(Berita Terlarang) Lebih dari 2.000 Foto Tragedi Pembantaian Tiananmen 1989 Terungkap, Saksi Mata: Sejarah Tidak Bisa Ditutupi

erabaru.net
1 jam lalu
Cover Berita

Menjelang peringatan 37 tahun Peristiwa Tiananmen 4 Juni 1989, The Epoch Times mempublikasikan secara eksklusif lebih dari 2.000 foto sejarah yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya. Foto-foto tersebut kembali menarik perhatian dunia terhadap fakta-fakta seputar penumpasan berdarah tahun 1989. Sejumlah saksi mata Peristiwa 4 Juni mengatakan bahwa Partai Komunis Tiongkok (PKT) dapat memblokir informasi, tetapi tidak dapat menghapus ingatan sejarah.

EtIndonesia.com. Pada 27 Mei, The Epoch Times edisi bahasa mandarin merilis kumpulan foto berharga yang telah tersimpan selama 37 tahun. Jumlahnya mencapai lebih dari 2.000 lembar. Foto-foto itu mendokumentasikan secara lengkap berbagai peristiwa yang terjadi di jalan-jalan Beijing pada musim semi hingga awal musim panas 1989, termasuk lautan massa yang berkumpul secara damai di Lapangan Tiananmen, ketegangan saat pasukan darurat militer memasuki kota, hingga pemandangan tragis setelah penumpasan terjadi.

Kumpulan foto tersebut diambil oleh seorang fotografer resmi pemerintah pada masa itu. Menjelang akhir hidupnya, ia mempercayakan arsip foto tersebut kepada The Epoch Times dengan harapan dapat meninggalkan kesaksian sejarah atas peristiwa yang mana selama puluhan tahun diblokir oleh PKT.

Salah seorang pendiri Partai Demokrasi Tiongkok, Zhu Yufu, mengatakan bahwa terlalu banyak orang yang menyaksikan langsung Peristiwa 4 Juni sehingga bukti-buktinya tidak mungkin dihapus sepenuhnya oleh PKT.

“Masih ada orang-orang yang dahulu berada di dalam sistem pemerintahan yang tidak berani mengungkapkan kebenaran. Namun ketika seseorang mendekati akhir hidupnya, biasanya ia ingin mengatakan hal yang benar. Beban moral itu terlalu berat untuk dipikul seumur hidup. Kejahatan seperti ini tidak mungkin disembunyikan selamanya. PKT membantai begitu banyak anak muda di siang bolong. Siapa yang bisa menerima hal seperti itu?” ujarnya.

Zhu Yufu sendiri pernah memotret aksi pawai mahasiswa pada tahun 1989. Ia mengungkapkan bahwa bahkan sebelum penumpasan terjadi, berbagai daerah sudah mulai melakukan persiapan untuk penyelidikan dan pengawasan besar-besaran.

“Saat itu saya menjabat sebagai pimpinan serikat pekerja. Sebelum penindasan dimulai, aparat keamanan sudah memerintahkan kami untuk menyusup ke tengah mahasiswa, memotret kegiatan mereka, lalu menyerahkan foto-foto itu agar nantinya bisa digunakan untuk melakukan pembalasan setelah peristiwa berakhir,” katanya. 

Ia mengatakan bahwa setelah itu aparat berulang kali menggeledah rumahnya dan menangkapnya, dengan tujuan menghancurkan berbagai dokumen terkait Peristiwa 4 Juni.

“Mereka mengira dengan cara itu semua bukti di masyarakat akan hilang. Tetapi saya percaya selalu ada celah yang membuat kebenaran bocor keluar. Tidak ada seorang pun yang bisa menutupi langit dengan satu tangan.”

Perkiraan Korban Jauh Lebih Besar

Tiga puluh tujuh tahun telah berlalu sejak Peristiwa Tiananmen, namun PKT hingga kini belum pernah mengumumkan jumlah korban tewas secara resmi.

Sementara itu, dokumen diplomatik Inggris yang telah dideklasifikasi sebelumnya menyebut bahwa militer PKT sedikitnya menewaskan 10.000 orang dalam operasi penumpasan tersebut.

Saksi mata Peristiwa 4 Juni sekaligus sejarawan Tiongkok, Yu Luowen, berpendapat bahwa jumlah korban sesungguhnya kemungkinan jauh lebih besar daripada angka yang diketahui publik saat ini.

