Kinerja Ekspor Kendaraan Topang Industri Otomotif Nasional saat Daya Beli Melemah

bisnis.com
6 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Kinerja ekspor kendaraan bermotor roda empat diperkirakan masih menjadi penopang utama bagi industri otomotif nasional, di tengah tekanan yang berasal dari ketidakpastian global dan belum pulihnya daya beli masyarakat di dalam negeri.

Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Putu Juli Ardika mengakui pelemahan nilai tukar rupiah di kisaran Rp17.800 per dolar Amerika Serikat (AS) menjadi tantangan bagi industri otomotif, terutama bagi pabrikan yang masih bergantung pada komponen impor.

Meski demikian, Putu menilai pelemahan rupiah tidak selalu berdampak negatif. Di sisi lain, kondisi tersebut justru dapat meningkatkan daya saing produk otomotif Indonesia di pasar ekspor.

“Bahkan pelemahan rupiah juga dapat meningkatkan daya saing ekspor ke berbagai negara. Dengan kombinasi produksi lokal dan daya saing ekspor, kami melihat masih ada peluang besar untuk mendorong pertumbuhan industri otomotif nasional," jelas Putu di Jakarta, dikutip Jumat (29/5/2026).

Berdasarkan data Gaikindo, ekspor mobil utuh atau completely built up (CBU) selama Januari-April 2026 mencapai 159.662 unit. Jumlah tersebut meningkat 10,4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebanyak 144.652 unit. Ekspor mampu tumbuh bangkit di mana pada Januari-April 2025 ekspor kendaraan terkorek 1,7% YoY.

Tidak hanya kendaraan utuh, ekspor kendaraan dalam bentuk completely knocked down (CKD) atau terurai lengkap juga menunjukkan pertumbuhan yang agresif. Hingga April 2026, volume ekspor CKD mencapai 25.791 set atau melesat 76,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca Juga

  • Tekanan Ganda Sektor Otomotif, Dilema Kelas Menengah Belanja Mobil
  • Pembiayaan Otomotif Masih Jadi Sandaran
  • Laju Pemulihan Pasar Otomotif Dibayangi Efek Kenaikan BI Rate

Menurut Putu, tren tersebut memperlihatkan daya saing industri otomotif nasional masih relatif kuat meskipun menghadapi tekanan eksternal. Dia menilai ekspor dapat menjadi modal penting untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai basis produksi kendaraan di kawasan Asia Tenggara.

“Dengan memproduksi kendaraan secara lokal, kita dapat memperkuat struktur industri nasional dan membuka lapangan kerja, sekaligus mendorong mereka untuk melakukan ekspor dari Indonesia ke pasar global,” ujarnya.

Lebih lanjut, dia menyebut kehadiran sejumlah merek baru yang berkomitmen membangun fasilitas produksi di Indonesia berpotensi memperbesar kapasitas ekspor nasional dalam beberapa tahun ke depan. Beberapa di antaranya yakni BYD dari China dan VinFast asal Vietnam.

Sementara itu, pasar domestik masih mencatatkan pertumbuhan positif meskipun menghadapi berbagai tantangan. Sepanjang Januari-April 2026, penjualan wholesales mobil tercatat sebanyak 289.787 unit atau meningkat 12,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Adapun penjualan ritel mobil nasional mencapai 287.581 unit selama empat bulan pertama tahun ini, atau tumbuh 6,9% secara tahunan.

Tekanan Daya Beli

Di sisi lain, pemulihan pasar otomotif domestik dinilai belum akan berlangsung dalam jangka panjang. Sebab, tekanan terhadap daya beli masyarakat masih membayangi, terutama setelah pelemahan rupiah dan kenaikan suku bunga acuan.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai keputusan Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap pasar otomotif nasional.

Menurutnya, kondisi tersebut mulai mengubah perilaku konsumen, terutama kelompok kelas menengah yang selama ini menjadi salah satu motor utama penjualan kendaraan di Indonesia.

"Jika suku bunga acuan yang lebih tinggi bertahan cukup lama, biaya dana perbankan dan perusahaan pembiayaan akan naik, lalu berpotensi diteruskan ke bunga kredit kendaraan bermotor," ujar Josua kepada Bisnis, dikutip Jumat (29/5/2026).

