Pendar Lampion Waisak di Bundaran HI Rajut Pesan Toleransi Umat

metrotvnews.com
7 jam lalu
Cover Berita

Jakarta: Cahaya pendar lampion Hari Raya Waisak yang menghiasi sudut jantung ibu kota tidak sekadar mempercantik lanskap kota di kala malam. Bagi warga lintas agama yang memadati ruang publik, instalasi penuh makna ini menjelma menjadi jembatan syahdu yang ampuh dalam merajut tali toleransi sekaligus menjadi destinasi rekreasi murah meriah di hari libur.

"Bisa kayak nge-share pesan juga ke teman-teman aku yang merayakan Waisak lewat instalasi ini," tutur warga asal Jakarta, Tiva, saat berbincang dengan Metrotvnews.com di kawasan Bundaran HI, Minggu, 31 Mei 2026.
 

Baca Juga :

Lorong Lampion dan Miniatur Borobudur Hiasi Waisak di Bundaran HI

Sebagai warga non-Buddha, Tiva mengaku langsung terpukau saat pertama kali melintasi instalasi megah bertajuk “Illumination of Jakarta, Glow of Peace” ini. 

Guratan estetik lampion yang memancarkan kehangatan malam terbukti sukses mengetuk rasa penasaran sekaligus apresiasi mendalam dari dirinya terhadap hari besar keagamaan sesama anak bangsa. 

Baginya, mengabadikan visual lampion ini lewat gawai menjadi cara barunya dalam mengirimkan ucapan selamat yang menyentuh bagi para sahabatnya yang merayakan.

"Sebenarnya kalau menurut aku sih menarik kalau untuk spot foto-foto juga sih bagi wisatawan gitu ya. Karena memang aku sendiri pas kulihat ini tuh salfok (salah fokus) saja sih, langsung kayak ingin foto, gitu," jelas Tiva sembari tersenyum.


Instalasi yang dipajang di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, menjadi magnet masyarakat selama momentum perayaan Hari Raya Waisak 2570 Buddhist Era (BE). Foto: Metro TV/Rifda Muthia Zahra.

Daya tarik visual yang luar biasa kuat ini memang seketika mengubah fungsi pelataran pedestrian menjadi panggung berswafoto massal bagi warga. Di mata Tiva, ruang terbuka publik yang ditata secara estetik dan inklusif seperti ini terasa sangat ramah, aman, dan cocok dijadikan sebagai alternatif wisata urban yang menyegarkan di tengah penatnya atmosfer kota.

Lebih dari sekadar berburu latar foto yang ciamik, kehadiran ornamen keagamaan di tengah pusat mobilitas warga ini mengemban misi yang jauh lebih mulia. Ruang publik secara tidak langsung telah mengambil peran sebagai ruang kelas terbuka tanpa sekat, tempat masyarakat awam mulai meraba dan menyelami makna di balik ritual keagamaan yang ada.

“Orang juga jadi tahu perayaan Waisak itu identik dengan apa,” imbuh Tiva.

Melalui pendaran lampion yang benderang, warga yang awalnya tidak familier dengan tradisi Buddhis kini pulang dengan membawa pemahaman baru yang lebih hangat. 

Jakarta malam ini membuktikan bahwa dari sekat-sekat ruang publik yang terbuka bagi semua kalangan, benih-benih kepedulian dan rasa saling menghargai antarumat beragama dapat tumbuh subur secara natural.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Universitas Pattimura Bentuk Pusat Studi untuk Perkuat Riset Kepulauan dan Dukung Pembangunan Maluku
• 6 jam lalupantau.com
thumb
Pasca Yuran Fernandes Hengkang, PSM Makassar Memasuki Era Penentuan Komposisi Pemain Asing Akan Ditentukan Pelatih Baru, Siapa Saja?
• 3 jam laluharianfajar
thumb
Polres Cianjur Arahkan Pengendara ke Jalur Alternatif Jonggol dan Sukabumi Hindari Macet Puncak
• 1 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Polisi Tangkap 2 Curanmor Gasak Motor Dikunci Stang di Gang Jakpus
• 13 jam laludetik.com
thumb
60 Hektare Lahan di Pelalawan Riau Terbakar
• 7 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.