”Sampai hari ini terhitung sudah 73 kali kejadian (barang terbakar) di sekitar 65 titik di dalam rumah. Sampai sekarang belum tahu pasti apa penyebabnya. Kami menunggu hasil penelitian,” kata Mutfiana (29), pemilik rumah, saat ditemui, Senin (1/6/2026).
Perempuan yang disapa Fia itu menceritakan, fenomena tersebut pertama kali terjadi di rumahnya di Desa Margomulyo, Kecamatan Seyegan, Kabupaten Sleman, pada 22 Mei lalu. Pada Jumat malam itu, sebuah kain lap berbahan mikrofiber yang tergeletak di ruang tengah rumah tiba-tiba terbakar.
Awalnya, Fia berpikir ada sesuatu yang menyulut api tersebut. Namun, setelah dicermati lebih jauh, tak ada sumber api atau kelistrikan yang berada di dekat kain lap saat terbakar.
Kejadian itu makin terasa janggal karena sebelum terbakar, kain lap itu dalam kondisi basah setelah dipakai Fia mengelap tumpahan es teh. Meski begitu, peristiwa pertama itu tak terlalu dirisaukan Fia.
Akan tetapi, pada hari-hari setelahnya, muncul kejadian kedua, ketiga, dan seterusnya di titik-titik berbeda. Semuanya pun berpola sama, yakni api yang tiba-tiba menyala sendiri. Terkini, pada Senin siang kemarin, api melalap sebuah kaos yang ditaruh di atas meja di salah satu kamar.
Beruntung selama ini api tak pernah sampai menyebabkan kebakaran rumah karena selalu ketahuan sebelum membesar. Sejak frekuensi kemunculan api meningkat, anggota keluarga selalu bergantian berjaga selama 24 jam setiap hari untuk mengantisipasi kemunculan api.
Para penghuni rumah di Jalan Godean-Seyegan itu terdiri dari enam orang dewasa dan satu anak-anak. Mereka pun kini sementara waktu menempati sebuah ruko di sebelah rumah untuk keperluan tidur dan penyimpanan sejumlah barang berharga.
Sempat ada dugaan kebakaran itu dipicu kebocoran pipa septic tank rumah sehingga mengeluarkan gas metana (CH4).
Titik kemunculan api yang awalnya hanya di ruangan tengah kini disebut Fia sudah merata terjadi di seluruh bagian rumah yang dibangun 16 tahun lalu itu. “Bahkan, beberapa hari lalu, sawah di belakang rumah juga sempat terbakar,” ujarnya.
Fia menuturkan, sempat ada dugaan kebakaran itu dipicu kebocoran pipa septic tank rumah sehingga mengeluarkan gas metana (CH4). Gas yang terbentuk dari proses biokimia limbah rumah tangga itu sangat mudah terbakar.
Namun, setelah septic tank dikuras dan pipanya diganti, kebakaran masih terjadi. Api menyambar bahan-bahan mudah terbakar di dalam rumah, seperti kain, baju, tikar, plastik, dan kardus.
Kini, Fia dan keluarganya berharap kepada tim peneliti yang sudah turun untuk menyelidiki fenomena tersebut. Salah satunya adalah tim peneliti lintas disiplin ilmu dari Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), yang turut menyaksikan saat kaos di salah satu kamar rumah terbakar pada Senin siang.
Ketua tim peneliti, Prof Alva Edy Tontowi, menjelaskan, fenomena ini secara ilmiah disebut auto-ignition (swasulut) atau spontaneous ignition (penyulutan spontan). “Pada intinya, ya, itu memang salah satunya adalah gas yang bisa menyala sendiri,” ujarnya.
Saat memeriksa kamar tempat kaos terbakar, tim mengukur adanya kenaikan suhu dan kadar gas hidrogen (H2) yang tinggi. Gas hidrogen dalam kadar tertentu diketahui bisa terbakar secara swasulut.
Namun, Alva mengatakan, pihaknya harus melakukan analisis ilmiah lebih lanjut di laboratorium sebelum menarik kesimpulan terkait penyebab munculnya api di rumah tersebut. Tim telah mengumpulkan sampel dan data-data untuk keperluan itu.
Anggota tim yang merupakan pakar geologi, Prof Agung Harijoko, mengatakan, pihaknya melakukan pemeriksaan rumah dengan alat gas detector. Di kamar tempat kaos terbakar tadi, tim mendeteksi kadar gas hidrogen yang naik tinggi.
“Jadi memang gas H2 itu bisa menyala sendiri, bahkan dalam kondisi suhu ruangan (20-25 derajat celsius),” ucapnya.
Tim akan membandingkan hasil pengujian sampel-sampel air tersebut.
Karena itulah, sementara ini tim menduga kemungkinan gas tersebut sebagai “bahan bakar” api. Namun, tim masih harus menelaah lebih jauh dari mana sumber hidrogen tersebut serta mekanisme pembentukannya.
Pakar teknik kimia UGM Prof Sarto mengatakan, tim juga mengambil sampel air dari beberapa sumber di rumah dan di dekat rawa belakang rumah. Tim akan membandingkan hasil pengujian sampel-sampel air tersebut.
“Kalau dugaan kemarin adalah metana, yang biasanya muncul dari proses pembusukan, yang ini, kok, ternyata hidrogen. Sehingga kami akan mencari sumber yang sebenarnya apa,” tuturnya.
Berdasarkan laman Vrije Universiteit Amsterdam, hidrogen merupakan gas tak berbau dan berwarna. Meski tak beracun, hidrogen sangat mudah terbakar. Hanya diperlukan konsentrasi volume minimal 4 persen untuk membuatnya dapat terbakar di udara terbuka.
Hidrogen juga cuma memerlukan energi minimal untuk menyulut (minimum spark energy for ignition) yang rendah, yakni 0,017 mJ. Ini jauh lebih rendah ketimbang energi minimal yang dibutuhkan untuk menyulut gas metana (0,29 mJ) dan bensin (0,24 mJ).
Artinya, hidrogen tak perlu api atau sumber panas besar lainnya untuk menyala. Aliran listrik statis lemah dari tubuh manusia pun dapat menjadi pemicu kobaran api.
Selain UGM, penelitian juga dilakukan tim Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG). BPPTKG adalah balai yang berada di bawah Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral yang berkantor di Yogyakarta.
Penyelidik Bumi Muda BPPTKG Aris Dwi Nugroho mengungkapkan, pihaknya mengambil data gas dan air. Data-data itu akan dianalisis lebih jauh di laboratorium untuk mengungkap penyebab fenomena tersebut.
Fia pun mengaku sedikit lega dengan kehadiran para pakar untuk memecahkan misteri yang meresahkan keluarganya tersebut. Harapannya kini hanya satu, yakni bisa kembali hidup normal di rumahnya sendiri itu. “Semoga bisa segera diketahui hasilnya,” ucapnya.





