Mahalnya harga avtur mulai berdampak ke sektor pariwisata, terutama di negara kepulauan yang bergantung pada wisatawan mancanegara.
Dikutip dari Bloomberg, Senin (1/6), destinasi seperti Maladewa, Mauritius, Seychelles, dan Sri Lanka sangat bergantung pada maskapai Teluk seperti Emirates, Etihad Airways, dan Qatar Airways untuk mendatangkan wisatawan.
Namun, trafik penerbangan maskapai-maskapai tersebut menurun akibat meningkatnya risiko keamanan di kawasan Teluk Persia.
Di sisi lain, maskapai yang tetap melayani rute ke destinasi tersebut harus memutar jalur penerbangan hingga tiga jam untuk menghindari zona konflik, sehingga konsumsi bahan bakar dan tarif tiket ikut naik.
Biaya perjalanan juga terdorong oleh kenaikan premi asuransi risiko perang untuk penerbangan yang melintas dekat wilayah terdampak.
Kondisi ini membuat sejumlah negara mulai mengevaluasi ketergantungan mereka pada wisatawan dari Eropa dan Timur Tengah yang rentan terdampak gejolak geopolitik.
Sepinya Hotel di Maladewa
Dampak lesunya penerbangan juga dirasakan industri pariwisata Maladewa. Trans Maldivian Airways mencatat jumlah penumpang harian anjlok 22 persen menjadi sekitar 2.300 orang dibandingkan tahun lalu.
CEO maskapai tersebut, AUM Fawzy, mengatakan banyak resor kini setengah kosong, bahkan sebagian mengalami penurunan bisnis hingga lebih dari 90 persen akibat berkurangnya penerbangan internasional.
Kondisi serupa dialami pemilik penginapan lokal, Fazail Lutfi. Ia mengaku belum menerima tamu sejak wisatawan asal Italia meninggalkan penginapannya pada Maret. Pemesanan kamar seharga USD127 per malam juga anjlok tajam.
Pariwisata menyumbang hampir 30 persen ekonomi dan 60 persen devisa Maladewa. Karena sekitar sepertiga wisatawan masuk melalui hub penerbangan di negara-negara Teluk, gangguan penerbangan di kawasan tersebut langsung mengancam sektor pariwisata dan ribuan mata pencaharian.
Maladewa, negara berpenduduk sekitar 500.000 jiwa yang menerima 2,25 juta wisatawan pada tahun lalu, mengalami tekanan besar di sektor pariwisata.
Lonjakan harga bahan bakar membuat maskapai bisnis BeOnd menghentikan operasinya, menghilangkan 10 penerbangan mingguan yang biasa membawa sekitar 700 wisatawan premium dari Eropa.
Kelompok industri pariwisata setempat memperkirakan hotel dan pelaku usaha wisata telah kehilangan pendapatan sekitar USD 500 juta sejak Maret, sementara banyak wisma dan agen perjalanan terancam bangkrut.
Untuk menarik wisatawan, sejumlah hotel menawarkan diskon hingga 35 persen, bahkan beberapa resor mengurangi layanan akibat penurunan tingkat hunian. Dampaknya juga merembet ke bisnis pendukung, termasuk penyelenggara pernikahan yang mencatat penundaan acara.
Meski demikian, segmen wisata mewah relatif lebih tahan. Operator hotel seperti Minor International dan Marriott International melaporkan minat wisatawan tetap terjaga, terutama dari pasar Asia yang tidak bergantung pada hub penerbangan di kawasan Teluk.
Sri Lanka hingga Afrika
Selain Maladewa, kedatangan wisatawan ke Seychelles pada Maret dan April juga turun sepertiga dibandingkan tahun sebelumnya. Sama seperti Maladewa, Sri Lanka, mengalami penurunan wisatawan tajam hingga 22 persen pada bulan April.
Operator tur gencar memasarkan kepada wisatawan India, yang dapat mencapai pulau tersebut dengan penerbangan langsung hanya beberapa jam.
SSR Travel Solutions, yang mengatur hotel dan wisata untuk para pelancong di wilayah tersebut, mengatakan bahwa pemesanan dari Prancis, Italia, dan Spanyol telah turun hingga setengah dari level tahun lalu.
“Pasar Eropa adalah pendorong utama, dan koneksi penerbangan mengalami penurunan. Beberapa hotel berusaha menjual inventaris pada titik di mana saya rasa mereka bahkan tidak berusaha untuk mencapai titik impas. Mereka hanya mencoba untuk mengurangi kerugian," kata kepala pemasaran SSR, Sidhant Rao.





