Bisnis.com, JAKARTA - Nilai investasi energi global diprediksi mencapai US$3,4 triliun pada 2026 di tengah krisis keamanan energi global yang dipicu penutupan Selat Hormuz.
Laporan International Energy Agency (IEA) bertajuk World Energy Investment 2026 menjelaskan, dari jumlah tersebut sebesar US$2,2 triliun di antaranya akan mengalir ke jaringan listrik, penyimpanan energi, bahan bakar rendah emisi, pembangkit nuklir, energi terbarukan, efisiensi energi, dan elektrifikasi.
"Sementara itu, investasi untuk sektor minyak, gas alam, dan batu bara diperkirakan mencapai sekitar US$1,2 triliun," demikian kutipan laporan tersebut, Sabtu (30/5/2026).
Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol mengatakan, dunia tengah menghadapi krisis keamanan energi terbesar dalam sejarah modern yang berpotensi membentuk ulang strategi investasi energi global untuk jangka panjang.
"Kita saat ini berada di tengah krisis keamanan energi terbesar yang pernah dihadapi dunia dan saya yakin kondisi ini akan membentuk ulang strategi investasi global, dengan kemiripan terhadap perubahan besar yang terjadi di sektor energi setelah krisis minyak pada 1970-an," ujarnya.
Menurutnya, negara-negara produsen maupun konsumen mulai mempercepat pengembangan infrastruktur energi baru guna mengurangi ketergantungan terhadap jalur perdagangan yang rentan terganggu. Upaya tersebut mencakup pembangunan jaringan pipa, fasilitas pasokan energi, hingga penguatan sumber energi domestik.
Baca Juga
- Stok Menyusut, ExxonMobil Ramal Harga Minyak Global Bisa Tembus US$160
- Harga Minyak Global Melemah Setelah Progres Dialog AS-Iran
- Harga Minyak Dunia Anjlok 20% dari Level Puncaknya di 2026
Laporan IEA menjelaskan, krisis keamanan energi mendorong negara-negara pengimpor untuk memperbesar investasi pada sumber energi yang tersedia di dalam negeri. Belanja proyek energi terbarukan diproyeksikan mencapai US$365 miliar untuk sektor surya.
Meski laju pertumbuhannya mulai melambat, energi rendah emisi masih menyumbang lebih dari 70% total investasi pembangkitan listrik global.
Sementara itu, investasi sektor minyak diproyeksikan turun untuk tahun ketiga berturut-turut menjadi di bawah US$500 miliar pada 2026 meski harga minyak melonjak akibat krisis pasokan.
IEA menilai ketidakpastian mengenai durasi lonjakan harga, panjangnya waktu pengembangan proyek, kendala rantai pasok, serta ketatnya pasar rig lepas pantai membatasi respons investasi minyak di luar Timur Tengah.
Sebaliknya, investasi sektor gas alam diperkirakan meningkat menjadi US$330 miliar atau tertinggi dalam 1 dekade. Lonjakan tersebut ditopang gelombang proyek ekspor gas alam cair atau LNG baru, terutama di Amerika Serikat dan Qatar.
Sementara itu, investasi pada sektor nuklir terus mengalami kebangkitan. Investasi tahunan kini telah melampaui US$80 miliar dengan hampir 80 gigawatt kapasitas baru yang sedang dibangun di 15 negara.
Laporan IEA juga menjelaskan, kekhawatiran terhadap keamanan pasokan energi memicu kebangkitan investasi batu bara. Belanja sektor tersebut diperkirakan meningkat menjadi US$180 miliar pada 2026 atau tertinggi sejak 2012. Cina menyumbang hampir 70% investasi global pada pasokan batu bara.
"Sejumlah negara Asia yang terdampak langsung oleh gangguan pasokan energi saat ini diperkirakan akan mempertahankan operasional pembangkit listrik tenaga uap batu bara lebih lama guna menjaga ketahanan energi nasional," demikian kutipan laporan tersebut.





