Sedikitnya 46 orang meninggal dunia dan puluhan lainnya terluka akibat ledakan dahsyat yang terjadi di Desa Kaung Tat, Kecamatan Namkham, Negara Bagian Shan, Myanmar, yang berada dekat perbatasan China, Minggu (31/5/2026).
Melansir laporan BBC, Senin (1/6/2026), tim penyelamat setempat menyebut enam anak, termasuk seorang balita berusia satu tahun, menjadi bagian dari korban meninggal dalam insiden tersebut.
Selain menelan puluhan korban jiwa, ledakan juga menyebabkan kerusakan parah pada permukiman warga. Sekitar 200 rumah di Desa Kaung Tat dan 100 rumah di Desa Pan Lone dilaporkan rusak akibat kuatnya daya ledak.
Kelompok bersenjata Ta’ang National Liberation Army (TNLA), yang menguasai wilayah tersebut, menyatakan ledakan berasal dari gudang penyimpanan bahan peledak yang digunakan untuk kegiatan pertambangan. Menurut TNLA, ledakan terjadi sekitar pukul 12.00 waktu setempat.
“Akibat ledakan ini, banyak warga kehilangan nyawa, mengalami luka-luka, dan rumah mereka mengalami kerusakan,” tulis TNLA dalam pernyataan resminya.
Sebelumnya, sejumlah sumber di lapangan memperkirakan jumlah korban meninggal mencapai 55 orang. Namun hingga Minggu malam, tim penyelamat mengonfirmasi 46 korban meninggal dunia, termasuk tiga warga negara China.
Seluruh jenazah korban telah dikremasi pada Minggu malam. Sementara itu, operasi pencarian dan penyelamatan dijadwalkan kembali dilanjutkan pada Senin. Sedangkan sebanyak 74 korban luka telah dievakuasi ke Rumah Sakit Umum Namkham untuk menjalani perawatan medis.
Rekaman dari lokasi kejadian memperlihatkan sebuah kawah besar di area ledakan yang dikelilingi bangunan-bangunan hancur. Asap masih terlihat membumbung dari puing-puing rumah dan pepohonan yang hangus terbakar.
Seorang warga yang selamat mengaku sempat mengira ledakan tersebut berasal dari serangan udara.
“Dengan keberuntungan luar biasa, ponsel saya menyelamatkan hidup saya. Saat itu saya sedang makan mie di kamar sambil melihat ponsel. Kalau saya makan di dapur, mungkin saya sudah tidak hidup lagi,” tulisnya di media sosial.
Warga tersebut hanya mengalami luka ringan pada kaki, meski rumahnya hancur akibat ledakan. Ia menggambarkan suasana pascaledakan sebagai kondisi yang sangat mencekam.
“Orang-orang menangis dan memanggil orang tua mereka. Rasanya seperti dunia telah berakhir,” katanya.
Sejumlah warga juga mempertanyakan keberadaan fasilitas penyimpanan bahan peledak yang beroperasi dekat kawasan permukiman. TNLA menjelaskan gudang tersebut menyimpan gelignite, bahan peledak industri yang digunakan untuk aktivitas pertambangan dan dikelola oleh departemen ekonomi kelompok itu.
Hingga kini penyelidikan masih berlangsung untuk mengungkap penyebab pasti ledakan.
TNLA merupakan salah satu kelompok etnis bersenjata terbesar yang menentang pemerintahan junta militer Myanmar. Kelompok tersebut, seperti sejumlah kelompok pemberontak lainnya di Myanmar, diketahui memperoleh sebagian pendanaannya dari sektor pertambangan mineral.
Lemahnya standar keselamatan di sektor pertambangan selama bertahun-tahun membuat kecelakaan tambang dan insiden terkait bahan peledak kerap terjadi di berbagai wilayah Myanmar. (bil/iss)