“Jumlah mahasiswa yang tewas pasti lebih dari 10.000 orang. Banyak mahasiswa datang dari luar Beijing. Jika warga Beijing atau mahasiswa setempat meninggal, kita mungkin masih bisa mengetahuinya. Tetapi mahasiswa dari daerah lain, siapa yang tahu? Bahkan keluarganya mungkin tidak pernah tahu bahwa anak mereka telah meninggal. Jika mereka bertanya, pemerintah mungkin hanya mengatakan bahwa anak mereka hilang. Karena itu jumlah korban yang sebenarnya sangat sulit dihitung,” ujarnya.

Pada tahun 1989, Yu tinggal di Beijing dan sering datang ke lokasi demonstrasi untuk mendukung para mahasiswa.

Ia mengenang: “Saat itu hampir seluruh masyarakat Beijing turun ke jalan. Banyak pegawai CCTV, penerbit, lembaga berita, dan berbagai kalangan masyarakat ikut mendukung mahasiswa.”

Menurut Yu, pada malam penumpasan berlangsung, ia dapat mendengar suara tembakan yang sangat intens dari rumahnya.

“Keesokan paginya, Lapangan Tiananmen sudah dibersihkan. Para mahasiswa telah diusir. Mereka yang tewas dan menjadi korban ditinggalkan di lokasi. Kawasan itu kemudian ditutup agar tidak ada yang bisa melihatnya. Setelah itu, helikopter terus-menerus mengangkut jenazah keluar dari lokasi. Korban meninggal sangat banyak,” ujarnya. 

Ia juga menyatakan bahwa pasukan militer saat itu menggunakan kendaraan lapis baja terhadap para mahasiswa, menembaki kerumunan yang sedang mundur, dan bahkan warga yang menyaksikan dari pinggir jalan juga terkena tembakan. Menurutnya, sebagian jenazah korban kemudian dimusnahkan dan dibuang untuk menghilangkan jejak.

“Peristiwa 4 Juni Adalah Aib Terbesar PKT”

Yu Luowen mengatakan bahwa Peristiwa Tiananmen menjadi titik balik bagi banyak anggota Partai Komunis sendiri.

“Peristiwa 4 Juni adalah aib terbesar Partai Komunis. Karena kejadian ini, banyak anggota partai memutuskan hubungan dengan PKT dan keluar dari partai. Bahkan anggota partai sendiri tidak dapat menerima apa yang terjadi. Mereka menganggap tindakan PKT saat itu terlalu kejam,” katanya. 

Hingga kini, PKT masih menerapkan sensor ketat terhadap segala informasi terkait Peristiwa Tiananmen. Akibatnya, banyak generasi muda di Tiongkok tidak mengetahui sejarah tersebut.

Meski demikian, di berbagai negara di luar Tiongkok, kegiatan peringatan setiap tanggal 4 Juni masih terus diselenggarakan setiap tahun.

Zhu Yufu menegaskan bahwa keluarga korban tidak pernah melupakan peristiwa itu. Mereka yang menyaksikan langsung penumpasan berdarah tersebut juga tidak melupakannya. Kini, generasi kedua keluarga korban telah tumbuh dewasa, dan ingatan sejarah mengenai Peristiwa Tiananmen akan terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Sumber : NTDTV.com

Beijing pada musim semi dan musim panas tahun 1989. (Epoch Times) Beijing pada musim semi dan musim panas tahun 1989. (Epoch Times) Beijing pada musim semi dan musim panas tahun 1989. (Epoch Times) Beijing pada musim semi dan musim panas tahun 1989. (Epoch Times) Beijing pada musim semi dan musim panas tahun 1989. (Epoch Times) Beijing pada musim semi dan musim panas tahun 1989. (Epoch Times) Beijing pada musim semi dan musim panas tahun 1989. (Epoch Times) Beijing pada musim semi dan musim panas tahun 1989. (Epoch Times) Beijing pada musim semi dan musim panas tahun 1989. (Epoch Times)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sambut Tahun Baru Islam, Ponpes Damu As’adiyah DopingAkan Gelar Festival Muharram Siapkan Banyak Doorprize
• 20 jam laluharianfajar
thumb
BMKG: Siklon Tropis JANGMI Menguat Jadi Kategori 3, Ini Dampaknya bagi Indonesia
• 5 jam lalukompas.tv
thumb
Juara Liga Tapi Dicekal FIFA, Persib Perpanjang Daftar Klub Indonesia yang Tersandung Sanksi
• 11 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
NYT: Trump pertanyakan kelayakan Vance untuk jadi penerusnya
• 11 jam laluantaranews.com
thumb
Respons Sutradara Pesta Babi Usai Mama Sinta Laporkan Dugaan Eksploitasi
• 22 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.