Piala Dunia 2026 akan dimulai bulan depan, jutaan penggila sepak bola di seluruh dunia kembali akan berpesta mendukung tim kebanggannya.
Banyak media biasanya memanfaatkan momen ini untuk menjelaskan kembali aturan offside, tetapi ada aspek lain yang tak kalah menarik dari olahraga tersebut: bagaimana beberapa pemain mampu mengecoh bek dan kiper dengan mengirim bola melaju di lintasan yang melengkung atau singkatnya adalah melakukan tendangan pisang.
Sebelum membahas sains di balik tendangan pisang, ada sedikit latar belakang soal istilah sepak bola. FIFA merupakan singkatan dari Fédération Internationale de Football Association atau Federasi Internasional Sepak Bola. Sementara itu, istilah soccer berasal dari singkatan association football.
Meski kini kata soccer lebih populer di negara-negara yang memiliki jenis olahraga football lain, seperti Amerika Serikat dan Australia, istilah tersebut sebenarnya berasal dari Inggris. Kata itu digunakan untuk membedakan sepak bola dari rugby football, yang kini lebih dikenal sebagai rugby.
Karena sebagian besar dunia akhirnya mengadopsi istilah football sebagai nama singkat untuk association football, istilah itulah yang digunakan dalam artikel ini.
Pada pertandingan internasional tahun 1997, pesepak bola Brasil Roberto Carlos mencetak salah satu gol paling ikonik dalam sejarah sepak bola. Dari tendangan bebas jarak jauh, bola yang ia lepaskan melengkung sangat tajam hingga kiper Prancis sama sekali tidak bergerak. Sang penjaga gawang mengira bola akan melenceng jauh dari gawang, tetapi justru masuk ke dalam jala.
Saat itu para komentator menyebutnya sebagai "gol yang menentang hukum fisika". Namun, 13 tahun kemudian, para fisikawan Prancis menerbitkan penelitian ilmiah yang menjelaskan bagaimana tendangan tersebut sebenarnya bisa terjadi.
Fenomena serupa juga menjadi inti cerita film terkenal Bend It Like Beckham. Ada dua fenomena fisika utama yang membuat bola dapat bergerak melengkung. Yang paling terkenal adalah Efek Magnus (Magnus Effect).
Efek ini muncul ketika bola berputar sambil bergerak ke satu arah. Fenomena tersebut hanya bisa terjadi karena permukaan bola tidak benar-benar halus, termasuk bola sepak. Permukaan yang kasar membuat bola menarik udara di sekitarnya saat berputar.
Jika sebuah bola hanya diputar di tempat tanpa bergerak, putaran itu hanya menghasilkan aliran udara kecil tanpa menciptakan gaya yang mendorong bola ke arah tertentu. Namun, ketika bola ditendang sambil berputar, situasinya menjadi berbeda. Dari sudut pandang bola, udara mengalir di sekitarnya dalam dua arah yang berbeda.
Pada tendangan Roberto Carlos, misalnya, bola berputar berlawanan arah jarum jam jika dilihat dari atas. Pada sisi kiri bola, putaran tersebut mempercepat aliran udara. Di sisi kanan, putaran justru melawan arah aliran udara. Akibatnya, udara di sisi kiri bergerak lebih cepat dibandingkan di sisi kanan.
Menurut prinsip fisika, udara yang bergerak lebih cepat memiliki tekanan yang lebih rendah. Karena itu, tekanan udara di sisi kiri bola menjadi lebih kecil dibandingkan sisi kanan. Perbedaan tekanan inilah yang menghasilkan gaya dorong ke arah kiri sehingga bola mulai melengkung.
Hasilnya adalah tendangan yang awalnya tampak akan melenceng, tetapi perlahan berbelok masuk ke gawang. Meski Efek Magnus merupakan penjelasan yang paling terkenal, sebagian fisikawan berpendapat ada faktor lain yang juga sangat penting.
Profesor Lou Bloomfield dari University of Virginia menjelaskan bahwa bola yang bergerak cepat menciptakan pusaran udara atau wake di belakangnya. Menurut Bloomfield, saat bola berputar, aliran udara di belakang bola ikut terdorong ke salah satu sisi.
Berdasarkan hukum aksi-reaksi Newton, ketika bola mendorong udara ke satu arah, udara akan memberikan dorongan balik kepada bola ke arah berlawanan. Gaya ini dikenal sebagai wake deflection force atau gaya pembelokan pusaran udara.
Menariknya, arah gaya ini sama dengan arah gaya yang dihasilkan oleh Efek Magnus. Karena keduanya bekerja bersama-sama, bola bisa membentuk lintasan melengkung yang sangat dramatis.
Sebagian fisikawan menganggap kedua fenomena tersebut sebenarnya bagian dari mekanisme yang sama, sementara yang lain menganggapnya sebagai dua gaya yang berbeda.
Kemampuan memanfaatkan putaran bola untuk mengubah lintasan sebenarnya tidak hanya digunakan dalam sepak bola. Dalam baseball, pelempar sering menggunakan curveball untuk mengecoh pemukul dengan membuat bola berbelok dari jalur lurus.
Pada tenis dan voli, pemain memanfaatkan topspin agar bola jatuh lebih cepat ke lapangan lawan. Topspin terjadi ketika bagian atas bola berputar searah dengan gerakan bola. Putaran ini menciptakan tekanan udara yang lebih rendah di bawah bola sehingga bola terdorong turun lebih cepat daripada pengaruh gravitasi biasa.
Sebaliknya, backspin membuat bola bertahan lebih lama di udara dan menempuh jarak yang lebih jauh. Fenomena ini juga dimanfaatkan dalam olahraga golf. Permukaan bola golf yang memiliki lekukan-lekukan kecil (dimples) dirancang khusus untuk meningkatkan interaksi dengan udara sehingga bola dapat melaju lebih jauh ketika dipukul dengan backspin.
Namun, efek tersebut juga memiliki sisi negatif karena dapat membuat pukulan yang melenceng ke kiri atau kanan menjadi semakin ekstrem. Tendangan melengkung seperti yang pernah dilakukan Roberto Carlos memang terlihat seperti sulap di lapangan hijau. Namun di balik keindahannya, terdapat kombinasi rumit antara putaran bola, aliran udara, perbedaan tekanan, dan hukum-hukum fisika yang bekerja secara bersamaan.
Bagi penonton, hasil akhirnya mungkin hanya sebuah gol spektakuler. Namun bagi ilmuwan, tendangan tersebut adalah contoh nyata bagaimana prinsip fisika dapat menciptakan momen-momen luar biasa dalam dunia olahraga.





