EtIndonesia.com — Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, terutama di kawasan Timur Tengah, perang Rusia-Ukraina kembali memasuki babak baru dengan serangkaian serangan yang menargetkan aset-aset strategis kedua belah pihak.
Dalam perkembangan terbaru, Ukraina mengklaim berhasil menyerang Bandara Militer Taganrog di wilayah Rostov, Rusia, dan menghantam sejumlah target bernilai tinggi, termasuk pesawat patroli anti-kapal selam Tu-142 milik Rusia.
Di saat yang sama, Rusia menuduh Ukraina melakukan serangan terhadap fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Zaporizhzhia, tuduhan yang langsung dibantah oleh Kyiv.
Ukraina Umumkan Serangan Drone ke Bandara Militer Taganrog
Pada 30 Mei 2026, Pasukan Sistem Drone Ukraina merilis rekaman video yang memperlihatkan operasi serangan jarak jauh menggunakan drone terhadap Bandara Militer Taganrog, yang terletak di wilayah Rostov, Rusia bagian selatan.
Menurut keterangan militer Ukraina, serangan tersebut dilakukan pada malam hari antara 29 hingga 30 Mei 2026 dan ditujukan kepada sejumlah target militer strategis Rusia yang berada jauh dari garis depan pertempuran.
Dalam laporan yang dipublikasikan pihak Ukraina, disebutkan bahwa dua pesawat patroli maritim dan anti-kapal selam jarak jauh Tu-142 milik Rusia berhasil terkena serangan. Selain itu, sebuah kendaraan peluncur sistem rudal taktis Iskander yang ditempatkan di area peluncuran dekat pinggiran Kota Taganrog juga dilaporkan berhasil dihancurkan.
Apabila klaim tersebut terbukti akurat, serangan ini akan menjadi salah satu pukulan paling signifikan terhadap kemampuan pengintaian dan peperangan anti-kapal selam Rusia dalam beberapa bulan terakhir.
Rusia Akui Terjadi Serangan Drone di Kawasan Taganrog
Meskipun pihak Rusia belum mengonfirmasi secara rinci kerusakan yang diklaim Ukraina, sejumlah media lokal Rusia dan pejabat setempat mengakui bahwa kawasan Taganrog memang menjadi sasaran serangan drone pada malam yang sama.
Laporan dari wilayah tersebut menyebutkan bahwa serangan memicu kebakaran di beberapa lokasi, termasuk:
- Kapal tanker yang sedang berada di kawasan pelabuhan.
- Tangki penyimpanan bahan bakar.
- Fasilitas industri dan bangunan pendukung di sekitar area pelabuhan.
- Infrastruktur logistik yang berada dekat lokasi serangan.
Kebakaran yang terjadi di sejumlah titik memaksa petugas darurat dikerahkan sepanjang malam untuk mengendalikan api dan mencegah meluasnya kerusakan.
Walaupun otoritas Rusia tidak mengonfirmasi keberhasilan Ukraina menghantam pesawat Tu-142 maupun sistem rudal Iskander, pengakuan bahwa kawasan tersebut mengalami serangan besar telah memperkuat indikasi bahwa operasi drone Ukraina berhasil mencapai wilayah targetnya.
Tu-142: Aset Langka dan Sangat Strategis bagi Rusia
Perhatian terbesar dari serangan ini tertuju pada laporan mengenai kerusakan dua pesawat Tu-142.
Tu-142 merupakan pesawat patroli maritim dan anti-kapal selam jarak jauh yang dikembangkan Uni Soviet dari platform pembom strategis Tu-95 Bear, salah satu pesawat militer paling terkenal dalam sejarah penerbangan Rusia.
Pesawat ini dirancang untuk:
- Mendeteksi dan memburu kapal selam musuh.
- Melaksanakan patroli maritim jarak sangat jauh.
- Mengawasi wilayah Laut Hitam, Laut Baltik, Samudra Arktik, hingga Atlantik Utara.
- Mendukung operasi Angkatan Laut Rusia melalui pengintaian strategis.
Karena produksinya telah lama dihentikan dan jumlah unit yang masih aktif sangat terbatas, setiap pesawat Tu-142 memiliki nilai strategis yang sangat tinggi.
Para analis militer menilai bahwa apabila dua unit benar-benar mengalami kerusakan berat atau hancur, Rusia akan menghadapi kesulitan besar untuk menggantinya dalam waktu singkat. Selain nilai militernya yang tinggi, pesawat tersebut juga memainkan peran penting dalam menjaga kemampuan deteksi kapal selam NATO di berbagai wilayah laut strategis.
