Terkait wabah Ebola, pengumuman terbaru dari otoritas kesehatan menyebutkan jumlah kasus suspek telah melampaui 1.000 kasus. Karena wabah ini melibatkan varian virus yang langka, saat ini belum ada vaksin atau obat khusus yang disetujui untuk digunakan.
Sejumlah analisis menyebutkan bahwa wabah ini kemungkinan terkait dengan perdagangan dan kebiasaan konsumsi daging hewan liar yang sudah lama terjadi di wilayah Kongo.
Sementara itu, Amerika Serikat juga memperketat langkah pencegahan di perbatasan dengan meningkatkan pemeriksaan terhadap para pelancong yang datang dari wilayah terdampak.
EtIndonesia.com Kementerian Kesehatan Republik Demokratik Kongo menyatakan bahwa hingga 29 Mei 2026, jumlah kasus suspek Ebola di dalam negeri meningkat menjadi 1.028 kasus, dengan 225 kasus telah terkonfirmasi.
Wabah ini disebabkan oleh virus Ebola jenis “Bundibugyo” yang tergolong langka. Karena saat ini belum tersedia vaksin atau obat spesifik, upaya pengendalian wabah menghadapi tantangan besar. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menilai bahwa virus kemungkinan telah menyebar di komunitas jauh sebelum wabah diumumkan secara resmi.
“Kita harus mempercepat pemberian bantuan dan tidak hanya fokus pada keadaan darurat saat ini. Kita harus menjadikan wabah ini sebagai kesempatan untuk memperkuat sistem kesehatan. Selain Ebola, masyarakat setempat juga masih memiliki kebutuhan layanan kesehatan lain yang harus dipenuhi,” ujar Sekretaris Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus.
Para ahli menilai bahwa wabah ini kemungkinan berkaitan dengan perdagangan daging hewan liar yang sudah lama berlangsung di wilayah tersebut. Banyak warga masih berburu dan mengonsumsi hewan liar seperti kelelawar dan monyet, dan virus diduga menular ke manusia saat kontak atau pengolahan hewan-hewan tersebut.
Para ahli juga menyebutkan bahwa kelelawar dianggap sebagai salah satu inang utama virus Ebola, namun di beberapa wilayah Afrika masih menjadi bahan makanan umum. Selain itu, banyak warga menggantungkan hidup pada daging hewan liar, sehingga mengubah kebiasaan tersebut tidaklah mudah.
Bahkan sebelum wabah ini meluas, sejumlah pasar di ibu kota Kongo, Kinshasa, masih menjual daging hewan liar. Para pedagang mengatakan bahwa ini merupakan sumber pendapatan penting bagi banyak keluarga, yang juga menjadi tantangan dalam upaya pencegahan.
Seiring penyebaran wabah yang terus meluas, Amerika Serikat meningkatkan kewaspadaan. CDC mengumumkan bahwa Bandara Internasional John F. Kennedy di New York telah bergabung dalam program pemeriksaan masuk Ebola, bersama tiga bandara utama lainnya untuk memperkuat skrining kesehatan.
Menurut aturan, pelancong yang dalam 21 hari terakhir pernah berada di Republik Demokratik Kongo (DRC), Uganda, atau Sudan Selatan wajib menjalani pemeriksaan berupa kuesioner kesehatan, penelusuran riwayat kontak, dan pemeriksaan suhu tubuh saat masuk. Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko juga secara bersamaan memperketat langkah pencegahan untuk mencegah penyebaran lintas negara.
Sumber : NTDTV.com





