JAKARTA, KOMPAS.com - Suasana di sekitar posko pengungsian kebakaran di kawasan Krendang, Tambora, Jakarta Barat, mendadak riuh oleh tawa anak-anak pada Jumat (29/5/2026) sore.
Meski baru saja kehilangan tempat tinggal akibat kebakaran, puluhan anak penyintas tampak antusias mengikuti layanan dukungan psikososial atau trauma healing yang digelar Dinas Sosial (Dinsos) DKI Jakarta.
Di lantai dua Musala Al-Hikmah, mereka diajak bernyanyi bersama, menjawab kuis ringan, menggambar, hingga berbincang dengan petugas mengenai hobi dan cita-cita mereka.
Kegiatan tersebut dirancang untuk membantu anak-anak mengalihkan perhatian dari pengalaman traumatis yang baru mereka alami.
Baca juga: Kebakaran Tambora Jakbar Hanguskan 27 Bangunan: Dugaan Korsleting, Aksi Heroik Warga, hingga Api Menyala Lagi
Ketua Sub Kelompok Perlindungan Sosial Korban Bencana Sosial (PSKBS) Dinsos DKI Jakarta, Ira Ayu Puspita, mengatakan layanan dukungan psikososial memang difokuskan kepada anak-anak penyintas kebakaran.
"Layanan dukungan psikososial ini kita berikan fokus terhadap anak-anak. Kegiatannya seperti bernyanyi bersama, ada kuis-kuis yang ringan, dan menggambar," ujar Ira kepada Kompas.com di lokasi pengungsian, Jumat sore.
Menurut Ira, metode yang digunakan disesuaikan dengan kelompok usia anak, baik tingkat sekolah dasar (SD) maupun sekolah menengah pertama (SMP).
Sebanyak 50 anak penyintas kebakaran mengikuti kegiatan yang dimulai sejak pukul 14.30 WIB tersebut.
Baca juga: Api Kembali Menyala di Lokasi Kebakaran Tambora Jakbar, Damkar Lakukan Pemadaman
"Kami tidak berpatokan pada waktu, lebih kondisional melihat situasi dan kondisi tempat. Biasanya layanan ini kami berikan satu kali secara intensif agar anak-anak tidak merasa bosan," kata Ira.
Ia berharap layanan psikososial dapat membantu anak-anak segera bangkit dari trauma dan kembali ceria sambil menunggu proses pemulihan tempat tinggal mereka.
Disambut Positif OrangtuaKehadiran tim trauma healing disambut positif oleh para orangtua penyintas.
Salah satunya Feni (46), yang mengaku lega melihat anaknya kembali bermain dan berinteraksi dengan teman-temannya meski masih berada di pengungsian.
"Alhamdulillah senang, anak dari pagi tadi main sama teman-temannya. Tadi ada guru sekolahnya juga jenguk ke sini, sekarang ada yang ngajak main (dari Dinsos)," tutur Feni.
Baca juga: Pilu Korban Kebakaran di Tambora, Tetap Harus Cuci Darah Rutin Usai Rumah Ludes Terbakar
Meski demikian, ia mengaku tetap khawatir terhadap dampak psikologis yang mungkin dirasakan anaknya.
Menurut Feni, anak-anak terkadang terlihat ceria di luar, tetapi menyimpan ketakutan dan trauma yang tidak terlihat.





