Penampilan kreasi tarian asal Bali, Pelegongan Mesatya, sukses memukau perhatian penonton di panggung Indonesia World Dance Festival (IWDF) yang digelar di Gedung Kesenian Jakarta pada Sabtu, 30 Mei 2026 siang. Lebih dari sekadar pertunjukan seni budaya yang unik, tarian ini membawa pesan mendalam sebagai bentuk dukungan moral dan penghapus stigma negatif terhadap pasien pengidap kanker.
Dikutip dari Primetime News, Metro TV, inisiatif penampilan sarat makna ini digagas oleh Dokter Spesialis Onkologi Radiasi, dr. Soehartati A. Gondhowiardjo, bersama seorang penyintas kanker payudara, Chrystina Ambarwati. Keduanya, bersama sembilan anggota lain yang terdiri dari lintas profesi mulai dari dokter, tenaga medis, hingga pasien kanker, tergabung dalam Komunitas Tari Move On.
Tantangan Latihan Lintas Generasi dan Profesi
Mempersiapkan penampilan tari yang harmonis dari individu dengan latar belakang kesibukan medis dan proses pemulihan tentu bukan hal yang mudah. Dokter Soehartati menjelaskan bahwa timnya membutuhkan waktu persiapan selama lima minggu.
Penentuan jadwal latihan menjadi tantangan tersendiri mengingat para penari berasal dari lintas generasi dan profesi. Meski demikian, mereka berhasil tampil sangat kompak dan mengundang apresiasi meriah dari kursi penonton.
Baca Juga :
Kasus Kanker Payudara Tinggi, Ini Cara SADARI yang Benar-Tips Kesehatan"Palegongan Mesatya mencerminkan suatu perjuangan, keteguhan hati, kebersamaan, keyakinan, dan komitmen. Tarian ini dikreasikan oleh Ibu Christina yang merupakan seorang breast cancer survivor, sedangkan saya adalah dokter onkologi yang menangani pasien kanker. Jadi, ini mencerminkan bagaimana kebersamaan kita," ungkap dr. Soehartati.
Bagi para pasien, tarian ini adalah representasi dari perjalanan panjang yang menuntut kesabaran. Chrystina Ambarwati menekankan bahwa proses penyembuhan kanker membutuhkan harmonisasi dari berbagai pihak pendukung.
"Inti dan makna tari tersebut selaras dengan perjuangan kami para survivor yang memiliki perjalanan panjang. Kami harus tetap setia kepada proses pengobatan, tetap teguh, dan penuh dengan harapan. Kita harus memiliki harmonisasi, baik dari penderitanya, tenaga medisnya, maupun juga caregiver-nya," jelas Chrystina.