Sistem Rudal Iskander Juga Diklaim Menjadi Korban Serangan
Selain pesawat Tu-142, Ukraina juga mengklaim berhasil menghancurkan kendaraan peluncur sistem rudal taktis Iskander.
Sistem Iskander selama ini menjadi salah satu senjata andalan Rusia dalam perang Ukraina. Rudal ini dikenal memiliki kemampuan serangan presisi tinggi dengan jangkauan ratusan kilometer dan sering digunakan untuk menyerang pusat komando, gudang amunisi, serta infrastruktur militer Ukraina.
Jika kendaraan peluncur tersebut benar-benar berhasil dihancurkan, maka kerugian yang dialami Rusia tidak hanya terbatas pada hilangnya aset bernilai tinggi, tetapi juga dapat mengurangi kapasitas serangan jarak menengah Rusia di wilayah selatan.
Rusia Tuduh Ukraina Menyerang PLTN Zaporizhzhia
Pada hari yang sama, ketegangan kembali meningkat setelah perusahaan energi nuklir Rusia melaporkan adanya serangan drone terhadap Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Zaporizhzhia, fasilitas nuklir terbesar di Eropa yang saat ini berada di bawah kendali Rusia.
Menurut laporan tersebut, sebuah drone tempur menghantam bagian gedung turbin pembangkit.
Ledakan yang terjadi disebut mengakibatkan kerusakan pada bagian luar bangunan dan meninggalkan lubang pada dinding fasilitas. Namun pihak Rusia menyatakan bahwa tidak ada kerusakan pada sistem utama pembangkit maupun reaktor nuklir.
Kepala perusahaan energi nuklir Rusia, Alexei Likhachev, menyatakan bahwa drone yang digunakan dalam serangan tersebut dikendalikan melalui teknologi kabel serat optik, metode yang belakangan semakin banyak digunakan dalam perang Rusia-Ukraina untuk menghindari gangguan sistem peperangan elektronik.
Menurutnya, serangan itu dilakukan secara sengaja dan berpotensi menimbulkan risiko besar terhadap keselamatan fasilitas nuklir.
Ia memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap infrastruktur nuklir dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya kecelakaan serius yang dampaknya tidak hanya dirasakan Rusia dan Ukraina, tetapi juga negara-negara lain di kawasan Eropa.
Ukraina Bantah Keras Tuduhan Rusia
Pemerintah Ukraina segera menolak tuduhan tersebut.
Dalam pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh Komando Pertahanan Selatan Ukraina pada 30 Mei 2026, Kyiv menegaskan bahwa seluruh operasi militer Ukraina dilaksanakan sesuai dengan ketentuan hukum humaniter internasional dan tidak menargetkan fasilitas nuklir.
Pihak Ukraina justru balik menuduh Rusia memanfaatkan keberadaan PLTN Zaporizhzhia sebagai alat tekanan politik sejak menduduki fasilitas tersebut pada Maret 2022, beberapa minggu setelah invasi skala penuh Rusia dimulai.
Menurut Ukraina, Rusia berulang kali menggunakan isu keamanan nuklir untuk membangun narasi propaganda dan menuduh Kyiv melakukan tindakan yang membahayakan keselamatan kawasan.
Perang Memasuki Fase Serangan Jarak Jauh yang Semakin Intensif
Rangkaian peristiwa yang terjadi pada 29–30 Mei 2026 menunjukkan bahwa perang Rusia-Ukraina kini semakin didominasi oleh operasi serangan jarak jauh terhadap target-target strategis.
Ukraina terus memperluas jangkauan serangan drone hingga ratusan kilometer ke wilayah Rusia, sementara Moskow meningkatkan tuduhan terhadap Kyiv terkait keamanan fasilitas-fasilitas vital, termasuk infrastruktur energi dan nuklir.
Dengan semakin seringnya aset bernilai tinggi menjadi sasaran, mulai dari pesawat patroli strategis, sistem rudal, fasilitas pelabuhan, hingga pembangkit listrik tenaga nuklir, konflik yang telah berlangsung lebih dari empat tahun ini tampak semakin bergerak menuju fase yang lebih berbahaya dan sulit diprediksi.
Para pengamat menilai bahwa perkembangan terbaru ini berpotensi meningkatkan eskalasi konflik, terutama jika laporan mengenai kerusakan pesawat Tu-142 dan serangan terhadap fasilitas nuklir terus berkembang dalam beberapa hari mendatang. (***)





