HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Bursa transfer selalu menghadirkan cerita-cerita menarik. Ada pemain yang mencari tantangan baru, ada yang mengejar trofi, dan ada pula yang berpeluang pulang ke tempat di mana semuanya bermula.
Kisah terakhir itu kini mulai dikaitkan dengan Muhammad Rahmat.
Nama winger senior tersebut kembali mencuat dalam perbincangan suporter PSM Makassar setelah resmi mengakhiri kebersamaannya dengan Bali United. Setelah enam musim membela Serdadu Tridatu, perjalanan panjang M Rahmat di Pulau Dewata akhirnya mencapai garis akhir.
Keputusan Bali United dan sang pemain untuk berpisah membuka berbagai spekulasi mengenai pelabuhan berikutnya bagi pemain berusia 38 tahun tersebut. Di antara sejumlah kemungkinan yang muncul, satu nama klub terasa paling emosional dan paling dekat dengan perjalanan kariernya: PSM Makassar.
Bukan sekadar karena statusnya sebagai mantan pemain, tetapi karena PSM adalah rumah yang membesarkan namanya di sepak bola profesional Indonesia.
Bagi sebagian besar suporter PSM, M Rahmat bukanlah sosok asing. Ia merupakan salah satu putra daerah yang berhasil menembus tim utama dan tumbuh menjadi pemain penting bagi Juku Eja. Kecepatan, kerja keras, dan loyalitasnya membuatnya menjadi salah satu pemain yang paling dikenang pada era sebelum PSM kembali menjadi kekuatan besar di sepak bola nasional.
Sebelum hijrah ke Bali United pada awal tahun 2020, Rahmat telah mencatatkan perjalanan yang cukup panjang bersama Pasukan Ramang. Selama membela PSM, ia tampil dalam 127 pertandingan dengan torehan 22 gol dan 15 assist.
Lebih dari sekadar angka statistik, kontribusi Rahmat hadir dalam berbagai momen penting yang membentuk perjalanan klub. Ia menjadi bagian dari generasi pemain yang membawa PSM kembali bersaing di papan atas kompetisi Indonesia.
Salah satu momen yang paling dikenang tentu ketika PSM berhasil meraih gelar juara Piala Indonesia 2019. Saat itu, Rahmat menjadi bagian dari skuad yang ditangani Darije Kalezic dan sukses mengakhiri penantian panjang klub terhadap gelar nasional.
Gelar tersebut menjadi salah satu pencapaian terbesar dalam kariernya bersama Juku Eja sekaligus menjadi kenangan manis sebelum akhirnya memilih tantangan baru bersama Bali United.
Keputusan meninggalkan Makassar saat itu tentu tidak mudah. Namun langkah tersebut terbukti membawa Rahmat menuju periode yang tidak kalah sukses dalam kariernya.
Bersama Bali United, ia berkembang menjadi salah satu pemain senior yang dihormati. Selama enam musim memperkuat Serdadu Tridatu, Rahmat tampil dalam 147 pertandingan di berbagai ajang kompetisi.
Dari jumlah tersebut, ia berhasil menyumbangkan 27 gol dan 10 assist. Sebuah catatan yang menunjukkan bahwa kontribusinya tetap signifikan meski usianya terus bertambah.
Tidak banyak pemain yang mampu menjaga konsistensi performa hingga mendekati usia 40 tahun. Namun Rahmat membuktikan bahwa profesionalisme, disiplin, dan pengalaman dapat menjadi modal besar untuk tetap bersaing di level tertinggi.
Kini, setelah perjalanannya bersama Bali United berakhir, muncul pertanyaan yang mulai ramai dibicarakan publik sepak bola Sulawesi Selatan: apakah saatnya M Rahmat pulang?
Dari sisi emosional, kepulangan tersebut tentu akan menjadi cerita yang indah. Tidak sedikit pemain yang bermimpi mengakhiri karier di klub yang membesarkan mereka. Kesempatan itu kini terbuka bagi Rahmat.
PSM sendiri sedang memasuki fase yang menarik. Klub tengah melakukan evaluasi menyeluruh untuk menyusun kekuatan menghadapi musim baru. Sejumlah pemain dikaitkan dengan pintu keluar, sementara beberapa nama baru juga mulai masuk dalam radar manajemen.
Dalam situasi seperti ini, kehadiran sosok berpengalaman seperti M Rahmat bisa menjadi nilai tambah. Bukan hanya karena kualitas teknis yang masih dimilikinya, tetapi juga karena pengalaman dan kepemimpinannya di ruang ganti.
Pemain senior sering kali memiliki peran yang tidak terlihat dalam statistik. Mereka menjadi mentor bagi pemain muda, membantu menjaga suasana tim, serta memberikan contoh mengenai profesionalisme di dalam maupun luar lapangan.
Apalagi PSM saat ini memiliki banyak pemain muda yang sedang berkembang. Kehadiran figur seperti Rahmat dapat memberikan pengaruh positif bagi proses regenerasi skuad.
Meski demikian, keputusan untuk merekrut kembali sang pemain tentu tidak hanya didasarkan pada faktor sentimental. Manajemen dan tim pelatih harus mempertimbangkan kebutuhan teknis tim, kondisi fisik pemain, hingga skema permainan yang akan diterapkan musim depan.
Usia 38 tahun memang bukan lagi usia muda bagi seorang pesepak bola profesional. Namun sepak bola modern telah menunjukkan bahwa usia bukan selalu penghalang selama pemain mampu menjaga kondisi fisik dan tetap memberikan kontribusi di lapangan.
Karena itu, peluang reuni antara PSM dan M Rahmat masih sangat terbuka untuk dibicarakan. Terlebih, hubungan emosional antara sang pemain dan klub tidak pernah benar-benar terputus meski sudah beberapa tahun berpisah.
Jika pada akhirnya kepulangan itu benar-benar terjadi, maka kisah tersebut akan menjadi salah satu cerita paling menarik dalam bursa transfer musim ini. Seorang putra daerah yang pernah pergi meraih pengalaman, lalu kembali ke rumah untuk menutup perjalanan panjang kariernya.
Dan bagi para suporter PSM Makassar, tidak ada akhir yang lebih indah daripada melihat salah satu pemain yang pernah mereka banggakan mengenakan kembali jersey merah marun, di stadion yang pernah menjadi saksi lahirnya seorang Muhammad Rahmat.





