Konflik berkepanjangan yang terjadi di Selat Hormuz berpotensi mengancam perekonomian negara-negara di Belahan Bumi Utara, terutama pada pasokan energi dan pangan.
Peringatan tersebut diungkapkan bersama oleh Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia (WBG), Badan Energi Internasional (IEA), dan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) melalui pernyataan resmi, pada Jumat (29/5/2026)
“Perang di Timur Tengah menimbulkan dampak yang besar dan sangat asimetris terhadap pasokan energi, ketahanan pangan, dan aktivitas ekonomi di berbagai negara dan wilayah,” tulis pernyataan tersebut, dikutip dari Antara.
Menurut mereka, negara-negara “rentan” yang akan paling merasakan dampak dari kenaikan harga bahan bakar dan pupuk. Namun, negara-negara di bagian utara juga tetap berpotensi ikut terdampak krisis tersebut.
“Persediaan minyak global sedang berkurang dengan kecepatan mencapai rekor sebagai respons terhadap hilangnya pasokan besar-besaran melalui Selat Hormuz,” lanjut pernyataan itu.
Keempat lembaga tersebut memberi peringatan apabila lalu lintas pelayaran tidak kembali normal, kemerosotan cadangan minyak global dalam jangka waktu singkat menjelang puncak permintaan musim panas di Belahan Bumi Utara dapat meningkatkan risiko keamanan pasokan bahan bakar, kondisi pasar, dan ketahanan ekonomi lebih luas.
Mereka berkomitmen untuk terus melakukan koordinasi guna memantau perkembangan situasi dan berupaya mendukung negara-negara yang paling terdampak serta menjaga stabilitas ekonomi global. (ant/vve/iss)




