Di hadapan deretan prangko, surat, dan kartu pos yang tersimpan dalam etalase kaca, Ardiansyah tak berhenti membaca keterangan yang menyertainya. Siswa kelas VI sekolah dasar itu sesekali menunjuk koleksi yang menarik perhatiannya sambil berdiskusi dengan anggota keluarganya.
Siang itu, ia datang bersama keluarganya untuk mengunjungi pameran Dalam Cengkeraman Saudara Tua: Jejak Pendudukan Jepang di Indonesia dalam Arsip Filateli (1942-1945), di Rumah Pohan, Kota Lama, Kota Semarang. Baginya, pengalaman tersebut menghadirkan pelajaran sejarah yang berbeda dari apa yang biasa ditemui di bangku sekolah, Senin (1/6/2026).
Dalam prangko dan surat itu, pengunjung dapat melihat sepotong sejarah pendudukan Jepang serta memahami kehidupan masyarakat pada masa itu. Pengalaman tersebut menambah pengetahuan dari secarik kertas atau foto.
Tampak beberapa pengunjung lain mengamati setiap koleksi arsip yang dipamerkan bersama sebuah film dokumenter. Melalui benda-benda yang tampak sederhana, seperti prangko, surat, kartu pos, cap sensor, dan dokumen perizinan, pengunjung diajak membaca kembali jejak pendudukan Jepang dari sisi kehidupan sehari-hari kala itu.
Pameran yang dikuratori Kesit Wijanarko dan Mozes Christian Budiono itu berangkat dari gagasan bahwa sejarah tidak hanya tersimpan dalam peristiwa besar, tetapi juga dalam benda-benda yang pernah hadir dalam keseharian warga. Dari arsip filateli itulah tergambar bagaimana Jepang membangun sistem pengawasan, mengendalikan arus informasi, sekaligus menyebarkan propaganda selama masa pendudukan 1942-1945.
Prangko-prangko peninggalan Hindia Belanda yang dicetak ulang dengan tulisan ”Dai Nippon”, surat yang harus melewati sensor, serta berbagai formulir administrasi menjadi bukti bagaimana kekuasaan menjangkau ruang-ruang pribadi masyarakat. Benda-benda pos tidak lagi sekadar alat komunikasi, tetapi juga bagian dari infrastruktur kontrol negara.
Meski demikian, arsip yang dipamerkan juga memperlihatkan sisi lain dari kehidupan pada masa perang. Di balik pengawasan yang ketat, masyarakat tetap berusaha menjaga hubungan dengan keluarga dan kerabat melalui surat-menyurat. Di tengah tekanan dan ketidakpastian, secarik surat menjadi cara sederhana untuk mempertahankan harapan.
Pameran ini tidak hanya menarik perhatian kalangan kolektor atau pegiat sejarah. Sejumlah pengunjung dari generasi Z tampak memenuhi ruang pamer. Mereka mengamati koleksi, membaca narasi kuratorial, serta mengabadikan sejumlah arsip menggunakan telepon genggam.
Kehadiran generasi muda menunjukkan bahwa sejarah masih menemukan relevansinya di tengah era digital. Alih-alih memandang arsip sebagai benda masa lalu yang jauh, mereka menemukan cerita tentang manusia, kekuasaan, dan kehidupan sehari-hari yang masih terasa dekat dengan pengalaman masa kini.
Melalui arsip, surat, dan berbagai benda pos lainnya, pameran ini mengingatkan bahwa sejarah tidak selalu berbicara lewat dentuman senjata atau pergantian rezim. Kadang, sejarah justru bersembunyi di atas secarik amplop yang berpindah dari satu tangan ke tangan lain, membawa kabar, harapan, sekaligus jejak zaman yang melahirkannya.





