Mama Sinta di Tengah Polemik Film "Pesta Babi"

kompas.id
8 jam lalu
Cover Berita

Keluarga kehilangan kontak dengan Yasinta Moiwend, perempuan adat Malind dari Merauke, Papua Selatan, sejak 24 Mei 2026. Mereka tidak tahu pasti keberadaannya sampai muncul laporan terhadap Ketua Lembaga Bantuan Hukum Papua Merauke Johnny Teddy Wakum di Polda Metro Jaya, Jakarta, 29 Mei 2026.

Yasinta atau Mama Sinta melaporkan Johnny karena merasa tidak ada pembicaraan khusus tentang pembuatan hingga pemutaran film dokumenter ”Pesta Babi”. Warga Kampung Wogekel, Distrik Ilwayab itu, kaget melihat wajahnya ada dalam poster dan tayangan film dokumenter tersebut saat berada di Jayapura, Papua, 8 April 2026.

Film dokumenter ”Pesta Babi” berdurasi 1 jam 35 menit. Isinya mengambil latar di Papua Selatan dengan titik utama cerita adalah Merauke, Boven Digoel, dan Mappi.

Tayangannya mengisahkan kehidupan masyarakat adat suku Marind, Awyu, Yei, dan Muyu. Mereka disebut kehilangan tanah dan ruang hidupnya akibat ekspansi proyek perkebunan tebu, sawit, hingga food estate. Adegan-adegannya juga menggambarkan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang terjadi atas nama Proyek Strategis Nasional/PSN (Kompas, 23 Mei 2026).

Kompas mendapatkan video berisi penjelasan keluarga Mama Sinta tentang polemik itu, Minggu (31/5/2026). Video berdurasi 6 menit 41 detik itu diteruskan kolaborator film ”Pesta Babi”, yakni Ekspedisi Indonesia Baru, Greenpeace Indonesia, Jubi Media, LBH Papua Merauke, Pusaka Bentala Rakyat, dan Watchdoc.

Keluarga Mama Sinta dalam video menyebut semua bermula pada 23 Mei 2026. Hari itu muncul video berisi pernyataan kekecewaan Mama Sinta terhadap film dokumenter ”Pesta Babi”.

Mereka lantas mencoba berkomunikasi dengan beliau. Namun, komunikasi itu terputus sejak 24 Mei. "Mulai dari 24 Mei 2026, kami kehilangan kontak dengan beliau," ujar salah satu keluarga.

Baca JugaTim Hukum Sebut Mama Sinta Terbuka untuk Penyelesaian Polemik ”Pesta Babi”
Baca JugaYasinta Moiwend Merasa Dirugikan ”Pesta Babi” hingga Polisikan Ketua LBH Papua Merauke

Menurut keluarga, putusnya komunikasi itu menimbulkan dugaan Mama Sinta berada di bawah pengaruh atau tekanan pihak tertentu. Sebab, sejak 24 Mei, Mama Sinta tidak bermalam di rumahnya.

Pada 25 Mei, Mama Sinta disebut diduga dibawa pergi dari kampung tanpa sepengetahuan keluarga menggunakan kapal laut ke Merauke. Namun, belakangan keluarga memperoleh informasi bahwa Mama Sinta melanjutkan perjalanan menggunakan pesawat menuju Timika maupun Boven Digoel.

Keluarga mengaku tidak dapat memastikan informasi tersebut. "Saat itu kami sudah tidak tahu keberadaan beliau (Mama Sinta)," kata keluarga.

Lapor polisi di Jakarta

Keluarga baru bisa berkomunikasi dengan Mama Sinta lagi pada 29 Mei. Mereka memperoleh informasi bahwa rombongan yang sebelumnya membawa Mama Sinta telah kembali ke Wanam menggunakan helikopter.

Keluarga lalu berkomunikasi melalui gawai salah seorang aparat dengan Mama Sinta di Jakarta. Saat itu, Mama Sinta meminta dikirimkan identitas kependudukan, yaitu KTP dan kartu keluarga milik seorang saudaranya.

Menurut keluarga, Mama Sinta menyampaikan bahwa akan bertemu Presiden. Semua komunikasi tersebut terjalin setelah Mama Sinta mendatangi Polda Metro Jaya bersama kuasa hukumnya, TS Hamonangan Daulay, untuk membuat laporan polisi bernomor LP/B/3843/V/2026/SPKT/Polda Metro Jaya.

Keluarga juga meminta berbagai pihak, baik itu Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, dan Komnas Perempuan, untuk mengawal keberadaan Mama Sinta.

"Sampai sekarang, kami belum tahu kondisi mama, apakah beliau baik-baik di Jakarta atau diintimidasi segala macam," tutur keluarga.

Di hari yang sama beredar video berisi bantahan dari Mama Sinta terhadap narasi yang beredar di publik. Ia mengaku tidak diajak pihak tertentu serta tidak dibawa dengan kapal dan pesawat jet.

"Itu tidak benar, itu tidak benar. Tidak benar. Saya naik pesawat, pesawat biasa dengan penumpang. Saya tidak naik kapal ke Merauke atau ke Boven Digoel dengan pesawat helikopter. Itu tidak ada. Itu omong kosong. Itu namanya provokator," kata Mama Sinta.

Ia juga menyampaikan bahwa datang sendiri tanpa adanya intimidasi. Kedatangannya ke Jakarta karena urusan harga diri. Mama Sinta kembali mengulang pernyataannya di Polda Metro Jaya pada 29 Mei karena wajahnya tampil dalam poster dan film ”Pesta Babi” tanpa izin.

"Jangan kaitkan permasalahan saya, perasaan saya, dengan PSN. Itu terlepas dari PSN. Ini (tentang) harga diri saya yang membuat saya datang ke Jakarta," ucapnya.

Tim kuasa hukum Mama Sinta memastikan laporan polisi bukan soal esensi film, melainkan soal perlindungan data pribadi. Mereka membuka diri untuk berdialog dengan berbagai pihak.

”Karena laporan kami fokus kepada hak-haknya Mama Sinta, perlindungan data pribadi. Tidak ada narasi film, tidak ada nuansa politik, tidak ada tekanan dari mana-mana, enggak ada,” kata TS Hamonangan Daulay, kuasa hukum Mama Sinta, Minggu (31/5/2026).

Kolaborator film ”Pesta Babi” dalam keterangannya mengharapkan hal yang sama dengan keluarga. Mama Sinta bisa segera pulang kepada keluarga. "Dengan tulus kami juga berharap bisa bertemu langsung dengan Mama Sinta, bersama keluarga beliau, untuk bicara dari hati ke hati," tulis kolaborator dalam keterangannya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dua Lipa dan Callum Turner Menikah, Gelar Intimate Wedding di London
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
Buntut Ambles, Pemprov Jakarta Tutup Sementara Jalan Lenteng Agung-Depok
• 1 jam lalubisnis.com
thumb
Cara Download Sertifikat Haji Resmi dari Arab Saudi, Tinggal Scan Kartu Nusuk
• 23 jam lalubisnis.com
thumb
Kenang Sosok Ryamizard, Megawati: Beliau Sosok Prajurit Negarawan
• 5 jam lalujpnn.com
thumb
Kloter 5 Debarkasi Surabaya Siap Pulang, Ini Persiapan yang Wajib Dilakukan
• 20 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.