Bisnis.com, DENPASAR – Kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali hingga Mei 2026 mengalami penurunan jika dibandingkan dengan periode yang sama di 2025.
Gubernur Bali Wayan Koster menjelaskan kunjungan wisman ke Bali turun sekitar 7% pada Mei 2026, dan pada April 2026 turun 9%. Hal ini terjadi dampak dari kondisi global seperti perang Amerika Serikat dengan Iran yang menyebabkan rute penerbangan Eropa ke Bali dengan transit di Timur Tengah terganggu.
Walaupun terjadi penurunan, Koster mengklaim hal tersebut tidak berdampak ke Pajak Hotel dan Restoran (PHR) yang diterima oleh Pemerintah Kabupaten/Kota di Bali.
"Saya sudah cek, PHR dari 1 Januari - 27 Mei 2026 sudah mencapai 2,89 Triliun. Naik jika dibandingkan dengan periode yang sama di 2025 yang nilainya Rp2,62 triliun. Sampai 31 Mei 2026 kami proyeksikan penerimaan PHR Rp2,9 triliun, jadi meningkat Rp300 miliar," jelas Koster kepada media dikutip Senin (1/6/2026).
Koster merinci penerimaan PHR senilai Rp2,9 triliun tersebut berasal dari penerimaan pajak hotel Rp1,8 triliun dan Rp1,1 triliun pajak restoran. Jika dilihat per Kabupaten/Kota, penerimaan PHR naik di 7 Kabupaten/Kota, dan hanya turun di Kabupaten Klungkung dan Buleleng.
Menurut Koster, naiknya penerimaan PHR di tengah penurunan angka kunjungan wisman menandakan wisatawan yang datang ke Bali saat ini merupakan wisatawan berkualitas, dengan belanja atau spending yang besar, kemudian menginap di hotel yang resmi, berizin dan membayar pajak.
"Bisa jadi yang 7% tidak datang itu selama ini menginapnya di hotel yang tidak berizin," kata Koster.
Koster menyebut Bali saat ini tidak lagi hanya menghitung kuantitas wisman yang berkunjung, melainkan fokus mendorong kedatangan wisman yang berkualitas. Ia juga menyebut sedang menertibkan airbnb yang memfasilitasi hotel atau penginapan yang belum berizin.
Koster juga telah mengumpulkan online travel agent (OTA) beberapa waktu lalu untuk membahas penertiban hotel, villa yang tidak resmi.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Achris Sarwani menjelaskan walaupun perlu didorong pemerataan kunjungan wisman agar tidak terkonsentrasi di kawasan Bali Selatan seperti Denpasar, Badung, Gianyar dan Tabanan.
“Perlu pemerataan sehingga dampak PHR lebih dirasakan,” kata Achris.





