REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemengaruh halal Anca Syah atau akrab dikenal dengan Bang Anca, mengingatkan masyarakat agar tidak terjebak dalam berbagai mitos terkait makanan halal yang masih banyak beredar di Indonesia. Ia menegaskan status halal suatu makanan tidak bisa ditentukan hanya dengan membaca basmalah sebelum mengonsumsinya.
Menurut Anca, salah satu kesalahpahaman yang paling sering ditemui adalah anggapan bahwa makanan apa pun dapat dimakan selama diawali dengan membaca "bismillah". Padahal, dalam syariat Islam, kehalalan makanan ditentukan oleh berbagai aspek, mulai dari bahan baku, proses pengolahan, hingga cara penyembelihan hewan.
Baca Juga
Halal Bukan Hanya Khamr dan Babi, Ini Titik Kritis Produk Pangan Impor
Gaya Hidup Halal Meningkat, tapi Gen Z Akui Masih Sulit Tinggalkan Keuangan Konvensional
Jangan Cantik tapi Haram
"Halal itu tidak hanya baca bismillah saja. Ada syarat terkait penyembelihan, kemudian tidak menggunakan bahan-bahan yang haram, dan prosesnya juga harus diperhatikan," katanya dalam acara Mastery Class: Halal Lifestyle, Sabtu (30/5/2026).
Ia mencontohkan situasi yang sering dihadapi wisatawan Muslim ketika bepergian ke daerah atau negara dengan populasi Muslim minoritas seperti Bali, Jepang, dan Korea Selatan. Menurutnya, konsumen perlu lebih berhati-hati dalam memilih makanan berbahan daging karena tidak semua produk memenuhi ketentuan halal.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Anca mengakui akses makanan halal di Jepang kini semakin mudah dibandingkan beberapa tahun lalu, meskipun harganya relatif mahal. Karena keterbatasan pilihan, sebagian wisatawan Muslim bahkan memilih menu sederhana seperti telur dan salad selama bepergian.
Selain soal bahan makanan, Bang Anca juga menyoroti mitos lain yang kerap membuat konsumen merasa aman secara keliru, yakni keberadaan pegawai berhijab di restoran yang menjual produk nonhalal.
Menurut dia, penampilan pegawai tidak dapat dijadikan indikator kehalalan suatu tempat makan. Ia mengatakan masih banyak restoran yang menjual makanan nonhalal, tetapi mempekerjakan pekerja Muslim, termasuk perempuan berhijab.
"Pelayan berhijab bukan berarti restorannya halal. Banyak orang melihat ada pegawai berhijab lalu menganggap tempat itu aman untuk Muslim," ujarnya.