Gotong Royong Kampung Mulai Sunyi

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Ada yang pelan-pelan hilang dari perkampungan. Bukan rumah, bukan jalan, bukan suara azan dari musala, dan bukan pula anak-anak yang berlari pada waktu sore. Yang perlahan mulai hilang yaitu kebiasaan untuk datang ketika orang lain membutuhkan.

Dulu, kampung punya cara untuk membuat orang bisa hidup sendirian. Selokan jalan tersumbat tidak hanya menjadi urusan pemilik rumah di dekatnya. Jalan yang rusak tidak menjadi keluhan orang yang melintas. Hajatan bukan hanya menjadi tanggungjawab yang mempunyai acara. Musibah tidak hanya dipikul oleh orang rumah yang sedang berduka. Warga bergerak karena merasa bagian dirinya ada yang terganggu jika tetangganya sedang kesusahan.

Sekarang, suasana itu masih ada, tetapi tidak semelekat dulu. Kerja bakti sering kali dihadiri wajah yang sama. Rapat warga kerap kalah oleh kesibukan pribadi. Grup WhatsApp kampung ramai oleh pesan, tetapi tidak selalu menghadirkan tindakan. Kita tinggal berdekatan, tetapi seolah-olah tidak saling mengenal. Kampung masih dipenuhi orang, tetapi sebagian hubungan sosialnya mulai kosong.

Saat ini, melemahnya gotong royong di perkampungan bukan soal kecil. Bukan sekadar perkara warga malas membawa cangkul atau enggan membersihkan selokan—ia terjadi karena rasa memiliki terhadap ruang sudah mulai menurun. Ketika orang sudah tidak bertanggung jawab terhadap kampungnya, masalah kecil bisa menjadi besar. Sampah dibiarkan. Jalan rusak hanya dipotret. Warga sakit hanya didengar kabarnya. Anak muda pun bisa disalahkan, bukan diajak untuk bergerak.

Gotong royong memang sering dipersempit menjadi kerja bakti. Padahal, gotong royong lebih luas daripada itu. Ia hidup dalam perhatian, kepedulian, dan kesedihan untuk mengambil bagian. Ia muncul ketika tetangga saling bertanya kabar. Ia terasa ketika pemuda ikut menjaga lingkungan, bukan hanya nongkrong di pinggir jalan. Gotong royong adalah sikap batin bahwa hidup bersama tidak boleh ditanggung sendirian.

Di sinilah pemikiran Bung Karno terasa relevan. Pada pidatonya tanggal 1 Juni 1945, Bung Karno menempatkan gotong royong sebagai sari dari Pancasila. Gagasan itu menunjukkan bahwa Indonesia tidak dibangun oleh semangat menang sendiri, tetapi oleh kesediaan untuk bekerja sama dan menanggung beban bersama (Soekarna, 1945).

Perubahan kampung saat ini tidak bisa dilihat secara hitam putih. Banyak warga bukan tidak mau ikut gotong royong. Mereka lelah dengan aktivitas kerja dari pagi—ada yang sampai malam hari. Mereka dikejar kebutuhan rumah tangga, biaya sekolah anak, kebutuhan pokok dan lain-lain. Sebagian kerja di kota, sebagian pulang ke rumah hanya untuk istirahat. Dengan adanya keadaan seperti ini, ajakan gotong royong yang kaku sering terdengar sebagai beban tambahan.

Namun, tekanan ekonomi bukan satu-satunya penyebab. Kampung juga banyak kehilangan ruang perjumpaan. Warung, pos ronda, halaman rumah, kebun, sawah selalu menjadi tempat orang saling bertemu. Kondisi itu terasa dekat tumbuh. Kini, orang lebih banyak menatap layar daripada menyapa tetangga. Kita cepat tahu kabar orang jauh, tetapi terkadang lambat tahu bahwa tetangga sebelah sedang sakit.

Kegiatan kampung juga sering kurang menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. Undangan rapat datang mendadak. Kerja bakti tidak menjelaskan target yang ingin dicapai. Pembagian kurang jelas. Warga hanya diminta hadir, tetapi tidak jarang diajak menentukan cara. Akibatnya, gotong royong dirasa sebagai perintah, bukan kesadaran. Padahal, orang akan mudah terlibat jika merasa didengar dan melihat manfaatnya.

