Ebola Kembali Merebak di Afrika, WHO: Deteksi Dini Jadi Kunci Penyelamatan

suarasurabaya.net
7 jam lalu
Cover Berita

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa wabah Ebola yang kembali merebak di Republik Demokratik Kongo dan Uganda, khususnya yang disebabkan oleh galur langka Bundibugyo, menunjukkan risiko penularan yang serius.

WHO menegaskan, deteksi dini dan keterlibatan masyarakat menjadi faktor krusial untuk menekan angka kematian di tengah upaya pengembangan vaksin dan terapi yang masih berlangsung.

Dalam keterangan pers di Jenewa pada Jumat (29/5/2026), WHO menyampaikan bahwa hingga Kamis (28/5), tercatat sekitar 906 kasus suspek Ebola di RD Kongo, dengan 223 kematian suspek.

Sementara itu, kasus terkonfirmasi mencapai 125 kasus yang tersebar di wilayah Ituri, Kivu Utara, dan Kivu Selatan, dengan 17 kematian terkonfirmasi.

Di negara tetangga, Uganda melaporkan tujuh kasus terkonfirmasi, termasuk satu kematian. Seluruh kasus tersebut diketahui berkaitan dengan wabah di RD Kongo, tanpa adanya bukti penularan luas di masyarakat sejauh ini.

Petugas teknis WHO, Anaïs Legand, menekankan bahwa penularan Ebola sering terjadi dalam konteks perawatan keluarga, yang membuat edukasi publik dan keterlibatan komunitas menjadi sangat penting.

“Penyakit ini dapat menular ke Anda ketika Anda merawat seseorang—suami Anda, anak Anda, atau ibu Anda,” ujar Legand dalam pengarahan di Jenewa. Ia menegaskan bahwa partisipasi masyarakat merupakan kunci untuk memutus rantai penularan.

Dari sisi medis, WHO mengungkapkan bahwa sejumlah kandidat vaksin tengah dievaluasi. Dua vaksin potensial telah diidentifikasi untuk ditinjau lebih lanjut setelah ketersediaan dosis memungkinkan.

Selain itu, obat antivirus oral obeldesivir sedang diprioritaskan untuk studi klinis sebagai langkah pencegahan pascapaparan bagi individu yang memiliki kontak dengan pasien terkonfirmasi.

Dilansir dari Antara pada Sabtu (30/5/2026), untuk pengobatan, WHO juga menyiapkan tiga kandidat terapi yang akan diuji dalam studi klinis, yakni antibodi monoklonal MBP 134, maftivimab, serta antivirus remdesivir.

Legand menyebutkan bahwa tingkat kematian akibat galur Bundibugyo dapat mencapai 30 hingga 50 persen berdasarkan data wabah sebelumnya. Karena itu, peningkatan kapasitas layanan kesehatan menjadi prioritas utama di wilayah terdampak.

“Kami dapat meningkatkan skala perawatan intensif yang dioptimalkan dan mendukung masyarakat untuk mengenali gejala lebih dini,” ujarnya.

WHO juga menegaskan bahwa respons penanganan dilakukan dalam situasi kemanusiaan yang kompleks, termasuk konflik bersenjata dan keterbatasan akses di beberapa wilayah seperti Provinsi Ituri.

Tedros Adhanom Ghebreyesus Direktur Jenderal WHO bahkan menyerukan agar kelompok bersenjata menghentikan konflik sementara guna memungkinkan tenaga kesehatan menjangkau masyarakat terdampak.

Dengan situasi yang masih berkembang, WHO menekankan bahwa kolaborasi lintas negara dan dukungan komunitas lokal menjadi faktor penentu dalam mengendalikan penyebaran Ebola di Afrika Tengah dan Timur. (ant/saf/faz)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
LPS Pertahankan Tingkat Bunga Penjaminan Bank meski BI Kerek Suku Bunga
• 16 jam lalukatadata.co.id
thumb
Geger Kasus Whip Pink, Asisten Pribadi YouTuber Borong 20 Tabung Gas Tawa
• 18 jam laluviva.co.id
thumb
Arus Padat, Contraflow Diberlakukan di Tol Jakarta-Cikampek
• 12 jam lalumetrotvnews.com
thumb
SpaceX Kantongi Kontrak Rp 74 Triliun dari Militer AS untuk Satelit Perang
• 15 jam lalukatadata.co.id
thumb
Gugatan Kim Soo Hyun terhadap YouTuber Kim Se Eui Bertambah Jadi Rp355,5 Miliar
• 13 jam lalutabloidbintang.com
Berhasil disimpan.