Mengutip narasi yang ditulis Hendrawan K Wijaya, penulis ”Mods Indonesia”, Mods atau singkatan dari Modernists, adalah subkultur anak muda Inggris yang lahir pada akhir 1950-an sebagai respons terhadap suasana suram pasca-Perang Dunia II. Mayoritas berasal dari kelas pekerja, tetapi mereka menolak dibatasi oleh kondisi sosial dan ekonomi. Dengan jas rapi, sepatu mengilap, serta perhatian terhadap detail, Mods menunjukkan bahwa tampil necis adalah bentuk penghormatan terhadap diri sendiri.
Filosofi mereka dikenal tetap hidup bersih, tertata, dan bermartabat meski dalam situasi sulit. Identitas Mods bertumpu pada tiga unsur utama yaitu: musik, fashion, dan skuter Itali, khususnya Vespa dan Lambretta. Uniknya, justru di Itali negeri asal pabrikan motor skuter sendiri subkultur Mods tidak berkembang.
Musik seperti modern jazz, soul, rhythm and blues, dan ska menjadi bagian penting dari gaya hidup ini. Setelah populer pada 1960-an, budaya Mods bangkit kembali pada akhir 1970-an, dipicu oleh film berjudul Quadrophenia dan pengaruh musik The Jam. Saat itu sempat muncul polarisasi dua subkultur yang berseteru, yaitu gaya mods dan penggemar motor cafe racer bergaya jaket kulit ala rocker.
Mods kemudian menyebar ke berbagai negara, termasuk Jepang dan Indonesia. Anggota komunitas di Jepang lebih sedikit, tetapi lebih detail secara fashion, musik, dan skuter. Adapun di Indonesia Mods tumbuh sejak 1990-an menjadi komunitas lintas generasi yang memadukan gaya klasik dengan ekspresi kontemporer sehingga hanya segelintir yang mengikuti detail literaturnya.
Fenomena ini dipotret oleh Heret Frasthio dalam pameran tunggal pertamanya berjudul 24TimeFrame Mods Edition di Ruang Analoog di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Pameran ini berlangsung dari 23 hingga 31 Mei 2026.
Ia bukanlah orang baru pada dunia fotografi. Berbagai macam hal terkait dengan fotografi sudah dijalani dari pewarta foto, pernikahan, lanskap, hingga akhirnya memilih menjadi fotografer komersial. Hasil jepretan Heret bertebaran di majalah, surat kabar, hingga baliho.
Pameran ”24TimeFrame” sendiri sebelumnya ditampilkan dalam pameran bersama di Jepang di Tokyo Street X Exhibition 2026 dan Jakarta International Photo Festival (JIPFest) edisi 2025.
Meski demikian, bagi Heret, ini adalah pameran tunggal pertamanya. Dengan tambahan ”Mods Edition” di judul pameran, ia menambahkan cerita visual gaya hidup mods dari Inggris, Jepang, dan Indonesia.
Berawal dari dua dunia yang dia sukai, yaitu kultur sepeda motor, khususnya skuter klasik Vespa dan seni fotografi. Pendiri entitas bisnis fashion dan elektrifikasi skuter Elders Company ini menyajikan lima segmen karyanya dari seri 24TimeFrame ditambah empat segmen tambahan ”Mods Edition” yang dibuat dalam berbagai format seni seperti sablon dari basis materi fotografi.
”Proyek foto ini ada karena idealisme. Fotografi adalah hobi pertamaku yang jadi bisnis, kemudian sepeda motor hobiku kedua yang jadi bisnis gitu dan kombinasinya jadilah pameran tentang mods dipadupadankan dengan fotografi,” ujar fotografer asal Jakarta yang memulai karier sejak tahun 2006 di dunia komersial tersebut.
Pameran dibuka dengan bingkai foto pertama berjudul ”More is More” yang dipotret di Inggris tahun 2026. Pajangan properti skuter Vespa yang dimodifikasi dengan banyak spion dan lampu berkiblat gaya mods menyertai foto ini di lantai bawah Ruang Analoog. Properti ini memperkuat sajian cerita untuk membawa audiens ke suasana yang dibawakan dengan motor yang menjadi salah satu unsur utama dalam subkultur tersebut.
