VIVA – Mimpi Arsenal untuk menutup musim dengan gelar Liga Champions pertama dalam sejarah kembali harus tertunda. Setelah sempat berada di atas angin, The Gunners akhirnya tumbang dari Paris Saint-Germain (PSG) melalui drama adu penalti pada final Liga Champions 2025/2026 yang berlangsung di Budapest, Hongaria.
Kekalahan itu terasa begitu menyakitkan bagi Arsenal. Pasalnya, tim asuhan Mikel Arteta datang ke partai puncak dengan kepercayaan diri tinggi setelah berhasil mengakhiri penantian panjang selama 22 tahun untuk kembali menjadi juara Liga Inggris.
Namun sepak bola tidak selalu berjalan sesuai rencana. Meski tampil impresif sepanjang musim dan berhasil mencapai final Liga Champions pertama sejak 2006, Arsenal harus menerima kenyataan pahit ketika PSG keluar sebagai kampiun Eropa.
Usai pertandingan, Arteta tidak menutupi rasa kecewanya. Pelatih asal Spanyol itu mengaku masih merasakan sakit akibat hasil yang didapat anak asuhnya.
"Tapi sekarang, saya pikir ini adalah rasa sakit," kata Arteta dalam keterangan resmi klub, Minggu 31 Mei 2026.
"Kita harus merasakannya, kita perlu melewatinya. Dan pada titik tertentu, kita harus mencoba mengubah perasaan itu menjadi bahan bakar untuk meningkatkan diri dan mencapai level yang lebih tinggi," lanjutnya.
Meski gagal membawa pulang trofi Si Kuping Besar, Arteta justru lebih banyak berbicara mengenai kebanggaannya terhadap perjuangan para pemain sepanjang musim.
Menurutnya, pencapaian Arsenal tahun ini tidak hanya diukur dari trofi atau hasil pertandingan, tetapi juga perjalanan panjang yang dilalui tim bersama-sama.
"Saya tahu keadaan yang melatarbelakangi keberhasilan kami dan semua yang telah terjadi di dalam tim untuk mencapai apa yang kami inginkan," ujarnya.
"Sekalipun saya mengucapkan terima kasih sejuta kali [kepada para pemainnya], itu pun tidak akan cukup. Dan bukan karena apa yang telah kami lakukan dengan memenangkan Liga Premier setelah sekian lama, atau mencapai final piala, atau bermain dengan cara yang kami lakukan di final Liga Champions dan hampir memenangkannya, tetapi karena momen-momen yang telah kami lalui bersama setiap hari. Dan saya pikir koneksi dalam tim adalah sesuatu yang telah kami rasakan satu sama lain," beber Arteta.





