Merawat Kenangan Kampung Halaman yang Terkubur Lumpur Lapindo

kompas.id
6 jam lalu
Cover Berita

Tragedi semburan lumpur panas Lapindo di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, membuat ribuan warga tercerabut dari akar sosialnya. Selama 20 tahun, sejumlah penyintas bencana itu berjuang merawat kenangan tentang kampung halaman mereka yang telah tenggelam.

Ratusan warga penyintas semburan lumpur panas Lapindo mengikuti rangkaian ibadah shalat Idul Adha di tempat terbuka di samping Masjid Nurul Azhar, Desa Jatirejo, Kecamatan Porong, Sidoarjo, Rabu (27/5/2026).

Seusai shalat, mereka bersalaman serta saling sapa dan berpelukan sebelum kembali pulang. Para jemaah masjid juga patungan berkurban 5 sapi. Daging kurban yang telah dikemas rapi kemudian dibagikan kepada masyarakat di sekitar masjid.

Salah seorang penyintas, Muhammad Masruh, mengatakan, shalat Idul Adha dan kurban itu bukan sekadar ibadah, melainkan juga bagian dari upaya merawat ingatan dan menjaga ikatan dengan kampung halaman yang sudah berpuluh tahun ditinggalkan.

”Shalat Idul Adha pagi ini diikuti jemaah yang tidak hanya berasal dari Sidoarjo, tetapi juga sejumlah daerah di Jatim, seperti Pasuruan dan Malang. Mayoritas jemaah adalah para penyintas atau korban semburan lumpur panas Lapindo yang terjadi 20 tahun silam,” ujar Masruh.

Dulu, para penyintas itu tinggal di Desa Jatirejo, Siring, dan Renokenongo, Kecamatan Porong. Namun, setelah rumahnya terdampak semburan lumpur, mereka kehilangan ruang hidup dan mencari tempat tinggal baru.

Ada yang pindah ke desa tetangga, ada pula yang mencari tempat tinggal lebih jauh, seperti di Pasuruan, karena trauma dengan bencana. Ada pula yang mengikuti keluarga pindah ke Malang.

Baca JugaElegi Dua Dekade Semburan Lumpur Lapindo di Sidoarjo

Pada momen Idul Adha 1447 Hijriah ini, para penyintas kembali berkumpul di kampung mereka meski tiga desa itu saat ini sudah dihapus secara administratif. Sejak Maret 2023, Kelurahan Jatirejo dan Siring bergabung dengan Kelurahan Gedang, sedangkan Desa Renokenongo digabung dengan Desa Glagaharum.

”Setiap tahun kami menggelar shalat Idul Adha dan Idul Fitri di sini. Mayoritas jemaahnya, ya, para penyintas yang pulang kampung meskipun kampungnya sudah tidak ada,” kata Masruh.

Jumlah jemaah yang mengikuti shalat mencapai ratusan. Biasanya para penyintas lumpur panas Lapindo tidak hanya datang sendiri, tetapi juga mengajak anak-anak dan cucu-cucu mereka sehingga bisa menjadi ajang reuni keluarga.

Peristiwa lumpur panas Lapindo pertama kali terjadi pada 29 Mei 2006. Sampai saat ini, semburan tersebut belum berhenti. Mengacu data Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS) Kementerian Pekerjaan Umum, pusat semburan terletak di Kelurahan Siring, Kecamatan Porong, berjarak sekitar 200 meter dari sumur pengeboran gas Banjar Panji-1 milik PT Lapindo Brantas di Desa Renokenongo.

Berdasarkan data PPLS, pada awal kemunculannya, volume semburan lumpur mencapai 100.000-120.000 meter kubik per hari dengan kandungan padatan 35 persen dan temperatur mencapai 100 derajat Celcius. Pada pengukuran tahun 2017, volume lumpur 86.270 meter kubik per hari dengan sifat semburan fluktuatif.

Dengan volume sebanyak itu, semburan lumpur telah menggelamkan sejumlah desa di tiga kecamatan di Sidoarjo, yakni Porong, Tanggulangin, dan Jabon. Desa-desa yang tenggelam itu kini berubah menjadi kolam penampungan lumpur atau danau lumpur.

Baca JugaSudah 20 Tahun, Belum Ada Kajian Dampak Pembuangan Lumpur Lapindo ke Sungai Porong

Sebelum ada semburan lumpur Lapindo, Masruh tinggal di Desa Jatirejo yang berlokasi di sebelah barat tanggul kolam lumpur di dekat Jalan Raya Porong. Setelah semburan lumpur semakin membesar, desanya masuk zona rawan sehingga warganya direlokasi.

Masruh kemudian pindah ke Desa Siring. Namun, tak lama setelahnya, Desa Siring juga terdampak semburan lumpur sehingga dia kembali direlokasi. Masruh kemudian tinggal di lingkungan Masjid Nurul Azhar dan menjadi pengelolanya.

Selain kehilangan rumah, banyak penyintas kehilangan pekerjaan karena sebagian sawah terendam. Ribuan buruh pabrik pun kehilangan pekerjaan karena ada lebih dari 30 pabrik besar yang tenggelam.