Cerita berlanjut ke foto selanjutnya berjudul ”Way of Life” terpampang di dinding tangga menuju galeri, masih dari seri foto Mods dengan memainkan simbol seperti panah marka jalan ke arah atas yang dibuat di Jepang. Foto ini dibuat saat Heret diajak berkendara oleh komunitas tersebut pada perayaan Mods May Day 2025 berkeliling kota Tokyo.
Saat di lantai atas, audiens disambut dengan seri foto soal ingar bingar subkultur mods dari lintas generasi saat perayaan Brighton Mods Weekend di Brighton, Inggris, pada Agustus 2025. Mereka berkumpul di pesisir Pantai Brighton dengan iringan musik demi menjaga gairah gaya hidup mereka tetap menyala.
Berlanjut ke potret kehidupan subkultur mods di Indonesia yang digarap di tahun 2025. Foto-foto yang merekam gairah skena Mods ”Soul Brother” di Jakarta menuntaskan cerita visual gaya hidup Mods dari Inggris, Jepang, dan Indonesia. ”Ketiga generasi mods ini buat saya sangat menarik bagaimana sebuah subkultur bisa bertahan puluhan tahun dan menginspirasi di berbagai negara,” tutur Heret.
Segmen berikut adalah seri foto 24TimeFrame, sebuah proyek foto pribadi dalam perjalanan Heret saat mendokumentasikan perayaan Brighton Mod Weekend di Brighton, Inggris, tahun 2025.
Ia menjepret foto setiap jam selama seharian penuh bermodalkan rol film analog isi 24 bingkai dengan kamera rangefinder. Beragam cerita yang mengaduk emosi tercipta dari proyek tersebut.
Swafoto setelah bangun tidur di kamar hotel pada pukul 06.00 membuka cerita dan sarapan pukul 07.00 sebagai ide pertama.
Petualangan berburu foto dimulai di sudut kota, stasiun kereta, jalanan pagi hingga petang hingga potret sekelompok remaja perempuan di dalam kereta dengan pendekatan yang hangat. Tidur malam pun yang hanya 15 menit demi lanjut memotret lagi, hingga selamat dari perampok di tengah perjalanan Camden, sebuah distrik di barat laut London, Inggris, saat dini hari.
Dalam kelelahan, Big Ben sebagai ikon waktu ditujunya untuk pamungkas. Ternyata penunjuk film di kamera sudah menunjukkan angka 24 yang berarti film sudah habis. Heret terpaksa mengorbankan hasil foto pukul 05.00 dengan menggulung balik (rewind) film. Jadilah foto Big Ben yang menunjukkan waktu pukul 06.00 dengan teknik multi eskpos. Belakangan baru ia ketahui ternyata ada bonus bingkai film ke-25 yang menjadi foto Big Ben kedua pada pukul 06.03 dengan komposisi yang berbeda yang menjadi foto utama pameran.
”Dari ngabisin film jadi perjalanan refleksi diri untuk mengenal pribadi dan memaksa diri menyelesaikan apa yang gua mulai. Ada waktu yang harus ditepati (untuk terus memotret) dan (berupaya) harus ada ide di setiap foto,” tuturnya mengenai proyek tersebut.
Pada sesi keempat, Heret berusaha menjadi seniman dengan menyajikan cerita-cerita mods dari Jepang dalam kemasan yang lain, yaitu dengan teknik screen printing atau sablon. Ia tidak menampik meniru teknik Andy Warhol, pencetus gerakan Pop Art di Amerika era 1950-an. Lukisan-lukisan dari cetakan sablon dengan materi portrait selebritas ikonik abad ke-20 seperti Marilyn Monroe, Elvis Presley, dan Jacqueline Kennedy Onassis dalam tampilan pola warna-warni menjadi inspirasinya.
Sesi penutup adalah foto sekelompok burung camar berjudul ”To Be Continued” di Pantai Brighton. Filosofi foto ini menggambarkan harapannya agar terus terbang dan bermimpi dengan karyanya yang akan berkelanjutan dan berkembang.