Konsekuensinya, kenaikan cicilan kredit dapat membuat konsumen kelas menengah maupun pembeli kendaraan pertama memilih menunda pembelian, beralih ke segmen kendaraan yang lebih murah, atau mempertimbangkan kendaraan bekas.

Josua menilai pemerintah perlu menjaga daya beli masyarakat melalui kebijakan yang lebih terarah. Menurutnya, stabilitas harga energi dan logistik menjadi faktor penting untuk menjaga minat masyarakat terhadap pembelian kendaraan.

"Insentif sebaiknya difokuskan pada kendaraan yang memiliki kandungan lokal tinggi, kendaraan hemat energi, kendaraan niaga produktif, dan kendaraan listrik yang sudah mulai membangun rantai pasok domestik, bukan sekadar memberi insentif untuk barang impor utuh," jelasnya.

Selain itu, dia menilai pemerintah perlu mempercepat pengembangan industri komponen, baterai, dan suku cadang lokal agar dampak pelemahan rupiah terhadap harga kendaraan dapat diminimalkan. Di saat yang sama, ruang fiskal juga perlu dijaga mengingat tekanan dari subsidi energi dan biaya pembiayaan yang masih tinggi.

Penguatan Basis Produksi

Dari sisi manufaktur, PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) tengah memperkuat basis produksi lokal sebagai bagian dari strategi peningkatan ekspor, termasuk melalui pengembangan industri baterai kendaraan listrik.

Presiden Direktur TMMIN Nandi Julyanto mengatakan perusahaan menyiapkan investasi sekitar Rp1,3 triliun untuk meningkatkan kapasitas produksi battery assy pack sekaligus mengembangkan produksi sel dan modul baterai secara terintegrasi.

Langkah tersebut membuka peluang bagi Indonesia untuk tidak hanya menjadi pasar kendaraan elektrifikasi, tetapi juga basis produksi komponen utama yang memiliki nilai tambah tinggi dan berorientasi ekspor.

Saat ini TMMIN telah memproduksi battery pack di fasilitas Karawang untuk memasok kebutuhan Toyota Kijang Innova Zenix Hybrid, Veloz Hybrid, dan Yaris Cross Hybrid.

"Kami menjadi yang pertama di Asean yang akan mengekspor baterai ke pasar global, rencananya akan dimulai pada semester II/2026," ujar Nandi.

Dia menilai, kerja sama strategis dengan CATL tidak hanya memperbesar investasi di sektor otomotif, tetapi juga memperkuat rantai pasok domestik sekaligus mendukung strategi netralitas karbon Toyota secara global.

Menurut Nandi, Toyota Indonesia telah memproduksi lebih dari 10 juta unit kendaraan hingga saat ini, dengan sekitar 3 juta unit di antaranya telah diekspor ke lebih dari 100 negara tujuan.

"Kontribusi ini turut memperkuat industri nasional melalui investasi lebih dari Rp100 triliun, penyerapan tenaga kerja hingga 360.000 orang, serta tingkat kandungan lokal hingga 80%," jelasnya.

Dalam era elektrifikasi, Toyota juga terus memperluas produksi kendaraan ramah lingkungan melalui Kijang Innova Zenix Hybrid, Yaris Cross Hybrid, dan Veloz Hybrid yang menggunakan battery pack lokal dari Karawang.

Selain itu, perusahaan telah memulai produksi lokal kendaraan listrik murni berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV) melalui model Toyota bZ4X sejak tahun lalu.

"Lokalisasi merupakan sebuah perjalanan panjang yang tidak dapat dicapai secara instan, melainkan dilakukan secara bertahap melalui proses yang membutuhkan waktu, komitmen, serta kolaborasi yang kuat dari seluruh pemangku kepentingan," pungkasnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Timnas U20 Indonesia Gabung Grup H Kualifikasi Piala Asia U20 2027, Lolos Jadi Target Utama
• 17 jam lalukompas.tv
thumb
Presiden Prabowo hadiri jamuan santap malam di Istana Elysee Paris
• 18 jam laluantaranews.com
thumb
Polrestro Jakbar dalami pencuri laptop Rp31 juta bermodus tanya alamat
• 18 menit laluantaranews.com
thumb
Investasi VC BUMN di TaniHub Diduga Korupsi, Amvesindo Soroti Kepastian Hukum
• 12 jam lalukatadata.co.id
thumb
Siap Temani Libur Panjang, Cek Film Bioskop yang Lagi Tayang Minggu Ini
• 14 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.