Aktivitas Manufaktur Cina Melambat Imbas Perang di Iran

katadata.co.id
6 jam lalu
Cover Berita

Aktivitas manufaktur Cina melambat pada bulan Mei. Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers' Index/PMI) sektor manufaktur tercatat 50, turun 0,3 poin dibandingkan bulan sebelumnya, menurut data Biro Statistik Nasional Cina (NBS).

Meski masih berada di batas ekspansi, penurunan itu dinilai menunjukkan laju pertumbuhan aktivitas manufaktur mulai melemah. Secara umum, PMI di atas level 50 menandakan ekspansi, sedangkan di bawah 50 menandakan kontraksi.

Pelemahan kinerja sektor manufaktur terjadi di tengah meningkatnya tekanan biaya akibat konflik di Selat Hormuz yang mendorong kenaikan harga bahan baku.

Indeks Harga Pembelian (Purchase Price Index) yang sebelumnya berada di level 54,8 sebelum pecahnya perang Iran pada Februari, melonjak menjadi 63,9 pada Maret dan 63,7 pada April, sebelum turun tipis ke level 60,5 pada Mei.

Dari lima subindeks pembentuk PMI manufaktur, hanya indeks produksi yang masih berada di atas level 50. Sementara indeks pesanan baru, persediaan bahan baku, ketenagakerjaan, dan waktu pengiriman pemasok masih berada di zona kontraksi.

Indeks produksi tercatat sebesar 51,2 pada Mei, turun 0,3 poin dibandingkan bulan sebelumnya. Meski demikian, angka ini masih menunjukkan aktivitas produksi manufaktur yang terus berekspansi.

Di sisi lain, indeks pesanan baru turun menjadi 49,9 dari sebelumnya 50,6. Kondisi ini mengindikasikan melemahnya permintaan pasar terhadap produk manufaktur.

Indeks persediaan bahan baku utama juga turun menjadi 48,6 atau melemah 0,7 poin dibandingkan bulan April. Penurunan ini menunjukkan berkurangnya stok bahan baku yang dimiliki perusahaan manufaktur.

Sementara itu, indeks ketenagakerjaan berada di level 48,6, turun 0,2 poin dari bulan sebelumnya. Hal ini mencerminkan pelemahan kondisi pasar tenaga kerja di sektor manufaktur.

Indeks waktu pengiriman pemasok turun menjadi 49,2 dari sebelumnya 49,5. Angka ini menunjukkan waktu pengiriman bahan baku oleh pemasok masih mengalami perlambatan dibandingkan bulan sebelumnya.

Dihantam Berbagai Tekanan

Pendiri RatingDog, Yao Yu, mengatakan sektor manufaktur Cina masih mampu mempertahankan pertumbuhan pada Mei, meski momentumnya melambat.

“Secara keseluruhan, sektor manufaktur mempertahankan ekspansi pada Mei, meski dengan laju yang lebih lambat. Meredanya tekanan inflasi memberikan sedikit ruang bagi perusahaan dalam mengelola biaya dan harga,” ujar Yao Yu, dikutip dari Reuters (1/6).

Hasil survei swasta itu lebih baik dibandingkan data resmi pemerintah Cina yang dirilis sehari sebelumnya. Survei resmi menunjukkan aktivitas pabrik stagnan pada bulan Mei dengan PMI turun ke level 50 dari 50,3 pada bulan April.

Survei RatingDog menunjukkan produksi manufaktur meningkat selama enam bulan berturut-turut, terutama didorong oleh sektor barang investasi. Perusahaan melaporkan peningkatan produksi seiring menguatnya permintaan pasar, bertambahnya pesanan baru, perbaikan produk, serta peningkatan aktivitas bisnis baru.

Pesanan baru juga tumbuh selama 12 bulan berturut-turut, meskipun laju ekspansinya lebih lambat dibandingkan bulan April. Di sisi lain, pesanan ekspor baru mengalami kontraksi untuk pertama kalinya dalam lima bulan terakhir.

Pelemahan pesanan ekspor itu menjadi sinyal awal bahwa kenaikan harga energi mulai membebani permintaan global terhadap produk-produk asal Cina.

Tekanan harga juga menunjukkan tanda-tanda mereda pada Mei. Inflasi biaya input maupun harga output melambat untuk pertama kalinya dalam enam dan tujuh bulan terakhir.

Kenaikan biaya bahan baku turun ke level terendah dalam tiga bulan. Sektor barang investasi mencatat peningkatan biaya terbesar, sedangkan sektor barang konsumsi mengalami kenaikan paling rendah.

Sementara itu, inflasi harga output rata-rata juga melambat ke level terendah dalam tiga bulan terakhir, meski masih berada di atas rata-rata historis jangka panjang. Produsen barang setengah jadi mencatat kenaikan harga jual tercepat, sedangkan produsen barang konsumsi mengalami kenaikan harga paling lambat.

Produsen Cina juga masih menaikkan harga ekspor untuk bulan keenam berturut-turut, namun dengan laju yang lebih lambat dibandingkan April.

Di sisi ketenagakerjaan, survei menunjukkan jumlah pekerjaan yang belum terselesaikan meningkat untuk bulan keempat berturut-turut akibat pertumbuhan pesanan yang berkelanjutan dan kekurangan pasokan. 

Namun, indeks ketenagakerjaan turun ke level terendah dalam lima bulan dan berada di bawah ambang 50, menandakan berkurangnya jumlah tenaga kerja di sektor manufaktur.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dari Pilwalkot ke Pilgub, Danny Pomanto Kini Bidik Senayan
• 4 jam laluharianfajar
thumb
Motif Mantan Istri Dalangi Pembunuhan WN Korsel di Bekasi: Dendam dan Ingin Harta Korban
• 1 jam lalukompas.com
thumb
Tulungagung Kembali Surplus Beras Hampir 50 Ribu Ton, Perkuat Posisi sebagai Penyangga Pangan Jawa Timur
• 16 jam lalupantau.com
thumb
Harga Emas Diprediksi Masih Melemah, Ini yang Perlu Dicermati
• 3 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Makanan Pengganti Gula yang Lebih Sehat
• 7 jam lalubeautynesia.id
Berhasil disimpan.