Pernahkah kamu memperhatikan bagaimana seorang anak kecil meniru cara ayahnya berjalan? Atau meniru cara ayahnya berbicara? Bahkan, cara ayahnya tertawa pun bisa tercetak rapi dalam diri sang anak. Itulah kekuatan keteladanan. Dan kalau tiruan soal cara berjalan saja sekuat itu, bayangkan betapa dalamnya pengaruh ayah dalam hal yang jauh lebih besar: iman.
Kita sering bicara soal peran ibu dalam membentuk karakter anak. Ibu memang istimewa, tak ada yang membantah itu. Namun, sering kali peran ayah dalam urusan iman justru luput dari perhatian. Ayah dianggap cukup kalau sudah mencari nafkah, membayar sekolah, dan sesekali hadir di meja makan. Padahal, dalam soal iman anak, ayah punya posisi yang tak tergantikan.
Anak Melihat Sebelum MendengarInilah yang perlu dipahami lebih dalam oleh para ayah agar anak-anak belajar bukan terutama dari kata-kata, melainkan dari apa yang mereka lihat. Seorang ayah yang rajin mengajak anak ke tempat ibadah—yang terdengar lantunan doanya di pagi hari, yang berbicara jujur meski rugi, yang bersabar meski lelah—terekam dalam memori anak jauh lebih kuat daripada ceramah satu jam sekalipun.
Anak yang melihat ayahnya sujud dengan khusyuk akan bertanya-tanya: Apa yang membuat ayah begitu tenang di sana? Pertanyaan itu adalah benih. Dan benih itu tumbuh diam-diam, menjadi keyakinan yang kelak menopang mereka di saat-saat paling berat dalam hidup.
Ketika Ayah Absen dari Urusan ImanSebaliknya, apa yang terjadi ketika ayah hadir secara fisik tapi absen secara spiritual? Anak tumbuh dengan pesan yang membingungkan: iman itu penting diucapkan, tapi tidak perlu benar-benar dijalani. Mereka melihat bahwa urusan agama cukup diserahkan ke ibu, guru ngaji, atau ke sekolah, sementara ayah sibuk dengan hal-hal yang tampak lebih nyata.
Tanpa sadar, kita sedang menanamkan kesan bahwa iman adalah urusan pinggiran, bukan pusat kehidupan. Dan kesan itu susah sekali dihapus setelah anak beranjak dewasa.
Banyak ayah merasa tidak layak menjadi teladan iman karena merasa dirinya masih banyak kurang. Masih sering lalai salat, masih punya kebiasaan yang belum sepenuhnya baik. Namun perlu diluruskan: keteladanan bukan berarti menjadi sempurna. Keteladanan adalah tentang kesungguhan—anak melihat bahwa ayahnya berusaha, bahwa ayahnya mau berubah, dan bahwa ayahnya tidak menyerah saat jatuh.
Ayah yang jujur berkata kepada anaknya, "Tadi Ayah khilaf, Ayah minta maaf ya, kita sama-sama belajar". Itu justru keteladanan yang luar biasa. Karena ia mengajarkan bahwa iman bukan topeng kesempurnaan, melainkan perjalanan yang berkelanjutan.
Mulai dari Hal KecilMenjadi ayah yang meneguhkan iman anak tidak harus dimulai dari yang besar. Cukup mulai dari yang kecil: salat berjamaah bersama di rumah, membaca doa sebelum makan sambil mengajak anak ikut, mendongeng tentang kisah-kisah orang beriman sebelum tidur, atau sesederhana berkata "Alhamdulillah" ketika mendapat rezeki.
Hal-hal kecil itu—jika dilakukan dengan konsisten dan dengan hati yang tulus—akan menumpuk menjadi fondasi yang kokoh.
Ayah yang meneguhkan iman anak bukan hanya ayah yang membiayai pendidikan agama anaknya. Ia adalah ayah yang hidup di dalam nilai-nilai yang ia ajarkan. Rumah yang dipimpin oleh ayah seperti itu adalah rumah yang hangat—bukan hanya secara jasmani, melainkan juga secara rohani.
Karena pada akhirnya, anak tidak butuh ayah yang sempurna. Mereka butuh ayah yang sungguh-sungguh. Dan kesungguhan itulah yang akan mereka bawa hingga akhir hayat, jauh setelah ayah tak lagi bisa menemani mereka.
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi para ayah di mana pun berada.





