Revitalisasi Turāts dan Tantangan Kontemporer: Meneladani Pemikiran Hasan Hanafi

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

Sering kali, keberagaman kita terjebak pada formalitas ritual dan kemegahan fisik yang kontras dengan realitas sosial yang memilukan. Iman seharusnya tidak berhenti di batas sajadah sebagai mantra penenang pasif, tetapi harus hadir sebagai jawaban atas kemiskinan dan ketidakadilan di sekitar kita. Ketika rumah ibadah berdiri megah tapi mengabaikan lapar dan deritanya warga di bawah bayang-bayang menaranya, di situlah letak kegagalan kita dalam menerjemahkan nilai-nilai ketuhanan ke dalam aksi kemanusiaan.

Inspirasi dari Masjid Jogokariyan dan Masjid Kapal Munzalan menunjukkan bahwa teologi pembebasan ala Hasan Hanafi bisa diwujudkan dengan mengubah kas masjid menjadi pusat ketahanan sosial. Dengan menolak fatalisme atau kepasrahan buta terhadap nasib, iman sejatinya adalah bahan bakar untuk membongkar kemiskinan struktural dan menghidupkan keadilan. Pilihannya kini ada pada kita: Apa tetap nyaman dalam kesalehan yang menutup mata, atau berani menjadikan tauhid sebagai gerakan nyata yang menyentuh luka sosial masyarakat?

Mengenal Hasan Hanafi Lebih Dekat

Hasan Hanafi lahir di Kairo, Mesir, pada tanggal 13 Februari 1935. Sejak muda, ia menyaksikan pergolakan politik, intervensi kolonial, dan krisis multidimensi yang melanda dunia Islam. Ia menyelesaikan studi sarjana filsafat di Universitas Kairo pada tahun 1956. Setelah itu, Hanafi melanjutkan petualangan akademiknya ke Universitas Sorbonne, Prancis, dari tahun 1956 hingga 1966.

Di Eropa, ia mendalami filsafat modern, metode yang kompleks, serta fenomenologi Edmund Husserl (Hanafi, 1992: 45). Selama sepuluh tahun di Prancis, ia meneliti akar epistemologi dan peradaban Barat secara mendalam. Pengalaman ini membentuk sudut pandang kritisnya yang sangat tajam, dimulai dari mempelajari, mengagumi, mengkritik, hingga mengembangkan sikap penolakan keras terhadap peradaban Barat. Ia menguasai tradisi Islam sekaligus memahami isi kepala sarjana Barat. Kombinasi langka ini melahirkan proyek intelektual yang sangat raksasa.

Produk Pemikiran Hasan Hanafi: Membalik Kuasa Barat dan Timur

Salah satu proyek terbesarnya yang relevan hari ini adalah Oksidentalisme (Istighrāb), yang lahir sebagai komponen inti dari proyek besar Al-Turāts wa Al-Tajdīd (Tradisi dan Pembaruan). Oksidentalisme adalah ilmu yang mempelajari Barat dari perspektif Timur sebagai objek kajian kritis (Hanafi, 1992: 12).

Selama berabad-abad, Timur selalu menjadi objek kajian atau Orientalisme, yang secara sistematis mengidealkan Barat yang rasional sekaligus merendahkan Timur sebagai entitas yang irasional, statis, dan inferior (Said, 1979: 89). Barat meneliti kita, mendefinisikan kita, lalu mendikte cara hidup kita.

Melalui Oksidentalisme, Hanafi membalikkan posisi hubungan subjek dan objek tersebut. Kini, giliran non-Eropa yang menjadi subjek pengkaji yang membedah, menguliti, dan mengkritik epistemologi Barat. Kita harus menempatkan Barat secara proporsional dalam panggung kebudayaan guna menghapus Eurosentrisme (Hanafi, 2000: 76). Barat bukanlah kiblat tunggal kemajuan dan bukan sumber tunggal dari kebenaran universal yang harus diadopsi secara mutlak.

Algoritma dan Ancaman Kolonialisme Digital

Konsep Oksidentalisme ini menemukan urgensinya pada era algoritma sekarang. Hari ini, kita menghadapi bentuk penjajahan baru bernama Kolonialisme Digital, yaitu kondisi ketika data dan infrastruktur teknologi didominasi oleh perusahaan-perusahaan Barat sebagai bentuk imperialisme kultural dan ekonomi baru (Ruagadi et al., 2024: 112). Algoritma media sosial mengendalikan cara kita berpikir, berperilaku, dan beragama, mengikis tradisi lokal melalui hegemoni platform digital.