Semburan lumpur juga mengubur bangunan pabrik tempat Marsinah bekerja. Marsinah adalah seorang aktivis buruh perempuan asal Nganjuk, Jatim, yang menjadi simbol perjuangan hak-hak pekerja di Indonesia. Ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 10 November 2025.

Akibat kehilangan mata pencarian, banyak orangtua kesulitan menyekolahkan anaknya. Untuk membantu agar anak-anak tidak putus sekolah, Yayasan Nurul Azhar juga menyalurkan beasiswa pendidikan sampai jenjang SMA. Dananya berasal dari para donatur dan jemaah masjid, termasuk penyintas lumpur Lapindo.

Setiap tahun kami menggelar shalat Idul Adha dan Idul Fitri di sini. Mayoritas jemaahnya, ya, para penyintas yang pulang kampung meskipun kampungnya sudah tidak ada.

Warga penyintas lainnya, Solichin, mengatakan, sejak awal terjadi bencana, para warga korban saling menguatkan dalam berbagai tantangan. Mereka juga terus menjaga semangat berbagi meski dalam kondisi yang penuh keterbatasan.

”Sekarang semuanya sudah berlalu. Akan tetapi, kami tidak pernah lupa karena ada saudara-saudara ini yang terus mengingatkan,” ucap Solichin.

Ziarah kubur

Upaya merawat ikatan emosional dengan kampung halaman juga dilakukan para penyintas korban lumpur dengan melakukan ziarah kubur. Seperti yang dilakukan oleh Marlikah (73), warga Desa Renokenongo yang sekarang tinggal di Perumahan Renojoyo, Desa Kedungsolo, Kecamatan Porong.

Pada Jumat (29/5/2026) sore, Marlikah datang ke tanggul di tepi Jalan Raya Porong bersama cucunya berusia sekitar 5 tahun. Ia bercerita, sekitar 20 tahun lalu, saat masih tinggal di Desa Renokenongo, rumahnya diterjang lumpur panas dan tenggelam.

Seraya menatap hamparan material lumpur yang membeku, Marlikah mengisahkan ihwal suaminya, Sukar, yang meninggal tahun 2004 dan dimakamkan di tempat pemakaman umum desa. Kini, makam suaminya itu juga tenggelam oleh lumpur.

Baca Juga15 Tahun Semburan Lumpur Lapindo di Sidoarjo

Untuk menjaga ikatan emosional dengan kampung halamannya, Marlikah sengaja mengenalkan kampungnya kepada cucunya. Selain itu, dia juga secara rutin mengajak keluarganya berziarah atau mengunjungi keluarga yang sudah meninggal meski makamnya sudah tak tampak.

”Kalau nyekar (ziarah) rutin saya lakukan saat menjelang puasa Ramadhan dan menyambut Idul Fitri. Tabur bunga sama kirim doa, ya, dari atas tanggul kolam lumpur karena makamnya sudah tenggelam,” ujar Marlikah.

Marlikah mengatakan, ratusan warga korban lumpur dari Desa Renokenongo terpaksa meninggalkan kampungnya saat lumpur panas menerjang pada 2006. Sebagian besar warga awalnya mengungsi di Pasar Sayur Porong. Selama bertahun-tahun, mereka tinggal di tenda-tenda darurat yang jauh dari layak.

Setelah menerima uang muka pembayaran ganti rugi sebesar 20 persen dari aset tanah dan bangunan yang dimiliki pada sekitar tahun 2010, sebagian besar warga membeli tanah di Desa Kedungsolo. Mereka ingin tetap hidup berdampingan sehingga mencari tempat tinggal bersama.

Di Kedungsolo, warga difasilitasi tanah untuk tempat tinggal oleh Sunarto, warga setempat. Sunarto juga membantu warga membangun rumah dan mendapatkan fasilitas pembiayaan dari perbankan.

Namun, hingga bertahun-tahun, warga tak kunjung menerima sertifikat tanah meski pembayarannya sudah lunas. Jumlahnya sekitar 600 bidang tanah yang menjadi rumah hunian bagi 2.000 jiwa lebih. Baru pada akhir tahun 2023, warga menerima sertifikat tanah yang diserahkan oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN).

Rentang waktu 20 tahun memang sebuah perjalanan panjang bagi tragedi kemanusiaan semburan lumpur panas Lapindo di Sidoarjo. Banyak pelajaran berharga yang bisa dipetik dari bencana ekologi ini guna mencegah agar peristiwa serupa kelak tidak terjadi lagi.

 

 

 

 

 

 

 

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dicoret dari Calon Paskibraka Nasional, Cathlyn Yvaine Lesmana Kini Dapat Beasiswa S1 Full Luar Negeri hingga Biaya Hidup
• 6 jam lalutvonenews.com
thumb
Kementerian ATR Ingatkan Masyarakat Pahami Alur Jual Beli Tanah agar Terhindar Sengketa
• 22 jam lalupantau.com
thumb
Setahun Beroperasi, Layanan RSUP Jayapura Terus Ditingkatkan
• 1 jam lalukompas.id
thumb
Toleransi Antarumat Beragama Lewat Tradisi Kurban Kerbau-Kambing di Menara Kudus
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
Harga Minyak Dunia Anjlok 20% dari Level Puncaknya di 2026
• 2 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.