Jakarta: Final Liga Champions UEFA (UCL) 2025/2026 menghadirkan duel antara PSG kontra Arsenal di Puskas Arena, Budapest, Sabtu malam, 30 Mei 2026, pukul 23.00 WIB. PSG lebih diunggulkan dalam pertandingan tersebut.
Dikutip dari Media Indonesia, superkomputer Opta memberikan peluang 56 persen kepada PSG untuk kembali mengangkat trofi Si Kuping Besar. Sedangkan Arsenal mendapat kans 44 persen untuk menciptakan sejarah.
Persentase tersebut menggambarkan jarak kekuatan kedua tim. Di satu sisi, PSG datang sebagai juara bertahan yang tengah memburu status dinasti baru Eropa. Di sisi lain, Arsenal berupaya menuntaskan penantian panjang sekaligus meraih gelar Liga Champions pertama sepanjang sejarah klub.
Jika berhasil menang, PSG akan mencatat prestasi langka. Klub asal Paris itu berpeluang menjadi tim pertama selain Real Madrid yang mampu mempertahankan gelar Liga Champions pada era modern kompetisi sejak 1992. Sebelumnya, hanya Los Blancos yang sanggup melakukannya ketika meraih tiga gelar beruntun pada 2016 hingga 2018.
Baca Juga :
Jelang Final Liga Champions, Arsenal Belajar dari Laga Kontra PSG Musim LaluSejauh ini hanya Liverpool, Manchester United, dan Manchester City yang pernah menorehkan prestasi tersebut.
Meski berstatus juara bertahan, PSG sebenarnya belum memiliki tradisi panjang di kompetisi elite Eropa. Namun dalam enam tahun terakhir, tidak ada klub yang lebih sering mencapai partai final dibandingkan Les Parisiens.
Final di Budapest akan menjadi penampilan ketiga mereka sejak 2020 setelah kalah dari Bayern Muenchen pada 2020 dan menghancurkan Inter Milan 5-0 pada final musim lalu.
Ilustrasi Liga Champions. Foto: Istimewa.
Keberhasilan menembus dua final beruntun juga menjadi bukti konsistensi skuad racikan Luis Enrique. PSG menjadi tim pertama sejak Liverpool era Juergen Klopp yang mampu tampil pada dua final Liga Champions secara berturut-turut.
Pertarungan kali ini juga menyajikan benturan dua identitas permainan yang sangat kontras. Arsenal datang dengan reputasi sebagai tim bertahan terbaik di kompetisi. Pasukan Mikel Arteta hanya kebobolan enam gol dalam 14 pertandingan atau rata-rata 0,43 gol per laga.
Ketangguhan lini belakang Arsenal terlihat semakin mencolok di fase gugur. Hingga final, mereka belum sekali pun kebobolan dari situasi permainan terbuka.
Duet Gabriel Magalhaes dan William Saliba menjadi fondasi utama pertahanan. Sedangkan kiper David Raya telah mencatat sembilan clean sheet dan berpeluang mencetak rekor baru jika kembali nirbobol di partai puncak.
Namun, Arsenal akan menghadapi ujian terbesar mereka musim ini. PSG hadir sebagai mesin gol paling produktif sepanjang turnamen dengan kekuatan serangan yang mampu menghancurkan lawan dari berbagai sisi.
Peran utama kini berada di pundak Khvicha Kvaratskhelia. Winger asal Georgia tersebut tampil luar biasa sepanjang fase gugur dengan keterlibatan dalam 10 gol, terdiri dari tujuh gol dan tiga assist. Catatan itu menjadi yang terbaik di antara seluruh pemain pada fase knockout musim ini.
Kvaratskhelia juga mencatat rekor unik setelah selalu terlibat dalam gol pada tujuh laga beruntun fase gugur Liga Champions musim ini. Ketika Ousmane Dembele sempat terganggu cedera, mantan bintang Napoli itu justru tampil sebagai motor utama serangan PSG.
Laga di Budapest pada akhirnya menjadi pertarungan antara dua kekuatan berbeda. PSG membawa daya ledak serangan yang menakutkan sedangkan Arsenal mengandalkan disiplin pertahanan yang nyaris sempurna.
Menurut Opta, PSG lebih diunggulkan. Namun, kejutan juga tetap terbuka.




