Cak Silo pelawak sekaligus seniman Srimulat Surabaya mengungkapkan tantangan besar yang dihadapi dunia lawak tradisional saat ini, yakni memperkenalkan kembali Srimulat kepada generasi muda.
Di tengah pesatnya perkembangan hiburan digital dan media sosial, nama Srimulat yang pernah menjadi ikon komedi nasional mulai kurang dikenal oleh kalangan Generasi Z dan Generasi Alpha.
Hal tersebut disampaikan Cak Silo saat tampil dalam pertunjukan Srimulat Surabaya di mal kawasan Surabaya Barat, Sabtu (30/5/2026).
Menurutnya, terdapat perbedaan pemahaman yang cukup lebar antara generasi lama dan generasi muda terkait eksistensi kelompok lawak legendaris asal Surabaya tersebut.
“Nah itu, anak-anak zaman sekarang diajak, ‘Ayo nonton Srimulat’, kadang-kadang bilang, ‘Apa sih Srimulat itu?’ Kalau generasi saya atau generasi bapak saya tentu tahu zamannya Gepeng dan senior-senior Srimulat yang lain. Tapi kalau anak sekarang, Srimulat itu seperti apa, bahkan pemain-pemainnya saya yakin banyak yang tidak tahu,” ujar Cak Silo.
Menurutnya, kondisi ini menjadi pekerjaan rumah bagi para pelaku seni pertunjukan untuk terus mengenalkan sejarah dan kontribusi Srimulat dalam perkembangan dunia hiburan Indonesia.
Meski demikian, Cak Silo melihat masih terbukanya peluang besar untuk menarik minat generasi muda. Antusiasme penonton muda yang hadir dalam pertunjukan kali ini menjadi bukti bahwa seni lawak tradisional tetap memiliki daya tarik apabila dikemas dengan pendekatan yang sesuai perkembangan zaman.
Ia menilai para pelawak perlu beradaptasi dengan pola komunikasi dan selera humor generasi saat ini tanpa meninggalkan identitas khas Srimulat.
“Ya mau tidak mau harus mengikuti zaman sekarang. Anak-anak sekarang punya gaya joke sendiri, jadi lawakan yang dibawakan juga minimal sedikit banyak harus mengikuti anak zaman sekarang,” katanya.
Cak Silo juga mengaku masih terus belajar mendalami karakter dan filosofi pertunjukan Srimulat. Meski telah dikenal sebagai seniman ludruk dan pelawak, dirinya merasa masih banyak hal yang harus dipelajari dari para senior yang pernah membesarkan nama kelompok lawak tersebut.
Menurutnya, kekuatan Srimulat bukan hanya terletak pada materi lawakan, tetapi juga pada karakter, spontanitas, dan chemistry para pemain saat berada di atas panggung.
“Terus terang saya sendiri masih merasa belajar. Kalau mengingat senior-senior dulu, begitu enaknya dan begitu enjoy-nya saat tampil. Saya ingin belajar dari beliau-beliau, minimal ciri khas lawakannya. Orang Jawa bilang roye-nya Srimulat itu harus dipelajari,” ungkapnya.
Selain tantangan regenerasi penonton, Cak Silo mengaku menghadapi kendala lain dalam pementasan kali ini, yakni waktu persiapan yang sangat singkat. Ia baru menerima informasi untuk tampil sehari sebelum acara berlangsung.
Meski demikian, keterbatasan waktu tidak mengurangi semangatnya untuk terus berkontribusi dalam menjaga eksistensi Srimulat di tengah perubahan zaman.
Baginya, pelestarian seni lawak tradisional membutuhkan dukungan semua pihak, mulai dari pelaku seni, pemerintah, hingga ruang publik yang bersedia membuka panggung bagi budaya lokal. (rzl/saf/faz)




