Pantau - Kota Xiamen, China, menjadi tuan rumah Forum Kemitraan Revolusi Industri Baru BRICS pada 27–28 Mei 2026 yang berfokus pada penguatan kerja sama industri, teknologi hijau, manufaktur cerdas, dan transformasi ekonomi rendah karbon di antara negara-negara anggota dan mitra BRICS.
Forum bertema "Membangun Ekosistem Manufaktur Cerdas untuk Mempercepat Revolusi Industri Baru" itu mempertemukan pelaku usaha, inovator, negara anggota BRICS, negara mitra, negara berkembang, serta berbagai organisasi internasional.
Salah satu peserta forum, Yang Ziyang, memanfaatkan ajang tersebut untuk memperluas kerja sama bisnis dengan pelaku usaha dari negara-negara BRICS.
Perusahaannya mengolah bambu dari wilayah pegunungan Fujian menjadi granula serat sebagai alternatif pengganti plastik yang ramah lingkungan.
Yang mengatakan, "Nilai pesanan dari negara-negara BRICS lainnya pada tahun ini telah melampaui 100 juta yuan."
Nilai tersebut setara sekitar 14,7 juta dolar AS.
Menurut Yang, meningkatnya larangan penggunaan plastik di sejumlah negara BRICS membuka peluang besar bagi industri bahan ramah lingkungan.
Peluang Investasi dan Kolaborasi Industri MenguatDalam beberapa tahun terakhir, negara-negara BRICS memprioritaskan kerja sama di bidang manufaktur cerdas, kecerdasan buatan (artificial intelligence), pembangunan hijau dan rendah karbon, perangkat lunak industri, elektronika energi, serta infrastruktur digital.
Tujuan kerja sama tersebut adalah memperkuat kolaborasi industri, membuka peluang investasi, dan menciptakan manfaat ekonomi bersama.
CEO perusahaan sistem informasi rumah sakit asal Indonesia, Evlin Marcelline, hadir dalam forum untuk mencari mitra teknologi dari China.
Evlin mengatakan, "Kami menargetkan waktu kurang dari enam bulan untuk menemukan perusahaan dari China guna menjalankan proyek percontohan di Indonesia. Setelah itu, kami mungkin akan membentuk usaha patungan."
Salah satu contoh kerja sama besar yang disorot dalam forum adalah proyek antara CATL dan dua perusahaan Indonesia.
Proyek tersebut mencakup penambangan dan peleburan nikel, produksi material baterai, pembuatan sel baterai, hingga daur ulang baterai.
Nilai investasi proyek tersebut diperkirakan mencapai hampir 6 miliar dolar AS.
Pendiri sekaligus Chairman CATL, Robin Zeng, menyebut kerja sama tersebut sebagai proyek yang saling menguntungkan bagi seluruh pihak.
Robin mengatakan, "Revolusi industri baru bukanlah sekadar peningkatan dari industri tradisional, melainkan transformasi industri yang didorong secara bersamaan oleh teknologi hijau dan teknologi cerdas."
China Perkuat Manufaktur Cerdas dan Kerja Sama BRICSChina pertama kali mengusulkan pembentukan Kemitraan Revolusi Industri Baru BRICS pada 2018.
Pada 2020, BRICS PartNIR Innovation Center didirikan di Xiamen untuk mendukung kolaborasi industri antarnegara anggota.
Sejak berdiri, pusat inovasi tersebut telah menyelenggarakan lebih dari 40 kegiatan pencocokan kerja sama dua arah dan lebih dari 90 sesi pelatihan talenta.
Sebanyak 138 proyek kerja sama telah ditandatangani melalui pusat inovasi tersebut dengan total nilai investasi melebihi 62 miliar yuan.
Menteri Perindustrian dan Teknologi Informasi China, Li Lecheng, mengatakan negaranya telah menjadi pasar terbesar dunia dalam penerapan manufaktur cerdas.
Li mengatakan China akan terus memperluas penerapan manufaktur cerdas serta memperdalam kerja sama internasional di bidang standar, sertifikasi, industri, dan pengembangan talenta.
Forum BRICS di Xiamen menegaskan bahwa teknologi hijau, manufaktur cerdas, kecerdasan buatan, dan transformasi industri rendah karbon menjadi fokus utama kerja sama ekonomi negara-negara BRICS untuk mendorong pertumbuhan yang lebih berkelanjutan dan kompetitif.
/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2026%2F05%2F31%2F9974ce737e219aaa6185c12ebccdc054-WhatsApp_Image_2026_05_31_at_16.42.49_1_.jpeg)



