Puluhan Tahun Merawat Kerinduan Kampung Halaman yang Hilang

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

Setelah berjalan dari Taman Dwarakerta, puluhan orang yang terdiri dari penyintas juga anggota LSM lingkungan tiba di titik 21 tanggul penahan lumpur Lapindo. Aroma gas yang keluar dari pusat semburan lumpur yang tercium sangat menyengat langsung menyambut mereka. Beberapa orang yang datang harus menutup hidung dengan tangan juga masker untuk menghindari bau.

Rombongan yang terdiri dari penyintas juga aktivis lingkungan tersebut hadir untuk melaksanakan ritual sambang buyut yang merupakan bagian dari peringatan 20 tahun semburan lumpur Lapindo, Sidoarjo, Jawa Timur, Jumat (29/5/2026).

Dua puluh tahun bukan waktu yang sebentar untuk merawat kenangan akan kampung halaman yang telah hilang terkubur luapan lumpur Lapindo. Hal tersebut dirasakan benar oleh warga yang turut hadir dalam peringatan tersebut.

Bencana semburan lumpur panas Lapindo yang terjadi pada 29 Mei 2006 di Porong, Sidoarjo, telah menenggelamkan sedikitnya 19 desa di tiga kecamatan. Semburan lumpur itu juga menyebabkan lebih dari 25.000 warga direlokasi. Hingga saat ini, semburan lumpur masih terjadi.

Salah satu warga, Daia (60), warga Desa Renokenongo, desa yang telah terhapus di peta, merasakan betul manis hidupnya yang dulu. ”Kami sangat guyup, sering kumpul-kumpul dan rata-rata kami mempunyai hubungan kekerabatan, rumah kami tidak berjauhan,” ujar Daia.

Daia beberapa kali menunjuk ke arah timur, tempat asap putih keluar dari pusat semburan. ”Di sana, tidak jauh dari pusat semburan, rumah saya dulu. Saya lahir di sana,” ujar Daia. 

Ritual sambang buyut. (KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA)

Alat berat di tanggul penahan lumpur Lapindo. (KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA)

Warga berjalan di atas tanggul. (KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA)

Dengan suara terbata-bata karena menahan sedih, ia lalu menjelaskan bahwa setelah kejadian dan mendapat ganti rugi, sejumlah warga Renokenongo pindah ke perumahan Renojoyo yang berada di Desa Kedungsolo, Kecamatan Porong. Nama perumahan Renojoyo diambil untuk mengenang desa asal sebagian besar warga yang tinggal di sana.

”Saya rindu desa saya yang dulu,” ujar Daia. Di desa itu, ia bisa berkumpul bersama keluarga. Di desa itu pula makam bapak, adik, kakek, dan neneknya telah hilang karena terkubur lumpur. Di depan rumahnya dulu Daia berjualan sayur-mayur dan laris. Menurut Daia, setelah relokasi, ia semakin susah cari uang. Kini, Daia hidup dengan mengelola warung jajanan kecil di depan rumah sambil mengasuh cucunya.

Warga lain, Nurhasanah (46),  mengungkapkan, di perumahan Renojoyo, dirinya masih bisa berkumpul bersama beberapa tetangganya di desanya yang lama. ”Saya juga rindu tetangga-tetangga yang dulu, kami yang berasal dari Desa Renokenongo masih suka kumpul-kumpul, banyak juga yang pindah entah ke mana,” Ujar Nurhasanah yang datang bersama anaknya, Rayyan (2). 

Di tengah kegiatan sambang buyut, para penyintas yang hadir membiarkan anak-anak bermain dengan gembira. Sambil duduk bersama di atas tanggul, mereka tertawa melihat tingkah polah anak-anak, seolah menjadi cara untuk pengingat bahagianya hidup masa kecil mereka saat kampung halaman mereka masih ada.

Baca JugaKehidupan di Bekas Ruas Tol Porong-Gempol
Baca JugaBanjir Berulang Imbas Longsoran Sampah TPA Cipayung, Warga Tinggalkan Rumah
Baca JugaNelangsa Warga Pipikoro, Memboncengkan Jenazah hingga Melahirkan di Hutan


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kronologi Pejalan Kaki Tewas Tertabrak Truk di Jalan Raya Cilincing, Diduga Terpeleset Trotoar saat Hendak Menyeberang
• 17 jam lalugrid.id
thumb
Kunjungan Wisatawan Libur Iduladha di Jabar Tembus 116 Ribu Orang, Bogor Jadi Daerah Terfavorit
• 19 jam lalubisnis.com
thumb
Jangan Anggap Sepele! Gangguan Pencernaan Anak Bisa Pengaruhi Tumbuh Kembang: Ini Pentingnya Deteksi Dini Sejak Balita
• 11 jam lalutvonenews.com
thumb
Polisi Dilempari Batu oleh Warga saat Gerebek Tersangka Narkoba di Medan
• 17 jam lalukumparan.com
thumb
Lowongan Kerja Transjakarta 2026 Dibuka dengan Gaji hingga Rp11 Juta, Ini Syaratnya
• 17 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.