Bisnis.com, JAKARTA — Laju inflasi Indonesia pada Mei 2026 diproyeksikan meningkat, baik secara bulanan maupun tahunan. Kenaikan harga pangan (volatile food) dan komoditas energi menjadi faktor utama yang diperkirakan mendorong tekanan inflasi.
Adapun, Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan Indeks Harga Konsumen (IHK) periode Mei pada Selasa (2/6/2026) siang ini.
Dalam konsensus para ekonom yang terhimpun dalam BIG Consensus Insights, nilai tengah (median) proyeksi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Mei 2026 diperkirakan mencatat inflasi sebesar 0,2% secara bulanan (month to month/MoM).
BIG Consensus Insight, yang dilaksanakan oleh Data Indonesia, bagian dari riset Bisnis Indonesia Group (BIG), menghimpun proyeksi inflasi Mei 2026 dari ekonom dan analis terkemuka di Indonesia. Dari 20 ekonom dan analis yang diundang, sebanyak 15 partisipan telah menyampaikan proyeksinya.
Sejalan dengan proyeksi itu, nilai median inflasi Mei 2026 sepanjang tahun berjalan 2026 (year to date/YtD) diestimasi mencapai 1,41%. Secara tahunan (year on year/YoY), BIG Consensus Insights memperkirakan median inflasi Mei 2026 sebesar 2,93%.
Proyeksi tersebut lebih tinggi dibandingkan realisasi inflasi Mei 2025 yang mencatat deflasi 0,37% secara MoM dan inflasi 1,6% secara YoY. Selain itu, angka proyeksi juga lebih tinggi dibandingkan realisasi inflasi April 2026 yang tercatat 0,13% MoM dan 2,42% YoY.
Baca Juga
- BIG Consensus Insights: Inflasi Mei 2026 Diproyeksi Merangkak Naik
- Strategi Menyimpan Uang agar Tidak Tergerus Inflasi: Emas vs Deposito?
- Industri Asuransi Kesehatan Dibayangi Inflasi Medis 20% pada 2026
Dari sisi sebaran proyeksi, inflasi bulanan tertinggi sebesar 0,75% MoM diberikan oleh Rully Arya Wisnubroto, Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia. Sebaliknya, proyeksi terendah datang dari Fikri C. Permana, Head of Research KB Valbury Sekuritas, yang memperkirakan terjadi deflasi 0,4% MoM pada Mei 2026.
Adapun sejumlah faktor yang dinilai paling memengaruhi pergerakan inflasi Mei 2026 antara lain harga pangan (volatile food), harga energi, harga yang diatur pemerintah (administered prices), serta pelemahan nilai tukar rupiah.
Proyeksi Inflasi YoY Mei 2026 Berdasarkan BIG Consensus Insights Nama Jabatan Proyeksi Inflasi YoY M. Rizal Taufikurahman Kepala Pusat Ekonomi Makro dan Keuangan INDEF 2,90% David E. Sumual Chief Economist BCA 3,22% Enrico Tanuwidjaja ASEAN Economist UOB 2,93% William Simadiputra Head of Research DBS Group 2,50% Piter Abdullah Direktur Program dan Kebijakan Prasasti 2,35% Fikri C. Permana Head of Research KB Valbury Sekuritas 2,40% Radhika Senior Economist DBS 2,80% Rully Arya Wisnubroto Head of Research/Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia 3,60% Andry Asmoro Chief Economist Bank Mandiri 3,28% Myrdal Gunarto Economist Bank Tabungan Negara 3,07% Fakhrul Fulvian Chief Economist Trimegah Sekuritas 2,70% Leo Putera Rinaldy Chief Economist BNI 2,99% Josua Pardede Chief Economist Permata Bank 2,93% Sunarsip Chief Economist The Indonesia Economic Intelligence (IEI) 2,45% Hosianna E. Situmorang Economist Bank Danamon Indonesia 3,05%



