”Bung Karno Bapak Marhaenisme”, Senandung Ideologi PDI-P di Tengah Pragmatisme Politik

kompas.id
5 jam lalu
Cover Berita

Di tengah ingar-bingar politik elektoral yang kian pragmatis, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan atau PDI-P memilih merawat ingatan historisnya melalui alunan nada. Menjelang peringatan Bulan Bung Karno pada Juni, partai berlambang banteng ini meluncurkan lagu ”Bung Karno Bapak Marhaenisme”, yang kini ditetapkan sebagai lagu wajib dalam setiap kegiatan partai.

Lagu dengan tempo yang mengentak itu bergema di Ballroom Novotel Mangga Dua, Jakarta, Sabtu (30/5/2026). Di hadapan lautan kader yang serempak berdiri tegak dalam balutan seragam merah kebesaran partai, lirik ”Rakyat marhaen majulah bersatu, membangun dunia yang baru...” mengalun dari layar utama. Diiringi sikap khidmat lebih dari 600 legislator daerah, pemutaran lagu pada awal sesi protokoler itu seolah menjadi mantra untuk merapatkan barisan.

Ketua DPP PDI-P Djarot Saiful Hidayat mengungkapkan, pemutaran lagu tersebut bukanlah sekadar seremonial kosong. Lagu itu kini menjadi instrumen wajib untuk membangkitkan kembali nilai-nilai perjuangan dan ideologi Marhaenisme di sanubari setiap kader.

”Dalam setiap acara dengan protokol kepartaian, lagu ’Bung Karno Bapak Marhaenisme’ wajib kita nyanyikan. Lagu ini adalah pengingat bagi kita semua, terutama para wakil rakyat yang baru dilantik, bahwa esensi perjuangan PDI Perjuangan adalah memihak dan berjuang demi kepentingan rakyat kecil,” kata Djarot.

Secara filosofis, kehadiran lagu ”Bung Karno Bapak Marhaenisme” merefleksikan kembali memori tentang akar perlawanan ideologis Bung Karno. Djarot mengisahkan bahwa istilah Marhaenisme digali langsung oleh sang proklamator dari pertemuannya dengan seorang petani kecil di kawasan Bandung Selatan pada dekade 1920-an.

Meski petani bernama Pak Marhaen itu memiliki alat produksi sendiri berupa lahan dan cangkul, ia tetap terpuruk dalam jurang kemiskinan karena dieksploitasi oleh sistem sosial dan politik yang menindas saat itu. Semangat untuk membela kaum-kaum yang termarginalkan oleh sistem inilah yang terus dihidupkan oleh partai.

Dalam setiap acara dengan protokol kepartaian, lagu ”Bung Karno Bapak Marhaenisme” wajib kita nyanyikan. Lagu ini adalah pengingat bagi kita semua, terutama para wakil rakyat yang baru dilantik, bahwa esensi perjuangan PDI Perjuangan adalah memihak dan berjuang demi kepentingan rakyat kecil.

Melalui lagu ini, Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri menitipkan pesan fundamental kepada para kadernya bahwa senjata terhebat partai bukanlah strategi elektoral atau pencitraan, melainkan kedekatan yang tulus dengan denyut nadi kehidupan rakyat. Kader dituntut untuk menunjukkan keberpihakan nyata dalam memecahkan masalah di bawah.

Pesan ini terasa semakin relevan di tengah keprihatinan elite PDI-P terhadap memudarnya kedisiplinan dan militansi kader pascakontestasi elektoral. Dalam pidato pembukaannya, Djarot bahkan sempat melontarkan teguran keras lantaran mendapati banyak peserta yang masih asyik mengobrol sendiri pada saat pembacaan Dedication of Life.

Baca JugaPDI-P Sentil Komunikasi Publik Pemerintah, Emosi Publik Dikhawatirkan Memuncak

”Kenapa kalau kita sudah mempunyai jabatan, disiplin sudah mulai memudar? Rasa militansi, ya, untuk benar-benar mengkhidmati setiap proses kepartaian itu sudah mulai luntur,” tegur Djarot dari atas mimbar.