Ada pula cara berpikir baru yang terlihat praktis, tetapi diam-diam mengikis kebersamaan. Selokan kotor bisa dibayar. Keamanan lebih banyak dipasang kamera. Hajatan sering diserahkan kepada jasa. Semua itu tidak salah. Masalahnya muncul ketika uang dianggap bisa menggantikan seluruh hubungan sosial. Uang dapat menyelesaikan pekerjaan, tetapi tidak selalu menumbuhkan kepedulian. Kampung bisa tampak tertata, tetapi warga bisa berpotensi untuk saling asing.

Yudi Latif dalam Negara Paripurna menjelaskan bahwa Pancasila bertumpu pada semangat kebersamaan, kekeluargaan, dan keadilan sosial (Latif, 2011). Pandangan ini penting untuk membaca kampung hari ini. Gotong royong bukan nilai lama yang cukup dipajang di dalam pidato. Ia justru menjadi jawaban ketika masyarakat makin individual, warga mudah curiga, dan ketika masalah sosial tidak mungkin diselesaikan oleh satu orang.

Karena itu, menghidupkan gotong royong tidak cukup dengan slogan. Kampung perlu membuat kegiatan bersama yang lebih masuk akal. Warga akan lebih mudah datang jika mempunyai tujuan yang jelas, seperti membersihkan saluran air sebelum tiba musim hujan, menyediakan tempat sampah, memperbaiki jalan kecil, menjaga fasilitas ibadah, membuat ruang bermain anak. Kegiatan yang terasa manfaatnya akan terasa lebih kuat daripada ajakan yang mengandalkan kewajiban.

Pengurus RT, RW, tokoh masyarakat, dan pemuda juga perlu mengubah cara mengajak warga. Musyawarah tidak harus seperti acara formal. Warga perlu diajak sejak awal, mulai menentukan waktu, membagi tugas, sampai memilih bentuk kontribusi. Ada yang bisa membantu tenaga, ada yang bisa menyediakan alat. Ada yang bisa memberikan makanan. Ada yang bisa membantu dana. Ada pula yang hanya mampu menyebarkan informasi. Semua itu bagian dari gotong royong jika dilakukan dengan niat menjaga bersama.

Pemuda kampung harus diberikan ruang yang lebih bermakna. Mereka jangan dipanggil ketika hanya dibutuhkan tenaganya. Mereka bisa mengelola informasi, membuat poster, mengatur daftar hadir, dan mengajak teman sebayanya.

Teknologi juga tidak perlu dimusuhi. Grup WhatsApp bisa menjadi alat berguna jika diarahkan pada aksi nyata. Grup dapat digunakan membagi tugas, menggalang bantuan, memberi laporan kegiatan, dan menyampaikan kebutuhan warga secara terbuka. Masalahnya bukan pada gawai, melainkan pada bagaimana cara menggunakannya. Teknologi seharusnya mempercepat kepedulian, bukan menggantikan pertemuan.

Gotong royong seharusnya tidak berhenti seolah seperti acara seremonial. Ia perlu menjadi waktu untuk memeriksa kembali kehidupan sosial kita. Apakah persatuan masih terasa di kampung? Apakah keadilan sosial hadir dalam acara warga saling membantu. Apakah gotong royong masih menjadi kebiasaan, atau tinggal kata yang mudah diucapkan?

Kampung yang maju bukan hanya kampung yang jalannya mulus, lampunya terang, bangunannya bertambah. Kampung yang benar-benar maju adalah kampung yang warganya masih menoleh ketika tetangganya membutuhkan bantuan. Jika gotong royong kembali hidup, kampung tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga menjadi rumah bersama.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bocah Viking Papua Minta Disekolahkan di Akademi Persib, Dedi Mulyadi: Kamu Gak Nangis Tinggal di Bandung?
• 22 jam lalutvonenews.com
thumb
LPS Jamin 666,72 Juta Rekening Bank Umum hingga April 2026
• 20 jam lalukumparan.com
thumb
Kebakaran Bengkel di Tangerang, 1 Remaja Tewas Terjebak di Kamar Mandi
• 11 jam lalukumparan.com
thumb
Akui Dapat Modal Pinjaman, Dirut Hanania Travel Beri Opsi Ini Kepada Calon Jemaah yang Gagal Berangkat ke Tanah Suci
• 2 jam lalugrid.id
thumb
Menteri PPN Sebut Lamongan Punya Keunggulan untuk Dongkrak Produktivitas dan Hilirisasi Pertanian
• 12 jam laluberitajatim.com
Berhasil disimpan.