PT Sarana Utama Synergy (PT SUS) membuka ruang dialog bersama warga yang bermukim di sekitar lokasi pembangunan Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) Makassar, Jumat (29/5/).
Kegiatan yang berlangsung hangat tersebut dirangkaikan dengan pemotongan hewan kurban sebagai bentuk kepedulian sosial perusahaan kepada masyarakat sekitar. Sebanyak tiga ekor sapi dipotong dan dagingnya dibagikan kepada sekitar 300 warga.
Dialog yang dipandu influencer Rijal Jamal itu menjadi wadah bagi PT SUS dalam menjawab berbagai kekhawatiran warga terkait proyek PSEL. Mulai dari isu bau, polusi, air tanah, hingga keterlibatan masyarakat dalam proses pembangunan.
Electrical Engineering PT SUS, Richard, menjelaskan secara rinci mekanisme kerja PSEL atau pembangkit listrik tenaga sampah yang diklaim telah menggunakan teknologi modern berstandar internasional.
Menurut Richard, seluruh sampah nantinya akan ditempatkan di ruang tertutup atau bunker yang dilapisi beton sehingga tidak menimbulkan bau maupun pencemaran air lindi ke tanah.
“Ruangan bunker dibuat dengan tekanan udara negatif. Jadi udara dari luar masuk ke dalam, bukan sebaliknya. Udara itu kemudian dialirkan ke ruang pembakaran sehingga gas dari sampah tidak keluar ke lingkungan,” jelasnya.
Ia mengatakan, teknologi tersebut juga membantu proses pembakaran menjadi lebih efisien karena suplai oksigen tambahan diarahkan langsung ke tungku pembakaran.
Richard menambahkan, pembakaran sampah dilakukan pada suhu di atas 1.000 derajat Celsius untuk meminimalisasi senyawa berbahaya seperti dioksin dan furan yang selama ini menjadi kekhawatiran masyarakat.
“Emisi juga tidak langsung dilepas ke udara. Kami menggunakan sistem filtrasi bertahap seperti SCR, bag filter, dan karbon aktif dengan standar Uni Eropa yang lebih ketat,” kata dia.
Selain itu, PT SUS memastikan operasional PSEL tidak menggunakan air tanah warga. Kebutuhan pendinginan mesin disebut memanfaatkan air Sungai Tallo yang telah melalui proses riset dan mengantongi izin resmi dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).
“Kami tidak menggunakan air tanah. Semua kebutuhan pendinginan memakai air Sungai Tallo dan itu sudah melalui kajian, termasuk saat kondisi musim kering,” ujar Richard.
Richard menjelaskan bahwa PT SUS merupakan bagian dari SUS Environment, perusahaan asal Tiongkok yang telah banyak mengembangkan proyek waste-to-energy di berbagai negara seperti China, Vietnam, Thailand, hingga Bangkok.
Ia mencontohkan sejumlah fasilitas waste-to-energy di Jepang yang berdiri dekat kawasan urban dan permukiman warga dengan pengelolaan emisi yang ketat.
“Justru karena dekat pemukiman, pengelolaan polusi dan emisinya harus dirancang sebaik mungkin. Itu komitmen kami,” katanya.
Menjawab kritik soal minimnya pelibatan masyarakat, Richard menyebut pihaknya telah melibatkan warga dalam proses penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal). Bahkan, sejumlah perwakilan warga disebut pernah diajak langsung ke China untuk melihat operasional fasilitas PSEL milik SUS Environment.
Salah satu warga yang ikut dalam kunjungan tersebut, H. Arman, melihat langsung sistem pengolahan sampah berjalan tanpa bau maupun kebisingan.
“Saya melihat langsung di sana. Tidak ada bau, tidak ada suara yang mengganggu. Kami yang berangkat sekitar 22 orang menilai proyek ini layak dibawa ke Makassar,” ujarnya.
Ia juga telah menyampaikan kepada pihak PT SUS dan pemerintah bahwa lokasi proyek di Tamalanrea berada dekat permukiman warga. Namun menurutnya, pihak perusahaan memastikan proyek tersebut tetap aman.
“Yang paling kami khawatirkan itu banjir dan drainase. Tapi PT SUS menyampaikan akan membantu penanganan drainase sehingga wilayah Mula Baru dan Tamalanrea tidak lagi banjir,” katanya.
H. Arman juga menilai kepedulian sosial perusahaan sudah mulai dirasakan warga bahkan sebelum proyek dibangun sepenuhnya.
“CSR-nya sudah terasa sekarang. Kegiatan masyarakat sering dibantu. Apalagi nanti kalau sudah beroperasi penuh,” tuturnya.