Oleh karena itu, lagu tersebut diharapkan menjadi obat penawar sekaligus alarm bahaya bagi munculnya sindrom ”kader instan” di tubuh partai. Djarot mengingatkan bahwa kader instan adalah mereka yang pragmatis, individualistis, dan hanya berorientasi pada jabatan, kekuasaan, dan kekayaan tanpa mau melewati proses kaderisasi dari bawah.

Di sisi lain, lewat alunan nada yang didedikasikan untuk menyambut Bulan Bung Karno tersebut, partai turut merawat ingatan kolektif tentang pengorbanan masa lalu. Djarot mengingatkan ratusan anggota dewan yang hadir agar tidak menjadi sombong karena PDI-P bisa menjadi besar karena perlawanan panjang dan berdarah melawan represi rezim otoritarian, seperti pada peristiwa kelam 27 Juli 1996.

”Partai kita bukan partai akta notaris. Partai kita itu didirikan dengan darah, nyawa, dan air mata,” tegas Djarot.

Baca JugaMarhaenisme di Tengah Desoekarnoisasi
Memantik idealisme

Langkah menjadikan lagu sebagai medium konsolidasi ini juga diamini oleh budayawan sekaligus kader PDI-P, Bonnie Triyana. Menurut Bonnie, pemutaran lagu tersebut tidak boleh dipandang sebagai simbolisme atau formalitas seremonial semata. Lebih dari itu, langkah tersebut merupakan ikhtiar partai untuk menarik gagasan Marhaenisme ke level operasional.

Bonnie mengingatkan bahwa ajaran Bung Karno, termasuk Marhaenisme, pernah mengalami masa mati suri akibat upaya de-Soekarnoisasi dan stigmatisasi selama era Orde Baru. ”PDI Perjuangan sebagai partai yang ideologinya bersandar kepada Soekarnoisme menjadi yang terdepan untuk mengangkat dan mengemukakan kembali ajaran-ajaran Bung Karno. Lagu ini adalah bagian dari ikhtiar itu,” tutur Bonnie.

Di tengah persepsi bahwa politik modern identik dengan transaksional dan pragmatisme, Bonnie menuturkan, PDI-P hadir untuk mengembalikan makna dan esensi dari politik bermartabat. Esensi politik menurut Bung Karno pada dasarnya adalah ikhtiar untuk menjalankan sebuah gagasan.

Mewajibkan lagu ”Bung Karno Bapak Marhaenisme” di setiap acara protokoler, kata Bonnie, adalah pintu masuk diskusi yang sangat efektif. Kader akan dipaksa untuk menghafal, yang akan memicu rasa ingin tahu untuk mengkaji lebih dalam ajaran Marhaenisme.

Baca JugaBung Karno dan Wanti-wanti Menjaga Demokrasi

Penggunaan medium seni seperti lagu juga sejalan dengan salah satu prinsip Trisakti Bung Karno, yakni berkepribadian dalam kebudayaan. PDI-P secara konsisten terus mewadahi keberagaman budaya Nusantara dan menjadikannya sebagai alat pergerakan tanpa terjebak pada ukuran modernitas yang kebarat-baratan.

”Kita tidak cuma ngomong slogan jargonistik. Kita turunkan pikiran itu dalam berbagai macam bentuk, ya, lagu, aksi, keberpihakan. Itu bagian yang tidak terpisahkan,” ujar Bonnie.

Di tengah godaan kekuasaan yang kerap melenakan politisi saat ini, PDI-P memilih merawat jiwanya lewat alunan nada. Sebuah melodi yang mengunci kembali kesadaran ideologis, sekaligus memastikan partai tidak melupakan dari mana akar pergerakan mereka bermula, yakni dari peluh seorang petani bernama Marhaen.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Isi Teks Amanat Upacara Hari Lahir Pancasila 2026, Pidato Lengkap dan Resmi dari Kepala BPIP
• 1 jam laludisway.id
thumb
6 Relawan WNI Ikut Global Sumud Land Convoy Tiba di RI
• 15 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Surati Airlangga, Pengusaha Minta Sektor Perikanan Tak Masuk DHE SDA
• 1 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Jemaah Indonesia Telat Makan Sembilan Jam Di Mina Hingga Lansia Drop
• 6 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
PG Meritjan Kediri Targetkan Produksi 2,5 Juta Kuintal Tebu pada Musim Giling 2026
• 19 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.