Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) memastikan layanan jemaah haji Indonesia pada pelaksanaan lontar jumrah hari Tasyrik kedua di Mina, Jumat (29/5) berjalan tertib, terkendali, dan berorientasi pada keselamatan jemaah.
Juru Bicara Kemenhaj, Maria Assegaff, menyampaikan jemaah haji Indonesia pada hari Tasyrik kedua melaksanakan lontar tiga jumrah, yakni Ula, Wustha, dan Aqabah.
Kemenhaj mengimbau seluruh jemaah untuk disiplin mengikuti jadwal lontar yang telah ditetapkan dan tidak bergerak menuju Jamarat di waktu yang dilarang.
"Keselamatan jemaah menjadi prioritas utama. Kami mengimbau seluruh jemaah untuk tidak melontar pada waktu larangan, khususnya pukul 10.00 sampai 14.00 waktu Arab Saudi. Jemaah diminta tidak terburu-buru, tidak berangkat sendiri, dan selalu bergerak bersama rombongan, serta mengikuti arahan petugas," kata Maria pada Jumat (29/5).
Pada 12 Zulhijah, jadwal lontar jumrah bagi jemaah Indonesia dibagi dalam dua sesi, yaitu pukul 05.00 sampai 10.30 WAS dan pukul 18.00 sampai 24.00 WAS.
Pada rentang waktu tersebut, jemaah diminta tetap berada di tenda masing-masing guna menjaga kondisi fisik dan menghindari paparan cuaca panas serta kepadatan di kawasan Jamarat.
Maria juga mengimbau jemaah yang mengambil Nafar Awal agar segera menuntaskan rangkaian lontar jumrah sesuai jadwal, lalu kembali ke tenda masing-masing di Mina.
Mulai pukul 10.00 hingga 17.00 WAS, jemaah Nafar Awal diberangkatkan secara bertahap dan bergelombang menuju Makkah menggunakan bus yang telah disiapkan petugas.
"Jemaah Nafar Awal kami minta tetap tertib, tidak memisahkan diri dari rombongan, dan mempersiapkan diri sesuai jadwal keberangkatan. Pengaturan bertahap ini penting agar pergerakan menuju Makkah berlangsung aman, nyaman, dan tidak menimbulkan kepadatan," jelas Maria.
1.356 Petugas DisiagakanSebagai penguatan layanan di lapangan, Kemenhaj menyiagakan 1.356 Petugas Satgas Mina di sejumlah titik pantau dan jalur pergerakan jemaah.
Petugas ditempatkan antara lain di Jalan 616, Jalan 533, depan Mina Al-Wadi Hospital, Jalan 627, bawah Jalan Abdullah bin Abdul Aziz, gerbang terowongan Muaisim Turki, depan Syarikah, serta sejumlah pos pengarah menuju Jamarat dan pos pemantauan arus kepulangan jemaah.
Petugas Satgas Mina bertugas mengarahkan jemaah menuju Jamarat, membantu pengaturan arus, mengantisipasi kepadatan, serta memastikan jemaah kembali melalui jalur aman dan tidak mengambil jalan pintas yang berisiko.
Selain itu, Kemenhaj melalui Satgas Operasional Armuzna mengerahkan 19 unit mobil golf di kawasan Mina.
Armada ini disiapkan untuk membantu jemaah yang mengalami kelelahan, jemaah lanjut usia, jemaah disabilitas, jemaah yang terpisah dari rombongan, maupun jemaah yang kehilangan arah setelah melaksanakan lontar jumrah.
"Mobil golf kami siagakan sebagai layanan respons cepat bagi jemaah yang membutuhkan bantuan di sekitar Jamarat dan jalur pergerakan Mina. Petugas bergerak menyisir titik-titik strategis agar jemaah yang kelelahan, tersesat, atau terpisah dari rombongan bisa segera didampingi dan diantar kembali ke tenda dengan aman," tutur Maria.
Kemenhaj juga menempatkan Mobile Crisis Rescue (MCR) di kawasan Jamarat, Mina. MCR merupakan tim khusus dan posko layanan kedaruratan yang disiapkan untuk memberikan pertolongan pertama, membantu evakuasi darurat, serta mengurai kepadatan jemaah pada fase puncak ibadah haji.
MCR disiagakan untuk menangani berbagai situasi kedaruratan, antara lain jemaah pingsan, mengalami kelelahan ekstrem, tersesat, terpisah dari rombongan, hingga evakuasi bagi jemaah lanjut usia dan penyandang disabilitas.
"Kehadiran Satgas Mina, mobil golf, dan MCR merupakan bagian dari komitmen Kemenhaj menghadirkan layanan yang cepat, dekat, dan responsif. Kami ingin memastikan setiap jemaah, terutama lansia, disabilitas, perempuan, dan jemaah risiko tinggi, mendapatkan pelindungan dan pendampingan selama fase Mina," ungkap Maria.
Kemenhaj kembali mengingatkan seluruh jemaah untuk menjaga kesehatan selama berada di Mina. Jemaah diminta memperbanyak minum air putih, makan secara teratur, menggunakan pelindung kepala saat berada di luar tenda, serta membatasi aktivitas fisik yang tidak diperlukan.
Keluarga kloter, ketua rombongan, ketua regu, dan sesama jemaah juga diminta memberikan perhatian lebih kepada jemaah rentan.
Jika ditemukan jemaah kelelahan, kebingungan, terpisah dari rombongan, atau mengalami gangguan kesehatan, jemaah diminta segera melapor kepada petugas terdekat.





