Yasinta Moiwend Merasa Dirugikan "Pesta Babi" hingga Polisikan Ketua LBH Papua Merauke

kompas.id
5 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS - Perempuan adat Malind dari Merauke, Papua Selatan, Yasinta Moiwend melaporkan Ketua Lembaga Bantuan Hukum Papua Merauke, Johnny Teddy Wakum, ke Polda Metro Jaya. Ia kecewa bahkan sakit hati lantaran tak ada pembicaraan tentang pembuatan hingga pemutaran film dokumenter Pesta Babi.

Yasinta atau Mama Sinta datang ke Polda Metro Jaya bersama kuasa hukumnya, TS Hamonangan Daulay pada Jumat (29/5/2026). Laporan polisinya tercatat dengan nomor LP/B/3843/V/2026/SPKT/Polda Metro Jaya.

Mereka melaporkan Johnny atas dugaan penyalahgunaan data pribadi sebagaimana ketentuan Pasal 65 juncto Pasal 67 Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi.

Johnny yang dihubungi pada Sabtu (30/5/2026) menyebut, Mama Sinta seorang tokoh perempuan adat Malind yang sudah lama berjuang untuk diri dan komunitasnya. Perjuangannya itu jauh sebelum pembuatan film dokumenter Pesta Babi.

"Kami tim kolaborasi film Pesta Babi menghormati apa pun sikap Mama Sinta saat ini dan meminta publik untuk tidak menyudutkan atau menghakimi beliau, sembari kami masih berusaha memahami apa yang terjadi dengan perubahan pilihan sikap ini," tutur Johnny.

Menurut Johnny, Mama Sinta belum bisa ditemui langsung ataupun dihubungi setelah videonya beredar 23 Mei lalu hingga mendatangi Polda Metro Jaya pada 29 Mei kemarin. Namun, kolaborator film Pesta Babi, yakni Ekspedisi Indonesia Baru, Greenpeace Indonesia, Jubi Media, LBH Papua Merauke, Pusaka Bentala Rakyat, dan Watchdoc terus berusaha membangun komunikasi dengan Mama Sinta dan berkoordinasi dengan keluarganya.

"Kami mengharapkan dukungan perhatian publik terhadap persoalan ini, sembari melanjutkan solidaritas untuk upaya penyelesaian persoalan yang begitu besar di tanah Papua," ucapnya.

Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita karya Cypri Jehan Paju Dale dan Dandhy Dwi Laksono pertama kali dirilis pada 12 April 2026. Setelah dirilis, kegiatan nonton bareng (nobar) film ini di sejumlah daerah kerap menemui intimidasi.

Baca Juga”Pesta Babi”, Nasi Kosong di Papua
Baca JugaPemerintah Klaim Tak Melarang, Intimidasi Nobar ”Pesta Babi” Berlanjut
Baca JugaPesta Babi
Sakit hati

Film dokumenter berdurasi 1 jam 35 menit itu mengambil latar di Papua Selatan dengan titik utama cerita, adalah Merauke, Boven Digoel, dan Mappi. Secara garis besar, film tersebut mengisahkan kehidupan masyarakat adat suku Marind, Awyu, Yei, dan Muyu, yang disebut kehilangan tanah dan ruang hidupnya akibat ekspansi proyek perkebunan tebu, sawit, hingga food estate (Kompas, 23 Mei 2026).

Adegan-adegannya turut menggambarkan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang terjadi atas nama Proyek Strategis Nasional (PSN).

Kuasa hukum Yasinta, TS Hamonangan Daulay di Polda Metro Jaya pada Jumat malam, menyampaikan bahwa Mama Sinta merasa dieksploitasi karena pembuatan hingga pemutaran film dokumenter Pesta Babi tanpa izin maupun pengakuan yang sah darinya.

Oleh karena itu, mereka melaporkan Ketua Lembaga Bantuan Hukum Papua Merauke, Johnny Teddy Wakum atas penyalahgunaan data pribadi.

Mama Sinta mengatakan, tidak ada izin darinya sejak pemutaran film tersebut pada 8 April di Aula Susteran Maranatha Waena, Jayapura. Ia kecewa dan sakit hati sebab wajahnya ada di mana-mana.

"Tanpa izin dari saya. Maka itu saya datang ke Jakarta (melaporkan)," ujar Mama Sinta.

Ia diajak menyaksikan film dokumenter Pesta Babi di Jayapura oleh seorang bernama Tigor. Namun, ketika itu dirinya mengira ada kegiatan memotong babi.

Mama Sinta mengaku heran karena di lokasi justru naik ke Aula Susteran Maranatha Waena. Di situlah film diputar dan wajahnya terpampang.

"Di situ saya lihat sendiri, saya saksikan sendiri. Kenapa wajah saya ditampilkan di depan banyak orang tanpa seizin dari saya? Itu yang (buat) saya sakit hati dan sakit sekali bersama keluarga saya," tuturnya.

Menurut Mama Sinta, tidak ada omongan perihal pembuatan hingga pemutaran film itu. Ia baru tahu ketika diajak ke Jayapura pada 8 April lalu.

Dirinya juga merasa dibohongi. Apalagi wajahnya tampil di mana-mana dan belum ada komunikasi dengan pembuat ataupun kolaborator film Pesta Babi.

"Apa saya ini boneka? Apa saya patung Asmat yang sudah diukir? Saya bukan ukiran Asmat. Dihentikan (film Pesta Babi), mulai dari hari ini dihentikan. Seandainya ada yang putar film itu, tolong proses orang itu," katanya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Wamendagri Ribka Ajak Papua Jemput Peluang Pembangunan Menuju Indonesia Emas 2045
• 7 jam laludisway.id
thumb
Polisi Tangkap 3 Pengedar Obat Keras di Tanah Abang, Ribuan Pil Disita
• 17 jam laluokezone.com
thumb
Akhiri Kunjungan di Perancis, Prabowo Tinggalkan Paris Menuju Jakarta
• 17 jam lalurepublika.co.id
thumb
IMF hingga Bank Dunia Peringatkan Risiko BBM Langka Jika Selat Hormuz Tak Dibuka
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Pernyataan Berkelas Eksel Runtukahu Setelah Masuk TC Timnas Indonesia
• 22 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.