- Kapan dan mengapa Presiden Prabowo menginstruksikan bahasa Perancis diajarkan di sekolah?
- Sebelum Perancis, bahasa asing apa lagi yang diminta diajarkan di sekolah dan bagaimana realisasinya?
- Apa lagi yang disorot publik dari lawatan Prabowo ke Perancis?
- Mengapa perubahan agenda lawatan Prabowo memicu sorotan publik?
- Apa saja komitmen bisnis senilai 3,5 miliar dolar AS yang dicapai dari lawatan Prabowo?
Saat pernyataan pers bersama Presiden Perancis Emmanuel Macron, di Paris, Perancis, Kamis (28/5/2026) waktu setempat, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan telah menginstruksikan sekolah-sekolah di Indonesia untuk mengajarkan bahasa Perancis.
”Sekarang saya sudah instruksikan bahwa semua tingkatan sekolah-sekolah Indonesia harus belajar bahasa Perancis melihat perkembangan dunia ke depan,” ujar Prabowo.
Bagaimana tidak, menurut Prabowo, di tengah perkembangan global yang penuh ketidakpastian, ketegangan, dan konflik, Perancis selalu berani mengambil sikap positif.
Lebih dari itu, sejalan dengan Indonesia, Perancis juga disebut konsisten dalam mendorong terwujudnya perdamaian dunia. Berbagai kesamaan itu pun membuat Prabowo menyebut hubungan kedua negara tengah berada di titik terbaik sehingga penting bagi warga negara Indonesia untuk mempelajari pula bahasa Perancis.
Penekanan Prabowo pada penguasaan bahasa negara sahabat sebenarnya bukan pertama kali dilakukan. Sebelumnya, ketika Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva berkunjung ke Istana Merdeka, Jakarta, akhir Oktober 2025, ia juga mengungkapkan hal serupa.
Dalam pertemuan bilateral kala itu, Prabowo menegaskan bahwa Brasil merupakan mitra yang sangat penting bagi Indonesia. Untuk membuktikan keseriusan kerja sama kedua negara, Prabowo juga menyebut telah memutuskan bahasa Portugis diajarkan di sekolah-sekolah.
Dalam konteks domestik, Prabowo pun berulang kali menyampaikan visi untuk memperluas bahasa asing di sekolah-sekolah untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja global. Saat berpidato dalam perayaan Hari Guru Nasional, November 2025, misalnya, Presiden menekankan soal pentingnya digitalisasi pembelajaran yang bakal dilakukan secara terpusat.
Sementara itu, Wakil Ketua Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Lalu Hadrian Irfani mengkritisi rencana pengajaran bahasa Perancis tersebut. ”Sebelumnya juga sempat muncul wacana bahasa Portugis, tetapi sampai sekarang belum terlihat tindak lanjut, baik dari sisi roadmap (peta jalan), regulasi, maupun kesiapan implementasinya,” katanya.
Lawatan Prabowo ke Perancis sejak Senin (25/5/2026) malam dan berakhir Jumat (29/5/2026) telah menuai sorotan publik. Pasalnya, sebelum lawatan ini, sudah tiga kali, Ketua Umum Partai Gerindra tersebut pergi ke Perancis. Artinya, sudah empat kali lawatan ke Perancis di masa pemerintahan Prabowo yang hingga kini belum sampai dua tahun.
Sorotan atas kunjungan kenegaraan itu dicuitkan sejumlah warganet lewat akun X sejak Selasa (26/5/2026). Salah satu sosok yang ikut mengomentari lawatan itu adalah politisi PDI Perjuangan, Mohamad Guntur Romli, lewat akunnya. Bahkan, ia turut mencatat sudah berapa banyak presiden mengunjungi negara itu setelah dilantik.
”Sejak dilantik sebagai Presiden, Pak Prabowo sudah empat kali ke Perancis; Juli 2025, Januari 2026, April 2026, dan Mei 2026 (yang terakhir). Ini sudah setiap bulan ke Perancis. Apa sih yang dibahas, kok sampai berkali-kali dalam waktu berdekatan?” tanya Guntur lewat akun X-nya, @GunRomli.
Seiring dengan banyaknya sorotan itu, Menteri Kebudayaan, yang juga Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerindra Fadli Zon menyatakan, kunjungan kenegaraan Presiden selalu sejalan dengan kepentingan nasional.
Warganet juga mengkritisi jadwal rangkaian kunjungan luar negeri Prabowo karena sempat beredar kabar, Presiden akan melanjutkan lawatan ke beberapa negara lain di Eropa setelah ke Perancis, yakni Austria dan Hongaria. Merespons isu tersebut, sejumlah akun mengepos tangkapan layar informasi yang didapatkan dari situs pelacak penerbangan, flightradar24. Contohnya, akun @ranosint dan @pedas_manis.
Di tengah spekulasi itu, data di flightradar24 menunjukkan bahwa pesawat kepresidenan GA1 dijadwalkan terbang dari Paris menuju Roma pada 28 Mei. Lalu pada hari berikutnya, 29 Mei, pesawat itu direncanakan berangkat dari Roma menuju Jakarta. Akan tetapi, jadwal perjalanan pesawat itu dibatalkan, kemudian berubah menjadi dari Paris menuju Jakarta pada 29 Mei.
Simpang siurnya jadwal dan tujuan kunjungan Presiden Prabowo itu, menurut praktisi dan pengajar hubungan internasional Dinna Prapto Raharja, merupakan penyebab mengapa sorotan publik menguat. Masyarakat telanjur mendengar kabar bahwa Presiden bakal berkunjung ke Italia, Hongaria, dan Austria setelah tuntas di Perancis. Akan tetapi, Presiden ternyata kembali ke Jakarta.
Menurut Dinna, hal itu membuat publik mempertanyakan apakah rangkaian kunjungan Presiden tidak melalui proses persiapan diplomatik oleh Kementerian Luar Negeri.
Diplomasi Presiden Prabowo Subianto di Paris menghasilkan komitmen bisnis baru antara Indonesia dan Perancis senilai 3,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp 62 triliun. Kesepakatan itu lahir bersamaan dengan peluncuran Dewan Bisnis Tingkat Tinggi Perancis–Indonesia (France-Indonesia High Level Business Council), Kamis (28/5/2026) waktu setempat.
”Momentum peluncuran dewan bisnis tersebut turut menghasilkan empat kesepakatan komersial baru senilai 3,5 miliar dolar AS yang difokuskan pada sektor ketahanan energi, perdagangan, dan kerja sama pertahanan,” kata Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani.
Rosan menyebut, pencapaian tersebut memperlihatkan peningkatan kepercayaan dunia usaha Perancis terhadap Indonesia sebagai mitra strategis dengan prospek pertumbuhan jangka panjang. Selain itu, iklim investasi di Indonesia juga dinilai kompetitif.





