Pak Haji Sebar Uang Lewat Tengah Malam

liputan6.com
8 jam lalu
Cover Berita

Liputan6.com, Jakarta - Kedatangannya tidak bisa dipastikan. Tapi, sangat diharapkan. Orang-orang memanggilnya dengan sebutan Pak Haji. Biasanya, dia datang tengah malam. Bersama uang untuk dibagi-bagikan.

Sudah dua tahun terakhir, Tian setia menunggu kedatangan seseorang yang tersohor dengan sapaan ‘Pak Haji’. Pria paruh baya itu berselimut debu jalanan, melawan dinginnya agin malam di Jakarta Selatan. Di bawah tiang beton Mass Rapid Transit (MRT), di atas trotoar jalan Panglima Polim. Kedatangan Pak Haji memang tak bisa dipastikan. Tapi yang pasti, menurut pengakuan Tian, setiap Pak Haji datang, uang dibagikan.

Advertisement

BACA JUGA: Turis Singapura Diperingati soal Pencurian dan Penjambretan Saat Wisata ke Jakarta

Dua malam terakhir, jurnalis Liputan6.com Rifqy Alief menelusuri kabar tentang sosok Pak Haji misterius yang sering membagikan uang. Informasi yang beredar, Pak Haji biasa membagikan uang untuk tuna wisma di beberapa tempat. 

Pertama, Jalan Panglima Polim, tak jauh dari stasiun MRT Blok A. Kedua, di wilayah Mampang Prapatan. Ketiga, ada yang menyebut Pak Haji juga membagikan uang di sekitar Pasar Rumput dan Kawasan Senen. Biasanya, dia datang setelah lepas tengah malam. 

Kamis, 28 Mei 2026, kami berkeliling ke dua lokasi. Sejak jam 10 malam, beberapa tuna wisma sudah bersiap di trotoar Jalan Panglima Polim. Laju kendaraan yang semula ramai, perlahan mulai berkurang dari pandangan. Suara klakson yang awalnya sering terdengar, hilang bersama pekatnya malam. 

Situasi tampak berbeda di beberapa titik trotoar sepanjang jalan tersebut. Semakin malam, trotoar sepanjang Jalan Panglima Polim hingga MRT Blok A justru semakin ramai. Mendekati jam 12 malam, makin banyak warga berjejer di trotoar. Dengan alas seadanya. Seperti banner bekas dan tikar sederhana. Sebagain dari mereka tampak terlelap di tengah hembusan dinginnya malam. Sementara sebagiannya lainnya hanya melepas pandangannya sambil melihat jalanan yang perlahan mulai sepi.

Mereka datang bersama satu tujuan. Menanti ‘Pak Haji’. Sosok yang dikenal dengan kedermawanannya karena sering membagikan uang kepada warga, khusunya pemulung atau tuna wisma. 

"Ada yang bagi-bagi rejeki (Pak Haji). Enggak bisa dipastiin (datangnya). Namanya kita mengharap saja," kata Tian saat berbincang dengan Liputan6.com, malam itu.

Sembari menunggu, Tian berbagi cerita. Biasanya Pak Haji datang dan membagikan uang sekitar Rp 50 ribu. Untuk warga lanjut usia, nominal yang diberikan biasanya lebih besar. Yaitu Rp 100 ribu.

Bagi Tian, yang sudah tak bekerja karena penyakit stroke, uang Rp 50 ribu pemberian Pak Haji sangat berarti. Cukup untuk mengisi perut. Apalagi, dia hanya tinggal di sebuah masjid. Dia hanya bisa makan jika ada orang dermawan yang memberikan makanan. 

Sosok Pak Haji sudah familiar di masyarakat yang kerap menunggu di kawasan tersebut. Menurutnya, Pak Haji datang satu hingga dua kali dalam sepekan, umumnya hari senin dan kamis. Namun, jadwal kedatangannya tidak selalu tetap, jadi sulit dipastikan.

Mereka hanya bisa menunggu dalam ketidakpastian. Jika Pak Haji tak kunjung datang, mereka akan pulang dan kembali pada esok harinya. Benar saja, hingga jam dua dini hari, Pak Haji tak datang.

Keesokan harinya, Jumat 29 Mei 2026. Kami kembali ke Jalan Panglima Polim. Tian sudah duduk di tempat biasa. Selain Tian, ada juga warga lain bernama Wahyu. Dari penuturan Wahyu, sosok yang sama diceritakan. 

Pak Haji tidak suka jika ada warga yang berkerumun ketika datang waktu pembagian uang. Bagi mereka yang ingin mendapatkan uang, cukup duduk rapi berjejer dan tidak perlu berdiri atau mengerumuni mobil yang ditumpangi Pak Haji. 

Bukan hanya para pemulung, sopir bajaj bahkan warga biasa kerap kali ikut menunggu sosok Pak Haji hingga larut malam. Karena itulah, sosok Pak Haji menjadi kisah legendaris di kalangan warga sekitar.

"Iya, sudah enggak asing lah ibarat kata cerita," ungkap Wahyu.

Dari pengalaman Wahyu selama ini, pembagian uang terkadang tak selalu diberikan langsung oleh Pak Haji. Ada salah seorang kepercayaannya Pak Haji yang dikenal bernama Bogel. Sesekali Bogel yang membagikan uang itu menggunakan sepeda motor.  

Jarum jam menunjukkan sudah lewat tengah malam. Masih belum terlihat tanda-tanda kedatangan pak Haji. Dia kembali melanjutkan cerita. Sebenarnya, kepastian kedatangan Pak Haji sudah diinformasikan. Hanya saja, ke orang-orang tertentu. Tentunya yang memiliki telepon genggam.

Sepengetahuan Wahyu, informasi kedatangan Pak Haji disampaikan di sebuah grup WhatsApp. Dia tidak tahu persis nama grup WhatsApp itu. Hanya saja, yang dia tahu, grup tersebut digunakan untuk berkoordinasi serta memberikan informasi jika Pak Haji ingin datang ke satu lokasi tertentu. Di dalam grup tersebut juga terdapat nomor ajudan Pak Haji dan beberapa orang perwakilan di setiap titik pembagian.

"Iya ada grupnya tuh WA. Nanti dikasih tahu sama ajudannya (kalau ingin datang)," kata Wahyu. 

Termasuk lokasi yang akan dikunjungi. Sebab, Pak Haji tidak hanya bagi-bagi uang di Panglima Polim, tapi juga di Mampang, Manggarai, Pasar Rumput, hingga Senen. Ajudan Pak Haji sering kali menegur warga yang berpindah-pindah tempat hanya untuk mendapatkan sumbangan dua kali.

Tak jarang, orang-orang seperti justru sering dilewati dan tidak diberikan ketika Pak Haji datang.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pengamat Soroti Kebersamaan Prabowo-Megawati di Peringatan Hari Lahir Pancasila
• 21 jam lalukumparan.com
thumb
Nadiem Makarim Kenakan Jaket Gojek saat Tiba di Ruang Sidang
• 3 jam lalukompas.tv
thumb
TNI AL perkuat kesiapan prajurit lewat latihan pendaratan di Palu
• 13 jam laluantaranews.com
thumb
PLN Sebut Cuaca Panas dan Aktivitas di Rumah Dorong Kenaikan Tagihan Listrik
• 52 menit lalurepublika.co.id
thumb
Harga Cabai di Jawa Barat Meroket hingga Rp135 Ribu per Kilogram
• 1 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.