Angkatan Luar Angkasa AS mengatakan bahwa mereka telah memberikan kesepakatan senilai US$ 4,16 miliar atau Rp 74,13 triliun (kurs Rp 17.820 per US$) kepada SpaceX milik Elon Musk. Kesepakatan ini terkait program satelit yang dirancang untuk melacak dan menargetkan ancaman udara.
Space-Based Advanced Moving Target Indicator (SB-AMTI) dirancang sebagai sistem yang saling terintegrasi (system-of-systems), yang menggabungkan sensor berbasis antariksa, jaringan komunikasi aman, serta pusat pemrosesan data di darat untuk mendorong koordinasi dan kolaborasi yang lebih erat di seluruh ekosistem industri antariksa pemerintah.
Sistem pertahanan rudal Golden Dome andalan pemerintahan Trump memiliki banyak lapisan, salah satunya lapisan penginderaan dan pelacakan. Satelit diharapkan akan berperan dalam melacak rudal.
Inisiatif Golden Dome bertujuan memperluas pencegat berbasis darat, sensor, dan sistem komando sambil menambahkan satelit berbasis luar angkasa untuk mendeteksi, melacak, dan berpotensi melawan ancaman udara, termasuk persenjataan yang masih diperdebatkan di orbit.
Angkatan Luar Angkasa mengatakan, ada beberapa perusahaan dalam kelompok vendor SB-AMTI ini, termasuk SpaceX, dan akan mengeluarkan beberapa penghargaan pada tahun berikutnya.
"Penghargaan awal ini diproyeksikan untuk menempatkan konstelasi satelit pada 2028, memberikan Angkatan Gabungan kemampuan awal untuk menghilangkan titik buta operasional," demikian pernyataan Angkatan Luar Angkasa as dikutip dari Reuters, Sabtu (30/5).
Awal pekan ini, Angkatan Luar Angkasa memberikan kontrak US$ 2,29 miliar atau Rp 40,82 triliun kepada SpaceX, untuk membangun jaringan komunikasi satelit berkecepatan tinggi yang aman untuk menghubungkan sensor militer dan platform senjata di seluruh dunia.
Perusahaan milik Elon Musk itu akan segera mencatatkan saham perdana alias IPO, dengan valuasi diperkirakan lebih dari US$ 1,75 triliun atau Rp 31.192 triliun.




