Membaca Ayat-ayat Ekonomi dalam Puncak Haji

republika.co.id
4 jam lalu
Cover Berita

Oleh: Oman Sukmana, Deputi Direktur OJK

REPUBLIKA.CO.ID, Di bawah langit Makkah yang melengkung agung, ribuan jiwa bergerak dalam ritme yang sama. Mereka datang menanggalkan segala atribut dunia. Pangkat yang mentereng, takhta yang gemerlap dan gelar gelar yang menjadi jubah kebanggaan berganti dengan selembar kain putih tanpa jahitan.

Banyak yang memandang hajatan suci ini hanya sebagai puncak perjalanan spiritual yang murni ukhrawi. Padahal, jika diselami lebih dalam, ibadah haji sesungguhnya adalah sebuah manifestasi agung tentang bagaimana tatanan kehidupan, termasuk urusan materi dan ekonomi manusia, seharusnya dijalankan di atas bumi.

Thawaf Ifadhah dan Sirkulasi Berkelanjutan

Setelah melewati badai wukuf di Arafah, dinginnya malam di Muzdalifah serta ujian kesabaran di Mina, langkah kaki berlanjut ke sudut Hajar Aswad. Thawaf Ifadhah adalah gelombang manusia yang berputar melawan arah jarum jam, menyelaraskan gerak mikro kosmos manusia dengan makro kosmos alam semesta.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Jutaan manusia mengalir laksana air, tak ada yang boleh berhenti seketika, tak ada yang boleh memotong jalur secara paksa. Semua bergerak, berputar, dan mengalir mengitari satu poros yang sama: Baitullah.

Di dalam pusaran yang hikmat dan syahdu tersebut, tersimpan sebuah hukum ekonomi yang paling mendasar tentang sirkulasi dan distribusi.

Kekayaan dalam Islam laksana jemaah yang sedang berthawaf. Ia harus terus bergerak, mengalir, dan berpindah tangan dari yang berkecukupan kepada yang membutuhkan. Ketika harta disuntikkan kepada masyarakat yang membutuhkan dalam bentuk zakat, infak, sedekah, dan investasi yang berkeadilan, maka ia akan berputar dan menciptakan sendi-sendi kehidupan.

Sebaliknya, jika kekayaan itu mandek, menumpuk atau dimonopoli oleh segelintir orang, maka ia ibarat seorang jemaah yang tiba-tiba berhenti di tengah jalur thawaf. Ia akan menciptakan sumbatan, kekacauan, dan merusak ekosistem di sekitarnya.

Thawaf Ifadhah mengajarkan bahwa kekuatan ekonomi sebuah bangsa tidak diukur dari seberapa banyak materi yang berhasil dikumpulkan, melainkan dari seberapa lancar dan adilnya aliran itu menyentuh lapisan masyarakat hingga menciptakan multiflier effect yang menghidupkan sendi sendi ekonomi.

 

Loading...
.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;}
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
@font-face { font-family: "LPMQ"; src: url("https://static.republika.co.id/files/alquran/LPMQ-IsepMisbah.ttf") format("truetype"); font-weight: normal; font-style: normal } .arabic-text { font-family: "LPMQ"; font-weight: normal !important; direction: rtl; text-align: right; font-size: 2.5em !important; line-height: 49px !important; }
Advertisement

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Arteta Curhat Sakit Hati Usai Arsenal Kandas di Final Liga Champions: Apa Pun Bisa Terjadi dalam Adu Penalti
• 5 jam laluviva.co.id
thumb
Kemenpar dan BPJPH Terbitkan 31.548 Sertifikat Halal untuk UMKM di Desa Wisata
• 30 menit lalupantau.com
thumb
Polisi Ungkap Penyebab Sopir Taksi Online Rusak Mobil di Tol JORR
• 56 detik laludetik.com
thumb
John Herdman Berharap Proses Naturalisasi Luke Vickery dan Mitchell Baker Segera Selesai
• 22 jam lalubola.com
thumb
ZUS COFFEE Resmi Hadir di Jakarta, Bawa Menu Kopi Spesial Selera Lokal
• 21 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.