Jakarta: Festival Illumination of Jakarta: Glow of Peace mendapat sambutan baik dari berbagai pihak. Salah satunya datang dari Wanita Buddhis Indonesia yang menilai kehadiran nuansa toleransi terasa dari konsep budaya dan spiritual sangat terasa dalam kegiatan tersebut.
“Kalau acara hari ini menurut saya sih ini sudah full Nusantara ya. Maksudnya bukan hanya Jakarta saja, bukan hanya nuansa Buddhis saja, tapi saya rasa sudah Nusantara. Itu toleransi kan,” ujar Ketua Pengurus Wanita Buddhis Indonesia Daerah DKI Jakarta, Christina Limurti, usai mengikuti rangkaian acara Illumination of Jakarta: Glow of Peace, Jumat 29 Mei di Bundaran HI, Jakarta.
Christina mengaku bangga dengan peringatan Waisak 2026. Ia mengaku terkesan dengan ornamen lampion dan visual bernuansa Buddhis seperti bunga teratai hingga gambar Buddha.
Baca Juga : Kehadiran Sejumlah Lansia Menambah Kehangatan Illumination of Jakarta: Glow of Peace
Sementara itu, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno mengatakan perayaan Waisak menjadi bagian dari upaya Pemprov DKI DKI Jakarta dalam memperkuat Jakarta sebagai Kota Global yang tetap menjaga nilai keberagaman dan budaya. Rano juga mengatakan pengemasan perayaan keagamaan dengan budaya adah simbol kebersamaan masyarakat Jakarta.
“Malam ini kami Pemprov DKI bersama-sama dengan keluarga besar umat Buddha menyambut Hari Waisak yang memang kita desain sedemikian rupa. Nah, jadi artinya kalau dikatakan sebuah kegiatan, ini sempurna sudah, dari enam kegiatan keagamaan yang kita kemas dengan budaya. Dari mulai kita Christmas Carol dan sekarang di Waisak, alhamdulillah ini menandakan bahwa kebersamaan di Jakarta itu semakin kental,” ujar Rano.
Fetival Illumination of Jakarta: Glow of Peace dalam rangka memperingati Waisak 2026. Foto: Metro TV/Arbida.
Menurut DKI 2 itu, dengan adanya kegiatan perayaan seperti ini mampu mendorong pertumbuhan ekonomi Jakarta. Bahkan Rano menyebut perputaran ekonomi Jakarta sejak rangkaian perayaan Natal dan akhir tahun hingga Lebaran Idul Fitri mencapai Rp67 triliun.
“Itu mengindikasikan bahwa sebuah kegiatan kalau dikemas itu akan menghasilkan sesuatu. Inilah yang akan menjadi format baku, saya sampaikan kepada panitia, bulan-bulan keagamaan dari mulai Desember sampai ke Maret itu harus dikemas secara baik,” ujar Rano.



