EtIndonesia.com. Seorang pengusaha asal Tiongkok baru-baru ini diculik di Kamboja dalam kasus pemerasan dan kemudian dibunuh secara brutal. Hasil penyelidikan awal polisi menunjukkan bahwa korban semasa hidupnya sempat dikendalikan oleh beberapa orang, dipukuli, dan disiksa. Para penculik bahkan sempat meminta tebusan sebesar 2 juta dolar AS kepada keluarganya.
Mengutip Khmer–China Times, laporan awal kepolisian Kamboja menyebutkan bahwa korban adalah seorang pria warga negara Tiongkok berusia lebih dari 50 tahun bermarga Yang (Yang Weixin, transliterasi). Ia adalah pemilik perusahaan properti dan tinggal di sebuah apartemen di lantai 19 di distrik Chbar Ampov, Phnom Penh.
Kasus ini terungkap pada 30 Mei pukul 10.30 pagi di sebuah lahan kosong di pinggir Jalan 217, distrik Kambol, Phnom Penh.
Menurut pelapor, saat ia memarkir kendaraannya di lokasi tersebut pada pagi hari, ia melihat sebuah mobil Toyota berwarna putih terparkir di sana. Karena ada seorang pria yang terlihat terbaring di kursi belakang mobil, ia awalnya mengira orang tersebut pingsan, lalu membuka pintu mobil untuk memeriksa. Namun ia menemukan bahwa pria itu telah meninggal, dengan banyak darah di dalam mobil, sehingga segera melapor ke polisi.
Hasil olah tempat kejadian perkara menunjukkan bahwa di dalam dan luar kendaraan ditemukan dua senjata tajam berlumuran darah, tisu dan lakban penuh darah, kabel pengikat plastik, bantal, kaus kaki, serta banyak botol air mineral.
Hasil autopsi forensik menunjukkan bahwa korban mengalami banyak luka berat, termasuk memar luas di kepala, wajah, dan leher, mata mengalami perdarahan, serta luka akibat pemukulan dan ikatan di seluruh tubuh. Forensik menyimpulkan bahwa penyebab kematian adalah asfiksia (kekurangan oksigen), setelah korban mengalami pemukulan, penusukan, dan bentuk kekerasan lainnya. Kasus ini diklasifikasikan sebagai pembunuhan berencana.
Menurut laporan, istri korban mengatakan kepada polisi bahwa suaminya hilang sejak malam 29 Mei. Dari rekaman CCTV apartemen, terlihat pada pukul 20.16 malam, tiga pria tak dikenal memaksa suaminya masuk ke dalam mobil di area parkir, lalu membawa kabur korban.
Ia juga menyebut bahwa pada sekitar pukul 3 dini hari 30 Mei, ponsel suaminya mengirim pesan kepadanya yang meminta tebusan sebesar 2 juta dolar AS. Setelah itu, pelaku terus mengirim pesan tekanan, hingga pada pukul 08.47 pagi hari yang sama, mereka tiba-tiba mengirim pesan berbunyi “urusan ini sampai di sini”, lalu menghilang tanpa kontak lebih lanjut.
Istri korban juga menyatakan bahwa suaminya sejak 2014 memiliki konflik utang dengan seorang pria Tiongkok lain akibat kegagalan bisnis. Pada 2025, pria tersebut kembali datang menagih uang, dan konflik keduanya telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Polisi saat ini masih menyelidiki apakah kasus ini terkait dengan perselisihan bisnis kedua pihak.
Sumber : NTDTV.com





