bisa jadi modal untuk bekerja di bidang lain.

"Sejak awal sudah disadari bahwa lulusan astronomi tidak sepenuhnya bisa berprofesi terkait astronomi, dosen astronomi atau ilmu falak, periset astronomi/antariksa, atau guru sains. Oleh karenanya, bekal metode ilmiah yang terstruktur, komputasi, dan logika sains diharapkan bisa menjadi bekal untuk memasuki beragam dunia kerja," kata Thomas kepada kumparan, Selasa (26/5).

Meski begitu, Thomas bercerita bahwa calon mahasiswa astronomi kerap mempunyai idealisme tentang pekerjaan impiannya. Sebagian ada yang mempunyai mimpi untuk menjadi astronom atau ilmuwan antariksa.

"Namun, sebagian besar belum memikirkan profesi yang akan dituju, masih fokus untuk menguasai ilmunya," jelas Thomas.

"Ketika mulai memilih tugas akhir, biasanya mulai berpikir untuk menggabungkan minatnya dan rencana pekerjaan yang dituju. Ada yang tetap fokus pada aspek sains-astronomis. Ada yang fokus memperkuat kemampuan komputasi dan teknologi informasi yang biasanya terkait riset teoretik modelling," lanjut dia.

Thomas lalu membagikan link blog pribadinya kepada kumparan. Dalam blog tersebut, Thomas memaparkan kisahnya memulai menekuni dunia astronomi.

"Sejak duduk di bangku SMP, guru pernah memerintahkan untuk menuliskan cita-cita. Saya pun menulis menjadi seorang "peneliti". Sejak kecil memang saya mempunyai keingintahuan yang besar dan berupaya mencari jawabannya sendiri. Waktu SMP kelas 3 terbit majalah “Mekatronika” dan “Scientiae” yang dalam beberapa edisinya membahas tentang UFO (Unidentified Flying Objects) dan antariksa. Saya tertarik untuk menulis artikel “UFO Bagaimana Menurut Agama," tulis Thomas dikutip dari blog pribadinya.

Tulisan tentang astronomi pertamanya pun berhasil masuk majalah Scientia ketika Thomas duduk di bangku SMA.

"Saat masuk SMA Negeri 2 Cirebon, saya banyak melakukan riset di perpustakaan sekolah yang kebetulan cukup lengkap. Rujukan utama tentang universe dan astronomy saya dapatkan dari Encyclopedia Americana dan akhirnya artikel saya berhasil terbit di majalah Scientiae," jelasnya.

Dari situ, Thomas pun memantapkan hatinya untuk mendalami tentang Astronomi dan memilih berkuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB).

"Ketika ada tawaran Proyek Perintis II (masuk perguruan tinggi tanpa tes, termasuk ITB) pada 1981, saya ikut mendaftar dan dalam surat permohonan langsung saya tuliskan keinginan saya masuk jurusan astronomi. Saya sudah memantapkan diri untuk menjadi peneliti astronomi. Alhamdulillah, saya diterima di ITB," tutur Thomas.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
ITB Ungkap Tesis Prihantini soal Gelombang Air, Bukan Pneumonia
• 12 jam lalukumparan.com
thumb
Jelang MotoGP Italia, Marc Marquez Buka-bukaan Soal Cedera Sarafnya
• 23 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Gempa Bumi Magnitudo 4,6 Guncang Tenggara Sinabang Aceh
• 15 jam lalurctiplus.com
thumb
Usai Lempar Jumrah, Jemaah Haji Lakukan Tahallul Gundulkan Kepala
• 49 menit lalumetrotvnews.com
thumb
Prabowo Instruksikan Bahasa Prancis Diajarkan di Sekolah, DPR Singgung soal Manfaat
• 11 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.