Kita secara sukarela menyerahkan data pribadi demi kesenangan media sosial. Secara tidak sadar, kesadaran kolektif kita dijajah oleh korporasi raksasa. Budaya lokal dan nilai spiritual perlahan digusur oleh tren global melalui gelombang westernisasi (Tohari, 2022: 201). Umat Islam sering kali hanya menjadi konsumen digital dan konsumen teknologi yang pasif. Kita terjebak dalam arus informasi tanpa kendali di atasnya. Akan tetapi, orang berakal sehat dan beriman sudah pasti mawas diri dari penjajahan kolonialisme digital ini.

Revitalisasi Turāts

Di sinilah revitalisasi turāts (tradisi klasik) atau tradisi Islam menjadi sangat penting dengan menaklukkan teknologi dan merawat tradisi. Hanafi menegaskan bahwa tradisi harus bertransformasi menjadi ilmu yang memerdekakan dan praktis (Hanafi, 2001: 58). Kita tidak boleh memperlakukan teks klasik secara statis, dogmatis, dan kaku. Tradisi keilmuan pesantren harus didekatkan dan dibumikan dengan realitas sosial kontemporer.

Membaca turāts harus bisa menjawab tantangan hegemoni digital dan neoliberalisme hari ini. Kita perlu mengubah pola pikir peniruan (an-naql/taqlīd) menjadi pola pikir inovasi (al-ibdā’) (Hanafi, 2001: 92). Nilai-nilai Islam harus menjadi filter kritis terhadap serbuan budaya luar untuk mempertahankan identitas diri dari westernisasi. Teknologi harus ditaklukkan untuk kemaslahatan, bukan untuk memperbudak pikiran kita. Santri tidak boleh gagap, tapi juga tidak boleh larut.

Jihad Intelektual Rebut Kembali Kedaulatan Digital

Melawan kolonialisme modern memerlukan kesadaran epistemologis yang kokoh dengan menempatkan diri sebagai subjek yang mandiri, merdeka, dan percaya diri. Kita tidak perlu anti-Barat, tapi harus mampu menggunakan pengalaman peradaban lain sebagai analogi (qiyās) untuk menyelesaikan masalah bangsa tanpa harus larut dalam arus konsumtif narasi global. Gawai yang kita genggam semestinya tidak hanya digunakan untuk mengikuti tren, tetapi juga menjadi instrumen intelektual untuk mempertahankan kedaulatan berpikir di tengah gempuran teknologi.

Kini, saatnya mengambil tindakan nyata di ruang digital dengan memproduksi konten keislaman yang mencerahkan, inklusif, dan sesuai dengan nilai moderasi Aswaja. Penguasaan algoritma media sosial harus diarahkan untuk menyuarakan keadilan bagi kaum tertindas serta membendung arus hoaks dan kebencian. Jadikan jemari sebagai senjata jihad intelektual untuk membuktikan bahwa tradisi pesantren mampu memimpin peradaban modern melalui kekuatan pemikiran yang autentik. Bergeraklah sekarang, karena diam hanya akan membiarkan pikiran kita membeku dalam ketertinggalan.

Kesimpulan

Berdasarkan pemikiran Hasan Hanafi di atas, keimanan sejati tidak boleh berhenti pada ritual pasif, tetapi harus diwujudkan dalam aksi kemanusiaan nyata untuk membongkar kemiskinan struktural, sebagaimana dicontohkan oleh tata kelola sosial Masjid Jogokariyan dan Kapal Munzalan.

Di era kontemporer ini, gagasan Oksidentalisme Hanafi menjadi instrumen epistemologis yang krusial untuk membalikkan posisi Timur dari objek menjadi subjek mandiri, guna meruntuhkan Eurosentrisme dan menghadapi tantangan "Kolonialisme Digital".

Oleh karena itu, umat Islam, khususnya tradisi pesantren, perlu merevitalisasi turāts dari sekadar peniruan menjadi inovasi praktis, serta melakukan jihad intelektual di ruang digital dengan menguasai algoritma untuk menyebarkan moderasi Aswaja, membendung hoaks, dan menyuarakan keadilan. Keseluruhan proyek filosofis ini pada akhirnya berfungsi sebagai benteng sekaligus strategi transformatif untuk mengubah umat dari konsumen pasif teknologi menjadi subjek peradaban modern yang berdaya saing, mandiri, dan egaliter.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Tendang Brasil dan Lolos ke Final IFA7 World Championship 2026, Indonesia Selangkah Lagi Raih Trofi
• 7 jam lalubola.com
thumb
Hasil Moto3 Italia 2026: Gagal Podium, Veda Harus Puas Finis di Posisi Kedelapan
• 7 jam lalumedcom.id
thumb
Disdik Kepri: Larangan siswa bawa ponsel ke sekolah diterapkan 2027
• 9 jam laluantaranews.com
thumb
Viral Bawa Sajam Saat Konvoi, Ketua Geng Motor Diringkus Polisi!
• 3 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Ryamizard Ryacudu di Mata Gatot Nurmantyo dan Hadi Tjahjanto
• 4 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.