JAKARTA, DISWAY.ID -- Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya buka suara soal intensitas kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto yang dinilai sebagian pihak terlalu sering.
Menurut Teddy, langkah tersebut merupakan bagian dari diplomasi strategis di tengah situasi global yang penuh krisis dan ketidakpastian.
"Setiap pemimpin tentunya harus bangun hubungan yang dekat antar pemimpin dunia. Dan kita tidak bisa hanya mengandalkan saat krisis baru kita minta bantuan, tidak," kata Teddy dalam akun Instagram @sekretariat.kabinet, Selasa, 2 Juni 2026.
BACA JUGA:Prabowo Biayai Sendiri Kelebihan Biaya Kunjungan Luar Negeri, Jumlah Rombongan Dipangkas Lebih dari 50 Persen
Ia menegaskan diplomasi tidak hanya dilakukan melalui pertemuan yang terbuka dan diliput media, tetapi juga lewat komunikasi tertutup yang bertujuan mempererat hubungan personal dan emosional antar pemimpin negara.
"Kita harus panen hubungan yang baik lalu bila suatu saat ada kondisi mendesak kita bisa minta bantuan dan begitu pula sebaliknya. Untuk itu perlu kedekatan pribadi, kedekatan emosional antar pemimpin baik secara langsung diliput media ataupun tertutup," ujar dia.
Karena itu, Teddy menilai anggapan bahwa kunjungan luar negeri Presiden hanya bersifat seremonial atau sekadar pencitraan merupakan pandangan yang keliru.
"Itulah diplomasi. Jadi salah besar kalau dibilang hanya gagah-gagahan atau seremonial. Kita harus lihat apa yang sudah dicapai dalam 1,5 tahun terakhir ini," imbuhnya.
BACA JUGA:Klarifikasi JAKTV atas Dugaan Siaran Konten Pornografi, Lakukan Investigasi Internal
Teddy kemudian memaparkan sejumlah capaian yang disebut sebagai hasil konkret diplomasi Presiden Prabowo. Salah satunya adalah bergabungnya Indonesia ke kelompok BRICS yang dinilai memperkuat posisi Indonesia di tengah krisis global.
Selain itu, ia menyinggung keberhasilan Indonesia mendapatkan tarif nol persen ke pasar Uni Eropa melalui perjanjian yang disebut telah dirintis selama belasan tahun dan tercapai pada masa pemerintahan Presiden Prabowo.
Di bidang investasi, Teddy menyebut total investasi yang masuk ke Indonesia dalam 1,5 tahun terakhir mencapai sekitar Rp2.430 triliun.
"Kemudian contoh konkret lagi nih, bulan lalu Presiden Prabowo ke Jepang dan Korea, kembali langsung ada investasi sekitar Rp575 triliun," ungkapnya.
BACA JUGA:Wamendagri Wiyagus: Pancasila Pemersatu Bangsa dan Fondasi Perdamaian Dunia
Teddy juga menyoroti penguatan alat utama sistem persenjataan (alutsista) Indonesia yang disebut berasal dari kerja sama dengan berbagai negara, termasuk Prancis, Amerika Serikat, Rusia, China, Inggris, dan sejumlah negara Eropa lainnya.
- 1
- 2
- »





