Pemprov Jakarta menggelar perayaan menyambut Hari Raya Waisak 2570 tahun Buddha di Bundaran HI, Jakarta Pusat, Jumat (29/5). Perayaan ini mengusung tema ‘Glow of Peace’ yang mengharapkan terciptanya perdamaian dengan penuh cahaya.
Hari Raya Waisak jatuh pada Minggu (31/5) dan akan dirayakan secara nasional di Candi Borobudur.
Sementara itu, dalam perayaan di Bundaran HI, terdapat panggung yang diwarnai oleh ragam penampilan. Acara ini dibuka dengan penampilan band yang melantunkan musik rohani dan dilanjutkan dengan tarian tradisional.
Acara ini dihadiri oleh para pejabat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Selain para biksu, tokoh dari berbagai agama pun turut hadir.
Di sekitar panggung, warga tampak antusias dan turut melantunkan nyanyian. Mereka bahkan khidmat saat biksu memimpin doa dari atas panggung.
Pemimpin doa itu adalah Bante Pranedta Thera yang melangitkan harapan agar semua makhluk hidup dapat berbahagia, hidup dalam harmoni, saling menghormati, serta menjaga perdamaian dunia. Ia juga mendoakan agar cahaya tumbuh di hati masyarakat Jakarta.
“Semoga kota Jakarta menjadi kota yang bercahaya bukan hanya oleh gemerlap lampu, tetapi juga oleh hati masyarakatnya yang penuh cinta kasih dan semangat kebersamaan,” tutur Bante Pranedta Thera.
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno turut menghadiri perayaan ini. Dalam sambutannya, Rano menggarisbawahi bahwa Jakarta adalah kota global yang inklusif, hangat, dan berbudaya.
“Kota yang besar bukan hanya diukur dari tingginya gedung di kawasan Bundaran HI, tetapi juga dari lapangnya hati kita, menerima setiap anak bangsa dengan penuh rasa hormat, penuh ketulusan, dan penuh rasa persaudaraan di antara kita,” ujar Rano.
Rano menyoroti penggunaan area Bundaran HI sebagai tempat perayaan hari raya keagamaan. Katanya, Bundaran HI telah menjadi halaman bagi semua warga dari berbagai latar belakang.
“Bundaran HI telah menjadikan halaman bersama bagi semua warga mulai dari Christmas Carol, festival Imlek, Jakarta Bedug Festival, pawai ogoh-ogoh, hingga Jakarta Penuh Warna,” ungkap Rano.
“Di tempat ini, Jakarta terus belajar merayakan perbedaan sebagai anugerah, bukan sebagai jarak,” lanjutnya.
Kata Rano, hal ini menunjukkan keragaman di Jakarta bukanlah sekat. Dalam tema ‘Glow of Peace’, Rano mengharapkan Jakarta terus menjadi rumah yang menerangi warganya untuk terus tenteram.
“Cahaya di Bundaran HI bukan hanya hiasan kota. Ini adalah doa yang diterangi bersama agar Jakarta terus menjadi rumah yang damai, toleran, adil, dan menenteramkan seluruh warganya,” ucap Rano.





