Polisi menyelidiki dugaan penganiayaan yang dialami warga bernama Rahmadsyah (47). Ia diduga dianiaya oleh anggota ormas di Jalan Jermal VII, Kecamatan Medan Denai, Kota Medan, Sabtu (30/5) sekitar pukul 19.30 WIB.
"Kami sedang melakukan penyelidikan," kata Kasat Reskrim Polrestabes Medan, AKBP Adrian Risky Lubis, saat dikonfirmasi, Senin (1/6).
Rahmadsyah merupakan adik kandung dari anggota TNI Serka Dede Andiruka. Korban, menurut Dede, diduga dianiaya oleh 50 anggota ormas di indekosnya.
"Terjadilah di situ pemukulan, pengeroyokan namanya sudah ramai di situ. Terakhir kali dipukul pakai (tongkat) bisbol kepalanya, setelah itu dibacok. Baru dia sudah enggak sadarkan diri, langsung diseret, dibacok itu di dalam kamar," kata Dede saat dihubungi kumparan, Senin (1/6).
Dede menuturkan, adiknya diduga diculik usai dianiaya. Dia dibawa oleh anggota ormas tersebut dengan menaiki mobil. Para pelaku kemudian meletakkan korban di depan Rumah Sakit Muhammadiyah dalam keadaan terluka.
Menurut Dede, ia baru mengetahui kondisi adiknya dari pihak rumah sakit.
"Kami dapat informasi keberadaan adik saya lewat dokter. Nah, saya yang pertama datang ke situ. Awalnya saya enggak boleh masuk karena pakai baju dinas. Saya kan abang kandungnya, baru boleh masuk," sambung Dede.
Dari penjelasan dokter, lanjut Dede, Rahmadsyah mengalami luka berat di kepalanya. Bagian itu sampai harus dijahit.
"Dokter menjelaskan kepada saya, kami tidak bisa menangani secara keberlanjutan. Sehingga penanganan medis sementara karena tengkorak kepalanya itu terkelupas lebih kurang 3-5 inch lebarnya. Jadi langsung ditutup sama dokter, baru dijahit," ujar Dede.
Rahmadsyah kemudian dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Medan untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.
Diduga Berawal dari Bela TemanDede belum mengetahui motif penyerangan oknum ormas tersebut. Namun ia menerangkan, kasus ini berawal dari Rahmadsyah yang membela temannya, Bram. Sehari sebelum korban dianiaya, Bram dipukuli oleh diduga anggota ormas.
"Ada adik-adikan dia (teman Rahmadsyah) umurnya kurang lebih 20 atau 23 namanya Bram. Bram ini sebelumnya waktu hari Jumat itu sudah dipukuli orang (ormas). Sehingga adik saya ini karena dia merasa abangnya, jadi datanglah 'siapa yang kemarin yang memukuli adikku?' kan gitu. Barulah datang, habis itu pulang adikku. Habis pulang adikku, datanglah itu anak-anak (ormas) nyari-nyari dia," jelas Dede.
Keberadaan Bram saat ini tidak diketahui. Dede menduga Bram diculik oleh kelompok tersebut.
"Jadi yang namanya Bram itu sampai sekarang belum kembali. Masih diculik sama mereka lah. Bahasa enaknya, masih diculik sama mereka. Saya masih mencari keberadaan si Bram di mana, belum ditemukan sampai sekarang," imbuh Dede.
Kasus ini sudah dilaporkan Dede ke polisi. Laporan tersebut tertuang dalam Nomor LP/B/2299/V/2026/SPKT/POLRESTABES MEDAN/POLDA SUMATERA UTARA tertanggal 30 Mei 2026.
"Pasti ada dasarnya, ada latar belakangnya, apa ini kok bisa menyerang kan begitu. Belum diketahui (motif penyerangan)," ucap Dede.





